
"Jangan dengerin omongan Viona. Sekolah yang tinggi dulu baru kamu mikirin jodoh" Ayi Marcella menimpali, tampak tidak menyetujui gagasan Ayi Viona.
***
Kini di kelilingi mereka banyak yang bermata sipit dan perkulit putih lalu lalang dengan bahasa yang tidak Lina mengerti. Bahasa Mandarin terdengar tidak jelas dan pengucapannya sangat cepat. Lina hm nya mengandalkan kemampuan bahasa Inggrisnya yang lumayan. Itu pun kalau yang diajak bicara mengerti. Kebanyakan sih tidak terlalu fasih berbahasa Inggris.
"Rombongan Samko Tour!" Fenita mengibarkan bendera merah di salah satu sudut ruang tunggu. "Saya akan bagikan paspor dan tiket kapal feri Tourbojet menuju Macau ya! Kita akan berangkat ke Macau jam dua sore. Mari berkumpul. Sesuai jadwal yang sudah dibagikan sebelumnya, kita akan berada di Macau selama dua hari satu malam"
Ada kurang lebih sembilan orang yang merapat ke tempat Fenita berdiri. Ayi Viona, Ayi Marcella, dan Ayi Jaya merupakan tiga peserta tertua. Usia mereka sekitar enam puluhan dan kemana-mana selalu bertiga, sama-sama tidak bisa diam dan sama-sama rumpi. Lebih cocok dijuluki Tiga Diva. Lina tertawa dalam hati. Berikutnya ada dua pasang suami istri yang sampak asing. Yang satu seumuran orangtuanya dan satu lagi pasangan muda.
"Eh dari tadi saya perhatiin ketawa ketiwi sendiri" Lina menoleh, di sebelahnya berdiri Pak Kamto. Beliau supervisior Jaya Raya yang ditugaskan untuk ikut tour ini. Papanya berkenalan dengan Pak Kamto saat mereka baru sampai Juanda tadi pagi. Usia pria itu sekitar empat puluh tahunan.
"Pak Kamto merhatiin aja" Lina tertawa ramah. "Gimana Pak Kamto? Tugas kantor kali ini bikin capek, nggak?"
"Capek sih, kalau keseringan. Tapi kapan lagi kerja sambil jalan-jalan" Pak Kamto terkekeh. Fenita menata tumpukkan paspor di tangan, lalu memeriksanya satu-satu. "Saya akan mengecek peserta satu-satu, ya. Yang baru disebut namanya, tlolong maju"
Lina memperhatikan Fenita dengan seksama. Saat pemandu wisata berponi tersebut mengabsen peserta tour dengan paspor di tangan, saat itulah kesempatan Lina untuk menghafalkan wajah-wajah dan nama peserta tour lain yang akan menghabiskan waktu di Hong Kong bersamanya. Dia seharusnya segera berbaur dengan lima belas lainnya, agar tak mengenal Tiga Diva itu. Lina tak mungkin menghabiskan waktu bersama tiga orang nenek-nenek itu terus menerus tanpa bersosialisasi dengan yang lain. Dengan mengenal lima belas orang baru dan menghabiskan waktu 24 jam selama tujuh hari, seharusnya Lina lebih bisa menemukan cara baru untuk mendeskripsikan karakter di novelnya nanti.
Lina tersenyum dengan ide brilian yang muncul di kepalanya barusan. Inspirasi kan bisa datang dari mana saja.
"Pak Yudis Tarmadi dan Bu Heni Sarmitha" Fenita memanggil untuk yang pertama kali.
Sepasang suami istri yang seumuran orangtua Lina tadi maju. Rambut pria bernama Pak Yudis itu selalu terlihat mengilat berkat minyak rambut yang dia pakai. Lina juga mencatat bahwa Pak Yudis pria terjangkung, pendek, dan agak gemuk, rambut ikal mengembang. Bibir tipis Bu Heni yang mungil disapu lipstik warna merah menyala. Pasangan pertama yang di panggil Fenita ini peternak ayam potong di daerah Banyuwangi, Lina ingat obrolan singkat mereka dengan ayahnya yang tidak sengaja dia curi dengar.
"Yofan Adi Surya dan Gita Permata Sari"
Kali ini pasangan muda dibelakang Pak Yudis dan Bu Heni maju kedepan. Lina mengingat ingat bahwa Bu Gita adalah wanita yang lebih aktif dibanding Pak Yofan. Pak Yofan baru berbicara setelah menatap istrinya, seakan meminta persetujuan.
