
"Makasih Chen, kamu mau difotoin juga nggak? Sini aku fotoin!" Lina menawarkan diri dengan semringah. Berkat Chen Zhang, akhirnya ada juga yang mengabadikan momen fotonya disini. Meskipun cuma seiris tipis, St. Paul Ruins tidak kehilangan kemegahannya. Saras pasti mupeng berat!
***
"Kalau foto di depan St. Paul Ruins memang harus turun lima belas anak tangga dulu baru nanti katedralnya keliatan semuanya. Kamunya juga jelas" terang Chen Zhang. "Kamu bisa fotoin aku kan?"
"Hey, kalian mau foto berdua?" Pak Kamto yang baru muncul entah dari mana, menawarkan diri sambil tertawa.
"Ayo sini. Mumpung aku nggak dikejar-kejar yang lain buat di mintain tolong"
"Boleh tuh, ayo Ling!" Chen Zhang berdiri disamping Lina. Cowok itu tampak rileks berpose di samping Lina.
"Lebih deket lagi dong!" kata Pak Kamto.
"Begini Pak?" Lina merasakan sensasi seperti tersengat listrik di sekujur tubuhnya ketika tangan Chen Zhang tersampir dibahunya, wajahnya mendadak panas.
"Pak Kamto tertawa. "Oke banget, lebih mesra juga boleh. Satu.. dua.. tiga, Sip!"
"Sudah?" tanya Chen Zhang sambil melepaskan tangan dari bahu Lina. Masih dengan santainya, Lina bernapas lega saat tangan itu akhirnya lepas. Chen Zhang sepertinya tidak menyadari perbuatannya barusan membuat Lina mendadak sesak napas.
"Sini Pak, gantian fotonya" Chen Zhang mengambil foto Pak Kamto.
"Gimana nih bagusnya?"
"Di situ bagus" Chen Zhang mengacungkan jempol, ditekannya tombol shutter. Setelah itu beberapa kali Chen Zhang menyuruh Pak Kamto ganti gaya.
"Pak ke kiri sedikit, kakinya naik satu biar keren. Mulutnya juga dibuka sedikit supaya seksi"
"Heh, bocah!" Lina geli melihat keakraban mereka. Chen Zhang sepertinya tipikal cowok yang ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja.
Lina beruntung karena tidak lagi merasa terkucil diantara rombongan tour yang mayoritas orang berumur ini. Dewi dan Rita tampaknya tidak bisa diharapkan menjadi teman main selama liburan ini.
"Kamu tahu nggak asal nama Macau?" tanya Chen Zhang saat mereka tiba di Kuil A-Ma. Kuil dewi laut yang dihormati masyarakat setempat.
"Nggak tahu tuh, Ceritain dong Chen"
"Kan tadi dijelasin sama A Yung. Kamu tidur ya?" kata Chen Zhang geleng-geleng.
"Kalau udah dijelasin, kenapa kamu tanya lagi? Kamu mau ngetes aku?"
Chen Zhang terkekeh. "Jutek banget sih. Oh ya, jadi kamu anak tunggal Pak Handoko?"
"Nggak nyambung banget sih pertanyaannya."
"Kamu bisa nanya sama A Yung lagi soal legenda Macau. Aku yakin dia dengan senang hati mau nyeritain lagi kok" Chen Zhang meringis jail.
"Ya, aku anak tunggal Pak Handoko. Kamu kenal Papa?"
"Kenal, aku beberapa kali ketemu kalau ada meeting sama Papamu. Kamu tahun ini SMA kelas tiga ya berarti?"
"Udah kuliah kok, kenapa? Mukanya masih kayak anak SMA ya?"
"Baru juga lulus kemarin, ya kelihatan lah" Chen Zhang mencibir. "Kamu udah keterima di kampus mana? Ambil jurusan apa?"
Lina terdiam, seharusnya dia langsung menghindari topik ini. Pertanyaan pribadi memang nggak jauh-jauh dari ini, Lina lalu menjawab lirih "Peternakan."
"Wow! Goodjob! Dimana? Kapan mulai masuk? PMDK?" Chem Zhang bertanya antusias. Lina nyaris memutar bola mata.
"Kalau sekarang buka PMDK, tapi SNMPTN jalur undangan."
"Pas banget!" Chen Zhang terpukau. Benar-benar kagum tulus tanpa basa-basi. Lina merasa sebaliknya, kecewa.
Chen Zhang terdiam beberapa saat. "Kenapa keliatan nggak minat gitu Ling? Tenang aja, kuliah tetep nyenengin kok kayak masa SMA. Kamu bakal ketemu temen-temen baru disana, yang lebih beragam, kompleks, dan seru. Nggak perlu khawatir"
Bukan sesederhana itu...
"Nyasar," kata Lina singkat.
Chen mengangkat alis. "Apa?"
"Ya ambil jurusan ituu.. kesasar." Lina menunduk, wajahnya muram. "Aku nyasar"
Alis Chen Zhang kini berkerut, kemudian menyeringai. "Kamu kesasar ditempat yang tepat kali, Ling!"
Mungkin Chen Zhang belum pernah merasakan bagaimana berdiri diantara passion yang masa depannya masih meraba-raba dan masa depan yang sudah pasti cerah tapi tidak pernah membuat tertarik. Mulut Lina terbuka hendak mengatakan sesuatu, tapi kemudian Lina menelan kalimatnya lagi. Bulat-bulat.
Tak semua orang mengerti.
