A Week Long Journey

A Week Long Journey
Bab Tujuh



Lina tambah nggak PD. Sekalinyabada yang seumuran, tapi penampilan mereka sama sekalo tidak sederajat.


Oke, mereka mirip turis dan aku mirip TKW. Perfect!


***


"Satu lagi... " Fenita mengipas-ngipaskan satu paspor di tangannya sambil celingukan. "Peserta ada lima belas orang, ini baru ada empat belas. Kemana ya si.."


"Mbak Fenita!" Seorang cowok memakai polo shirt putih muncul dengan tiba-tiba. Lina terlonjak karena tiba-tiba ada yang menyeruak di belakangnya.


"Maaf, aku tadi nyari-nyari kamar mandi. Sini pasporku."


Cowok itu kira-kira tiga atau empat tahun lebih tua dari pada Lina. Penampilannya masih setengah matang seperti anak kuliahan. Rapi sekaligus "semau gue". Polo shirt-nya yang terlihat semiformal di padukan kesan santai dari celaja jins sobek dibagian lutut dan sepatu kanvas hitam dengan noda tanah di sana-sini. Wajahnya oriental dan sangat Good Looking.


Jadi ada tempat anak seumuran, atau paling tidak satu generasi, yang mungkin bisa diajak main bareng bersama tour ini, batin Lina, lumayan lega. Dan cowok ini manis. Oke sip!


***


"Hai, aku Lina" Lina menyodorkan tangan saat mereka berada diruang tunggu, menunggu Feri yang akan membawa mereka menuju Macau.


Dewita meletakkan kacamata dikepala, mulutnya mengunyah permen karet. Tatapannya membuat Lina mendadak tidak nyaman, seakan menyapa orang yang salah.


"Dewi." Dewi menjabat tangan Lina singkat.


"Rita" cewek disamping Dewi juga menjabat tangan Lina sekilas.


Setelah itu Dewi dan Rita memalingkan wajah dan kembali bercakap-cakap berdua. Sama sekali tidak ada minat untuk mengobrol lebih panjang dengan Lina.


Sejanak kemudian Lina mencium bajunya, mencari tahu apakah dia bau sampai mereka enggan ngobrol dengannya? Tapi aroma tubuhnya baik-baik saja.


Atau mungkin mereka jet lag? Mungkin.


Lina mengangkat bahu, tak ambil pusing. Dia mengeluarkan notesnya yang selalu dibawa ke mana-mana dan mulai menulis ide untuk cerita pendek berikutnya. Pengalaman baru ditempat ini terlalu bagus untuk dilewatkan. Diawali dari detail Hong Kong International Airport yang rapi dan bersih, suasana berada dilingkungan baru dengan bahasa yang tidak dia mengerti.


Penampilan-penampilan orang asing, yang selalu menarik untuk di deskripsikan, turis-turis asing dengan ciri khas masing-masing. Dia harus mencatat semuanya. Rangkaian kalimat-kalimat mengalir deras diatas notesnya. Dan beberapa menit kemudian, Lina sudah menggelam dalam imajinasinya. Melupakan keadaan sekeliling yang dipenuhi orang-orang berlalu lalang.


"Hai" seorang menepuk bahu Lina.


Lina mendongak, sedikit terkejut dengan tepukan dibahunya yang tiba-tiba.


Cowok yang memakai polo shirt putih tadi kini berdiri dihadapan Lina dengan senyum dan mata berbinar. Lina buru-buru menutup buku catatannya. Gadis ini paling protektif terhadap buku catatannya, sama sekali tak ingin bukunya dibaca orang.


"Ling-Ling, ya? Boleh aku duduk disini?"


Lina terkejut. Cowok ini tahu nama kecilnya?.


"Ya boleh, silahkan"


"Thanks, Ling" cowok itu tersenyum lagi, membuat matanya yang sipit makin lucu. Lesung pipinya membuatnya mirip VJ Daniel Mananta. "Udah dari tadi nyari tempat duduk nggak dapet-dapet"


Hati Lina tak bisa berbohong, cowok itu memang manis. Mendadak dia gugup menghadapi kemunculan cowok itu yang tiba-tiba, atau mungkin karena wangi parfumnya yang begitu maskulin.


Saat cowok itu duduk disamping Lina, dia bisa mencium segar parfumnya. Bulgari Extreme. Parfum cowok kesukaan Lina karena peluk-able banget. Membuat pemakaiannya terlihat lima belas persen lebih tampan. Selain itu menghirup wanginya sja membuat mood Lina semakin baik.