Fenita tampak tersenyum dan mengangguk singkat. "Pak Sukamto" Fenita memberikan paspor pada Pak Kamto. "Ayi Viona Darmaji, Ayi Marcella Tandoyo, dan Ayi Wijaya Sutina"
Tiga Diva maju ke depan.
"Eh kemana ya keluarga Pak Tanu?" Fenita tampak celingukan.
Tak jauh dari tempat mereka berkumpul. Muncul rombongan keluarga kecil yang terdiri atas ayah, ibu, dan gadis kecil berusia sekitar tiga tahun dengan rambut lurus dan poni diatas alis. Mereka datang terburu-buru, kecuali gadis kecil yang tampak riang di gendongan sang ayah.
"Saya kira kemana, nggak tahunya sudah berkumpul di sini! Saya barusan antar Caca pipis" Pak Tanu yang terlihat sudah terlalu tua untuk memiliki anak berusia tiga tahun, menjelaskan kepada Pak Kamto.
Peternak ayam petelur dari Surabaya itu memiliki anak bungsu yang sangat lincah dan banyak mau. Sejak di dalam pesawat, orangtuanya sudah kewalahan karena anak itu ingin mencoba semua minuman yang disiapkan pramugari dan tak berhenti menyanyi.
"Syukurlah." Fenita memberikan paspor untuk keluarga Pak Tanu sambil mengembuskan napas lega. Rombongan hilang adalah momok pemandu wisata seperti dirinya, "Disimpan baik-baik Pak"
"Sudah kumpul semua kan ini pesertanya?" Tanya Pak Yudis.
Lina memperhatikan rombongan tournya yang tampaknya tidak akan bertambah. Ternyata betul dugaannya sejak awal, dia peserta termuda. Tidak ada peserta seusianya. Fenita mungkin masih bisa diajak mengobrol, tapi itu hanya terjadi jika pemandu wisata berperawakan mungil tersebut memiliki waktu luang di sela-sela istirahatnya. Lina membuang napas sedikit kecewa. Selamat datang di dunia orang berumur Ling.
"Belum Pak, Masih tiga orang lagi" Jawab Fenita sambil mengecek paspor di tangan. Lina menautkan alis. "Dewita Sari... mana, ya?"
Seorang gadis seumuran Lina dengan rambut panjang sebahu mengangkat tangan, sepertinya baru saja datang setelah membeli beberapa jus kaleng di mini market yang sekarang di tentengnya. Kulitnya sawo matang seperti kulit Pak Kamto.
Lina cukup terkesima, cewek eksotis ini sangat stylish. Kacamata Ray Ban hitam lebar menghiasi wajahnya. Rambut panjangnya yang ikal dikuncir kuda, di lehernya tergantung kamera SLR, celana jins birunya yang sobek di beberapa tempat sangat cocok dengan kemeja vintage kedodorannya yang berwarna merah. Gelang etnik warna-warni menghiasi pergelangan tangan kanan dan kiri gadis cool itu, memberi kesan segar sekaligus edgy.
Seketika saja, Lina langsung tidak PD dengan pakaiannya. Dibandingkan cewek yang modis itu, Lina lebih mirip orang kampung yang nyasar ke Hong Kong. Dia cuma memakai skinny jeans warna biru, kaos polos warna hitam, tas ransel warna hitam dan sepatu Reebok warna hitam orange. Tanpa embel-embel kacamata, gelang, atau eyeliner. Asli, standar abis! Lina nggak kepikiranbuat gaya sama sekali karena di kepalanya, yang penting bisa jalan-jalan. Titik.
"Dewita, temannya mana?" tanya Fenita.
"Rit." panggil Dewita sambil menoleh singkat ke arah perempuan di sisinya. "Paspor kamu tuh"
Cewek yang juga sebaya dengan Lina muncul mengambil paspor. Cewek semodis Dewita itu lebih pendek, berkacamata, dan kurus. lengginh stripe-nya dibalut jins hot pants hitam menunjukkan pahanya yang lurus tanpa tonjolan lemak. Kaos putih yang dia kenakan membuat penampilannya casual yet stylish.
Lina tambah nggak PD. Sekalinya ada yang seumuran, tapi penampilan mereka sama sekali tidak sederajat.
Oke, mereka mirip turis dan aku mirip TKW. Perfect!