
"Eh, ngomong-ngomong soal baik, jadi kamu udah ketemu sama anaknya Pak David? Anaknya baik, kan?!"
"Ngg... baik, kok." jawab Lina ragu-ragu "Udah ketemu kan senternya, Pa? Yuk!"
***
"Selamat sore!"
Sebuah suara membuat keluarga Hartono yang berkumpul di ruang tamu menoleh. Lina memejamkan pandangannya. Di depan pintu sudah berdiri sosok pria paruh baya yang berpenampilan sangat rapi dan segar. Menggunakan kemeja putih, celana warna kulit, dan sepatu fantovel hitam. Di lihat sekilas dari penampilannya, orang-orang pasti langsung menyadari kalau pria ini orang penting.
Mata sipit pria ini, juga lesung pipinya, mengingatkan Lina pada seseorang...
Di belakang pria itu ada seorang pemuda. Penampilannya rapi, polo shirt resmi dengan celananya berwarna putih, tak ketinggalan sepatu kanvas hitam dengan noda tanah di sana sini dan aroma Bulgari Extrime. Lina sangat mengenal style ini.
"Chen Zhang?" Lina menatap tak percaya.
"Pak David Indrajaya!" ayah Lina langsung berdiri dan menyalami pria paruh baya yang flamboyan itu dengan hangat, seperti teman dekat yang sudah lama tak berjumpa.
"Mari, silahkan duduk! Kenapa mendadak? Oh hai, Candra. Lama kita nggak ketemu, ya. Makin mirip aja sama papamu, Can."
Lina langsung menyadari, mata sipit dan lesung pipi pria itu persis punya Chen Zhang.
Chen Zhang tersenyum kaku, tangannya menjabat Pak Hartono. "Hai, Om. Ya, lama nggak ketemu."
"Ya, saya dengar dari Pak Kamto kandang Unggul Maju kebakaran, persis setelah tour selesai. Makanya Lina nggak sampai ikut closing ceremony tour. Padahal Candra sudah bilang ke saya kalau dia berteman dekat dengan anaknya Pak Hartono selama di Hong Kong. Saya mengucapkan turut berbela sungkawa sedalam-dalamnya, Pak. Unggul Maju kan salah satu mitra bisnis kami yang paling lama. Saya kaget sekali dan nggak mengira kok sampai terjadi periatiwa seperti ini."
"Ya, terima kasih Pak David. Nggak apa-apa, namanya juga musibah, mana tahu datangnya kapan."
Mereka berenam duduk di ruang tamu. Pak David dan papanya mengobrol dengan akrab, begitu juga ibu dan neneknya. Kedatangan Pak David sore itu memberikan dukungan moril pada keluarganya. Jarang bos mau turun langsung ketika mendengar mitra bisnis mereka tertimpa musibah.
Sementara itu, Lina hanya diam di tempat duduknya. Dia masih kaget dengan kedatangan Chen Zhang alias, Candra Indrajaya sore ini. Di sampingnya, cowok itu cuma tertunduk memandangi jempol kakinya sejak tadi.
"Oh ya, kata Candra, Lina baru saja ketemu sama nenek buyutnya, ya? Can, katanya ada seuatu yang mau kamu berikan?" Pak David menyenggol bahu Chen Zhang.
Chen Zhang yang tadinya larut dalam pikirannya tersadar.
"Ha? Oh ya, Pa. Ini.." Chen Zhang menyerahkan satu tas besar kepada nenek Lina.
Bu Anita yang membantu neneknya menerima tas besar itu mengernyitkan. "Apa ini, Candra?"
"Oh, itu foto-foto keluarga kalian di Hong Kong, yang waktu itu sempet kita mengabadikan momen untuk foto-foto."
Pak David yang tampao penasaran, ikut bergabung melihat foto-foto yang di ambil putranya. Chen Zhang sangat apik mengabadikan foto-foto di toko kelontong sederhana itu. Semua foto di ambil dengan gaya artistik. Pak David jadi bisa merasakan suasana haru dan bahagia yang terpancar di lembaran foto-foto berukuran postcard tersebut. "Seharian kemarin Chen Zhang pamit mau mencetak foto. Anak itu pergi dari pagi sampai malam. Saya sendiri baru tahu foto yang di cetak sebanyak ini."
Ketika semua orang sedang sibuk melihat-lihat foto, Chen Zhang menggeser duduknya lebih mendekat ke Lina. "Ling, aku sebenernya tadi mau berangkat sendiri ke sini, tapi papa minta ikut. Kamu jangan berpikir kalau aku nggak ada nyali buat nemuin kamu dan minta maaf sendiri, ya."