"Samko Tour!" Fenita mengibarkan bendera merah, tanda waktu telah habis. "Ayo kita ke Venetian! Menikmati pemandangan ala Vanesia dan Italia. Kita bakal ngerasa siang terus loh di sana, tertarik kasino? Kita bisa coba di sana!"
"Chen, ayo balik ke bus" Lina berbalik, Berjalan cepat menuju tempat duduknya.
Sekuat apapun menghindar. Tetap saja hal itu selalu menjadi topik obrolan, bisa nggak sih orang-orang tidak mencampuri urusannya?.
***
Ponsel Lina berdering. Segera dia mengangkatnya, berharap Papanya yang sedang dia pikirkan sejak tadi menelepon. Biasanya batin anak dan orangtua suka nyambung, apalagi kalau anaknya lagi kangen begini. Ini pertama kalinya dia jauh dari orangtua, sendirian. Namun wajah gadis itu langsung masam saat melihat nama yang tertera pada panggilan skype.
"Ya?" Lina melihat wajah seseorang yang sudah menghianatinya di layar ponselnya. Tapi Lina sudah bertekad tidak terpengaruh oleh apapun yang di ucapkan oleh Brian kali ini.
Wajah Brian tampak kikuk. "Hay, Ling" hanya itu yang keluar dari bibir Brian. Itu pun dengan suara lirih.
"Ya."
"Kamu lagi liburan ya?"
"Hmm"
"Aku nggak sengaja lihat skype kamu online, jadii... " Lina membiarkan Brian menggantung kalimatnya.
"Kamu.. apa kabar Ling?"
"Nggak usah basa-basi! Bri, kita udah selesai."
"Tapi Ling.. "
"Panggil aku Lina!"
"Ling, dengerin dulu penjelasanku. Aku mau minta maaf.. "
Klik! Sambungan terputus. Lina memandangi ponselnya, pantas saja skype-nya tersambung. Ternyata ada sinyal Wifi yang tertangkap ponselnya.
Minta maaf? Segampang itu apa? Enak aja!
"Aduh, galak bener cah ayu" Lina menoleh, di belakangnya Bu Heni mesam-mesem.
"Yang ini harus digalakin Tante" ucap Lina sambil memasukan lagi ponsel ke saku. "Kalau nggak saya yang rugi."
Saat ini mereka ada di terminal feri Macau, menanti Tourbojet tiba. Sore ini setelah berkeliling Macau, mereka akan menghabiskan dua hari dua malam di Shenzhen.
Shenzhen merupakan surga belanja di China. Kota pertama dan satu-satunya yang paling sukses menjadi Special Ekonomic Zone di China. Oleh karena itu, banyak pabrik industri dan teknologi canggih didirikan di Shenzhen. Mulai dari pabrik ponsel, kamera, modem, sampai laptop.
Itulah sebabnya barang disini murah-murah, pemandu wisata Samko Tour selama di Shenzhen, Pak Tong, menawarkan tiruan ponsel canggih dengan harga yang miring. Kelewat miring.
"Cuma tujuh ratus mata uang! Tak sampai itu dua juta rupiah. Kalau diluar, tidak kasih mereka itu harga segini. Potonglah kuping saya punya" kata Pak tong dengan bahasa Indonesia yang amburadul. Dia membagikan ponsel di tasnya keseluruh penumpang.
"Kamera bagus. Awet kita punya barang, harga murah. Ambil langsung dari gudang punya ponsel itu. Ya, bos saya bolehkan saya jualan di bus. Jadi lihat-lihat dulu saya punya barang."
Lina menimang-nimang replika ponsel keluaran terbaru yang barusan dibagikan Pak Tong. Bentuknya benar-benar mirip aslinya. Ponsel pintar generasi terbaru yang Indonesia pun belum launching.
Tapi sekali lihat, Lina tahu ini barang abal-abal. Sekali pun dimensinya serupa, tapi berat dan kecerahan layarnya tidak bisa menipu.
"Sambil lihat-lihat, saya cerita. Saya punya keluarga. Papa asli subang, Jawa Barat. Ibu saya punya asli semarang. Ada kita punya sejarah kenapa bisa sampai sini itu karena ada PP No.10 yang dikeluarkan Indonesia punya tahun 1959. Makanya kita orang balik kemari, makanya saya bisa bahasa Indonesia walau sedikit belepotan. Cukup buat pandu-pandu tour begini, saya pandu tour sepuluh tahun."
Sebagian mendengar sesi curahan Pak Tong dengan seksama, penuh empati. Beberapa diantaranya tampak bisa merasakan bagaimana hancurnya terpisah dengan keluarga secara paksa karena melihat mereka harus pulang ke tanah asal dan tidak kembali. Sisanya masih mengamati dengan takjub ponsel tiruan di tangan mereka.
"Kalau ini dibuat gaya doang, nggak akan ada yang tahu kalau ini aspal!" kata Mas Yofan. "Gita mau beli satu buat dirumah?"
"Aduh, nggak mau! barang palsu dibeli" Mbak Gita langsung tidak setuju. Di genggamnya dompet hijau dipangkuannya kuat-kuat. Seakan takut isi dompet itu berkurang, sebentar lagi dia akan sampai ditempat belanja impian Shenzhen. Surganya barang-barang murah, asal pintar nawar. Namun ponsel aspal tidak termasuk daftar belanjanya.
"Lumayan kali buat main game Git"
"Nggak, nggak!"
Mas Yofan tampak tidak puas. Di Indonesia tidak ada barang aspal sehalus ini. Kalau cuma buat gaya, ponsel ini lebih cari cukup. Tapi apa daya.