Damm, his arm... batin Lina. Gadis itu menyadari bahwa lengan mereka bersentuhan saat duduk bersisian seperti ini. Dan tentu saja itu mdmbuat jantungnya berdetak lebih kacau.


"Hai, aku Chen" cowok itu mengulurkan tangan memperkenalkan diri. "Chen Zhang. Panggil Chen Zhang aja, jangan pake kak, jangan pake mas, jangan pake koko. Cukup Chen Zhang"


"Lina." Lina menjabat tangan cowok itu.


"Bukannya Ling-Ling ya?" tanya Chen Zhang heran. Bibirnya melengkung keatas. "Aku dengar ibumu memanggilmu begitu waktu di Juanda"


"Oh itu." masa dia sengaja mendengarkan? Lina membatin. Namun dia tak melihat tanda-tanda keberadaan Chen Zhang tadi pagi. "Ya bisa juga sih Ling-Ling. Cuma panggilan itu biasa dipakai dirumah."


"Eh, ngomong-ngomong kamu kedinginan ya? Tangan kamu tadi dingin banget"


Lina merasakan wajahnya memanas dan segera memasukkan tangannya kesaku jaket. Dia bukan kedinginan, sama sekali bukan. Justru karena saking deg-degan berhadapan dengan cowok oriental yang tampan, manis, ramah, wangi, dan tiba-tiba nongol lalu duduk sedekat inilah tangannya jadi begitu dingin. Itu sudah bawaannya dari lahir, dia memang tidak akan bisa menutupi kegugupan.


"Emang agak dingin sih, tapi nggak apa-apa. Its okay. Oh ya, Ling-Ling itu panggilan dari Mbah Putri" jawab Lina.


Mengembalikan topik pembicaraan, tangan kirinya menyelipkan rambutnya kebelakang telinga, berusaha menutupi groginya. Gerakannya memang terlalu menyolok, semua orang mungkin sadar, Lina dilahirnya menjadi pembohong payah.


"Kamu mau pakai jaket?" Chen Zhang menawarkan. Tangan cowok itu sudah siap melepas resleting jaket birunya.


"Aku bawa kok" Lina mengeluarkan jaket warna fuschia kesayangannya dari ransel. Sekalian memasukkan buku catatannya. Buku itu kini kembali tersimpan aman didalam tas.


"Eh, kamu chinnese ya?" tanya Chen setelah Lina sudah memasang jaketnya rapat. Mungkin cowok itu terhitung cowok ke-1157 yang menanyakan hal itu.


"Keturunan aja, Aku nggak bisa bahasa mnadarin." Lina menyeringai. "Kamu bisa?"


"Diandian. Sedikit" Chen Zhang ikut menyeringai.


"Kalau gitu, nanti waktu aku belanja tolong tawarin harganya ya," seloroh Lina. mencairkan suasana.


Kehangatan Chen Zhang dengan mudah meredam kegugupannya. "Denger-denger pedagang disini suka naikin harga sampai tiga kali lipat kalau sama turis. Agak kejam kan?" Aku baca review di internet sih begitu. Kalau nggak pinter nawar bisa dimahalin. Kayaknya kalau nawar pakai Bahasa Mandarin bakal lebih gampang"


Chen Zhang menepuk jidat lalu tertawa. "Aku sama sekali nggak bisa tawar-menawar. Apalagi kalau penjualnya cewek, nggak tega" Lina ikut tertawa.


"Tapi aku mau kalau nemenin kamu sambil bawain belanjaanmu. Sekalian bantu terjemahin sedikit-sedikit. Asal jangan suruh nawar ya" lanjut Chen Zhang dengan senyumnya yang kocak.


Lina terkekeh. "Ya, ya, nggak kok"


"Papa kamu nggak ikut? biasanya beliau yang ikut."


"Mmm, papa lagi sakit jadi aku yang gantiin"


"Oh ya?" Chen Zhang tampak kaget.


"Apa penyakitnya serius?"


"Darah tinggi. Kemaren sempet makan sate kambing kebanyakan, tapi nggak papa kok" Lina tersenyum simpul.


"Cepet sembuh ya buat Papamu, Ling"


"Makasih, Chen"


"Jadi kamu suka Robert Pattinson nih?" Chen Zhang menunjuk sampul buku catatan Lina yang rupanya sedikit menyambul. "Buku catatan kamu gambar wajah cowok itu"