
Ketika semua orang sedang sibuk melihat-lihat foto, Chen Zhang menggeser duduknya lebih mendekat ke Lina. "Ling, aku sebenarnya tadi mau berangkat sendiri ke sini, tapi papa minta ikut. Kamu jangan berpikir kalau aku nggak ada nyali buat nemuin kamu dan minta maaf sendiri ya."
***
"Kamu mau minta maaf soal apa?" Lina pura-pura tidak tahu.
"Buat..." Chen Zhang tiba-tiba tergagap.
"Buat semua kebohongan kamu selama ini?" pandangan Lina beralih dari Chen Zhang ke keluarganya yang tampak menyukai album foto yang di berikan Chen Zhang.
Meskipun Chen Zhang sudah membohonginya, tapi kemunculan pria itu selalu pada saat yang tepat, seperti kiriman Tuhan. Lina lalu tersenyum. Lagi pula entah mengapa rasanya Chen Zhang bisa membuat dirinya mudah percaya dan membuatnya tak sanggup marah lama-lama.
"Nggak apa-apa kok, Chen. Aku nggak marah, aku cuma merasa di bohongi. Aku benci pembohong, mengembalikan kepercayaan buatku itu paling sulit, Chen. Sekali aku merasa di bohongi rasanya bakal susah ngelupain. Tapi nggak apa-apa. Justru aku yang minta maaf, aku udah banyak ngerepotin kamu selama di Hong Kong."
"Aku nggak bermaksud bohong sama kamu tapi.. ya buat apa kamu perlu tahu aku anak siapa? Maksud aku itu.. sama sekali nggak penting.. eh bukan gitu, aku cuma.. nggak suka di ekspos." Chen Zhang pernah mengatakan hal yang serupa ketika mereka di Splendid China. Lina masih ingat percakapan sore itu. "Ya, Ling. Aku nggak suka orang jadi memperlakukanku berbeda karena tahu aku..." Chen Zhang memandang ayahnya. "Aku cuma pingin kamu tahu soal aku ya, aku aja.."
"Tapi kenapa kamu pingin aku tahu tentang kamu? Apa itu penting buat kamu?"
"I-iya, itu penting." Chen Zhang tergeragap lagi. Wajahnya memerah. Chen Zhang tidak tahu harus dari mana mulai mengatakan isi hatinya, bahwa sejak awal bertemu dia sudah ingin menjadikan Lina miliknya. Tanpa embel-embel apa pun. Tanpa perlu tahu Lina berasal dari mana, anak siapa, atau punya apa. Seandainya dia bukan anak Hartono Budiawan pun, Chen Zhang tidak akan mempermasalahkan. Dia sudah jatuh cinta pada Lina sejak lensa kameranya menangkap sosok Lina yang sedang duduk termenung di bangku besi hitam. Di Juanda. Meskipun baru seminggu mengenal dekat gadis itu, tapi rasanya dia sudah mengenal Lina sejak berabad-abad lalu.
"Jadi, kamu mau ke Munich?" Lina memecah keheningan.
Chen Zhang menangkap Lina. Ia tidak menduga Lina ternyata sudah mendengar hal yang selama ini menjadi ganjalannya untuk mengutarakan perasaan ke gadis itu. "Ngg... Ya jadi. Kamu.. jadi ke Bogor?"
Lina mengangguk sambil tersenyum manis. "Ya, aku jadi daftar ulang di Bogor. Berangkat minggu depan."
"Apa Ling?" Mamanya langsung mencondongkan tubuhnya. "Barusan kamu bilang mau daftar ulang di Bogor?"
Lina mentap mamanya. "Iya, Ma." Mamanya terkejut luar biasa. Rasanya beliau susah percaya sang putri yang keras kepala itu bisa mengubah pendiriannya. "Kamu serius?"
Lina mengedarkan pandangan. Menatap papanya, mamanya, neneknya, kemudian foto keluarganya di Hong Kong. Dia nggak akan mundul lagi untuk memutuskan ini.
"Pasti!."
***
Chen Zhang melempar kerikil di tangannya. Dia bersama Pak Kamto di tepi danau. Melihat rimbunnya pepohonan dari kejauhan.
"Lina sudah berangkat ke Bogor, Chen?" tanya Pak Kamto memecah keheningan.
"Sudah, tadi pagi."
"Kamu nggak ikut mengantar?"
"Besok pagi aku harus berangkat ke Munich."
"Jadi sampai sekarang kamu juga belum mengakui perasaanmu ke Lina?"
Chen Zhang memasukkan tangannya ke saku celananya. "Dia bilang dia benci pembohong, Pak. Sekalinya di bohongi dia akan susah melupakan dan butuh waktu lama untuk mengambalikan kepercayaannya."