A Week Long Journey

A Week Long Journey
Bab Tigalima



"Eerr... Sebenarnya aku nyari alamat ini, Ayi Jaya bilang memang agak jauh dari sini. Tapi aku nggak nemuin stasiun MTR Mong Kok untuk ke sana." Lina berusaha berbicara seramah mungkin, namun sepertinya Chen Zhang tidak tertarik untuk mengubah bahasa tubuhnya yang kenyiratkan ketidakpedulian. Tidak seperti biasa, berada di dekat Chen Zhang kali ini membuatnya tidak nyaman.


***


Chen Zhang membaca kertas yang di sodorkan Lina. Dia tahu alamat ini, dia sudah nyasar puluhan kali di Hong Kong sendirian sebelum ini. Jadi dia masih hafal tempat-tempat yang terpaksa dia lalui waktu itu. "Kamu harus turun ke stasiun East Tsim Sha Tsui. Setelah itu jalan beberapa blok, baru ketemu jalan ini.


Lina menerima kertas yang di sodorkan Chen Zhang kembali. "Eh ya, Ayi Jaya memang bilang begitu."


"Okey. Kamu cuma harus jalan terus sampai Argly Street. Belok dua blok. Ada stasiun MTR Mang Kok di situ. Naik aja, MTR itu bakal bawa kamu ke East Tsim Sha Tsui." Chen Zhang berkata lalu berbalik arah, kembali ke hotel. "Good luck."


Lina terhenyak. Sebagian hatinya berharap Chen Zhang akan menemaninya, banyak yang ingin dia katakan pada Chen Zhang dan mungkin selama perjalanan mereka bisa mengobrol. "Kamu.. mau balik ke hotel?"


"Ya." Chen Zhang menjawab sambil berbalik.


Lina ragu. "Temenin aku dong, Chen. Aku baru pertama kali naik MTR di Hong Kong. Aku nggak bisa telepon siapa pun karena aku nggak beli kartu perdana sini dan aku belum isi pulsa kartu Indonesia ku."


Ada kelegaan yang menyusup hati Chen Zhang, Lina yang berharap menemaninya sampai Mang Wui Man. Perlahan raut wajah dingin Chen Zhang sedikit mencair. Dia berharap setelah ini Lina tak pernah memintanya untuk tidak mencampuri urusan gadis itu. Karena ternyata, dia memang tidak bisa untuk tidak memedulikan Lina.


"Ikut aku."


"Chen," Lina berusaha menjajari langkah Chen Zhang yang lebar-lebar. "Terima kasih, ya."


Chen Zhang tidak menjawab dan terus berjalan.


***


Sesuai yang telah di gambarkan Ayi Jaya, ternyata lokasi itu lumayan jauh dari hotel mereka. Lina dan Chen Zhang harus naik MTR lalu naik bus sebelum sampai di daerah yang tersebut.


"Tempatnya di sini?" tanya Lina setelah turun dari bus.


"Jalan lagi beberapa blok dari sini." jawab Chen Zhang singkat.


Chen Zhang masih dingin. Sepanjang perjalanan yang hampir satu jam, mereka berdua tak saling berbicara. Chen Zhang hanya mengajaknya berbicara kalau mereka harus turun MTR atau naik bus, selebihnya Chen Zhang sibuk sendiri dengan kameranya, mencari obyek foto yang menarik, dan berkali-kali menekan tombol shutter. Hari ini tak satu pun bidikan kamera Chen Zhang yang mengarah pada Lina.


Lina menghela napas lalu menggigit bibir bawahnya. Dia tak tahu harus mulai bicara dari mana supaya kelakuan ini mencair. Lina tahu apa yang di lakukannya pasti membuat Chen Zhang sangat tersinggung. Hong Kong adalaj tempat yang baru baginya dan pencarian alamat ini membuatnya serasa bertualang. Seharusnya petualangan kali ini menyenangkan, tapi sikap Chen Zhang membuat ini semua menjadi suram.


