A Week Long Journey

A Week Long Journey
Prolog



Gadis berwajah oriental itu duduk di bangku besi bercat hitam yang terasa keras di punggungnya. Bandar Udara Internasional Juanda sudah ramai meskipun waktu masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Ini pertama kali dia sampai di-Juanda sepagi ini. Bandar udara itu memang tak pernah mati dan selalu ramai.


Cahaya matahari pagi menerobos sela-sela poninya, membuat matanya sedikit menyipit karena silau. Di daerah dekat laut seperti Sidoarjo ini, matahari pagi akan terasa lebih cepat-cepat.


Gadis itu Lina Budiawan, menatap orang berlalu lalang di hadapannya, beberapa terlihat mengantuk sambil menyeret koper, atau terburu-buru menuju pintu keberangkatan, ada juga yang terlihat enggan, dan beberapa yang lain melepas kepergian dengan tangisan dan senyuman.


Ya, Bandara merupakan persinggahan bagi mereka yang memiliki tujuan. Orang-orang yang tampak sibuk itu hendak pergi ke tempat yang mereka tuju, untuk suatu hal. Entah terlihat enggan atau bersemangat, mereka telah mengetahui alasan yang membawa mereka kesini.


Tak seperti lina. "Untuk apa sebenernya aku ada disini?" tanyanya dalam hati. Yang jelas dia tak ingin pergi dengan alasan dan cara seperti ini. Apakah dia satu-satunya orang yang tidak tahu alasan berada disini? Duduk di bangku keras disudut bandara, menunggu keberangkatan yang seharusnya menyenangkan. Liburan keluar negeri selama satu minggu memang harusnya terasa menyenangkan bukan?


Untuk gadis tujuh belas tahun sepertinya, masa-masa penuh keceriaan itu sudah lama berakhir. Hidupnya terasa hambar, tak memiliki tujuan. Tapi dia tak bisa memilih. Segalanya sudah di tetapkan dan dia tak punya alasan untuk menolak.


Bagus, batinnya. Meskipun dia tak yakin kamera itu terarah padanya. "Semua orang memang menungguku berbuat kesalahan. Abaikan saja, siapa tahu bisa menjadi suatu yang bisa di ceritakan. Katakan saja bahwa mengejar impian dan passion di bidang yang sama sekali berbeda dengan keluargamu itu salah satu perjuangan yang bodoh dan sia-sia. Tapi akan aku buktikan kalau itu salah!"


"Mana, nih pengumuman dari Pak Aji? Kok belum kedengeran? Jangan-jangan microphone lima menit yang lalu" Saras bertanya dengan nada tak sabar. Gadis yang biasanya ceria dan energik itu kini duduk gelisah di bangkunya. Kucir kudanya melorot, anak-anak rambutnya menjuntai keluar, tapi dia tidak menyadari. "Tenang, mungkin sepuluh menit lagi Sar" Fiona yang duduk di belakang Saras menjawab kalem. Namun gurat kegelisahan pun tak dapat di sembunyikan dari wajah gadis berkacamata itu.


Hari ini adalah hari yang di nantikan siswa-siswi SMA se-Indonesia, hari pengumuman kelulusan Ujian Nasional pertengahan bulan April lalu.


SMA Dharmawangsa yang terkenal disiplin, khusus hari ini memberlakukan peraturan bagi seluruh siswa kelas tigas untuk wajib masuk, setelah hari bebas yang tidak mewajibkan mereka ke sekolah selama dua minggu. Hari ini kepala sekolah sendiri yang akan membacakan pengumuman hasil UN melalui microphone dari ruangan nya yang terhubung ke speaker setiap kelas.


"Semoga lulus semua satu sekolah!" kata Saras penuh harap. Kedua tangan nya tertangkup di depan dada. "Habis ini tinggal menunggu pengumuman SNMPTN jalur undangan. Nggak lama lagi kan pengumuman nya? Semoga lolos! Lulus dan lolos"