Mendadak tak jauh dari tempat mereka berjalan, dari tempat mereka berjalan, dari arah yang berlawanan, serombongan anak muda bermain skateboard di trotoar dengan kecepatan tinggi. Rombongan anak muda itu meluncur dengan kencang tak peduli banyak pengguna jalan yang jadi pontang-panting menghindari ulah mereka bisa mencederai siapa saja yang menghalangi jalan.


"Ugh." Lina terimpit di antara tembok dan tubuh Chen Zhang. Rombongan skateboard itu lewat dengan brutal sambil berteriak-teriak senang.


Lina nyaris tak bisa bernapas, bukan karena dia terimpit di antara tubuh Chen Zhang dan dinding, tapi selama beberapa detik itu Lina merasakan jantungnya berdetak begitu cepat sampai rasanya nyaris meloncat begitu saja melalui tenggorokan. Chen Zhang mendekap dirinya begitu cepat sampai dia bisa merasakan kehangatan dada Chen Zhang di pipinya.


"Kamu nggak apa-apa, Ling?" Chen Zhang memecah keheningan. Rombongan berandal itu sudah lewat.


"I-iya." Lina akhirnya menangkap napasnya kembali. "Terima kasih."


"Oke."


Ketika Chen Zhang akan melepaskan genggaman tangan mereka, Lina menahannya. Dia tak ingin Chen Zhang jauh dari ini. Perlahan Lina merasakan genggaman tangan Chen Zhang mulai mengerat. Chen Zhang balas menggandengnya, dengan genggaman yang lebih erat dari pada yang Lina duga.


Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan dalam diam, larut dalam pikiran masing-masing. Sama-sama tak mengerti harus mulai dari mana menyuarakan hal-hal yang sudah berkecamuk di kepala.


Tiba-tiba langkah Chen Zhang terhenti.


"Di sini tempatnya? Mang Wui Man Street 30-31C." Lina mendongak.


Di depannya ada toki kelontong bercat merah dan hijau. Cat dindingnya sudah kusam dan cat di pintunya sudah banyak yang terkelupas. Sebuah spanduk berwarna putih yang sudah menguning tergampang di depan toko, sebagai pengganti papan nama sekaligus pelindung dari terpaan sinar matahari.


Bangunan bertingkat itu nyaris tenggelam diantara gedung-gedung pencakar langit di sekitarnya. Tempat ini lebih cocok disebut museum suram dari pada toko.


"Shanghai Star." Lina membaca tulisan yang ada di spanduk lusuh itu. "Sepertinya memang ini tempatnya, Chen."


"Ini toko apa sebenernya?" Chen Zhang memperhatikan isi toko yanh tidak dapat terdefinisikan masuk spesifikasi toko apa. Rak-raknya yang berdebu berisi perkakas rumah tangga bercampur beberapa jenis buah-buahan, peralatan listrik, dan sandal jepit.


"Semacam... warung. Kayaknya, sih." jawab Lina ragu sambil memegang rimpang kunyit yang di letakkan di keranjang bumbu di depan toko. Lina heran dengan ukuran kunyit yang begitu besar. Di Indonesia yang Lina cuma tahu kunyit sebesar jari jempol, tapi di sini kunyit sebesar jahe dan jahenya sebesar wortel.


"Hei!!"


Lina dan Chen Zhang sama-sama terlonjak. Dari dalam toko muncul wanita gemuk yang memakai celemek dan sandal tidur, tangannya mengacung-acungkan gagang sapu. Wanita itu tampak marah melihat barang dagangannya di pegang-pegang sembarangan, dia terua mengacung-acungkan gagang sapu ke arah Lina sambil berkata dengan nada tinggi dalam bahasa Mandarin. Lina tidak mengerti artinya, tapi yang jelas di lihat dari nimiknya, wanita itu sangat marah.


"I am sorry." ucap Lina sambil meletakkan kunyit itu kembali.


Wanita berusia sekitar 35 tahunan itu mengusir Lina dan Chen Zhang dengan berteriak-teriak. Tangannya mengibas-ngibas seperti ngusir ayam-ayam yang sembarangan masuk rumah orang.