
"Ah.." Mamanya seperti teringat sesuatu. "Yusmadi?!"
"Kenapa Ma? Ada sesuatu?"
"Enggak, nggak ada apa-apa kok." Mamanya langsung tertawa kecil.
***
"Oohh." Lina tadinya berharap bisa menemukan alasan kenapa Dewi bersikap sinis itu dari Mamanya, atau mendengar sedikit cerita tentang keluarga Dewi. Karena sepertinya kedua keluarga mereka memang sama-sama saling mengenal.
"Kalau gitu jangan mau kalah ya sama mereka. Kamu anaknya Hartono, Hartono Budiawan! Kita keluarga peternak, Ling. Kamu pasti bisa. Selama ini kamu selalu dapat peringkat di kelas. Eyang Putri di Solo sudah mendengar kabarnya dan mereka sangat bahagia. Tanya-tanyalah saja sama mereka itu, para peserta tour itu tampak senior."
"Ya, Ma." jawan Lina malas. Dia tidak tertarik untuk bertanya-tanya, ditanyai saja dia memilih untuk menghindari kok.
"Dan juga Ling..."
"Mama mau oleh-oleh apa?" potong Lina, mengalihkan pembicaraan. "Besok pagi rombongan tour berangkat ke Hong Kong selama tiga hari, kami masih di Shenzhen malam ini, setelah itu kami pulang ke Indonesia. Sampai Juanda mungkin jam tujuh malam."
"Apa aja! Yang penting kamu sehat dan selamat sampai pulang nanti. Jaga diri baik-baik. Jangan lupa alamat Mbah Putri dicari, ya."
"Oh, ya!" Lina hampir melupakan pesan Mbak Putrinya. Mencari alamat.
"Istirahat Ling, jangan kecapean." kata Mamanya. "Mama dan Papa bangga sama kamu sayang!"
"Ya, Ma. Ma-makasih" Lina menjawab dengan tenggorokan terserat.
"Selamat istirahat, Ling."
"Selamat tidur, Ma" jawab Lina. Air mata mulai menggenangi di matanya.
Kalimat-kalimat itu berputar lagi di kepalanya. Udara di sekitarnya terasa menyesakkan. Mungkinkah mereka semua bisa menerima kenyataan yang sebenarnya?
Lina melirik buku catatannya. Lalu menyambar buku itu dan menuliskan kalimat demi kalimat yang merajam hatinya. Kondisi penuh emosi seperti saat ini tepat untuk menulis. Tangannya menulis dengan cepat apa yang ada di hati dan pikirannya. Malam itu, Lina habiskan untuk menulis sendirian sampai puas di lobi. Tidak terasa, jam tiba-tiba sudah menunjukkan pukul empat pagi.
Ya, sesegera mungkin Lina harus jujur pada keluarganya. Lina harus segera membuktikannya. Cerita ini harus segera selesai! Terbit! Maka mereka akan segera tahu!
Lina menyendokkan omelet telurnya kali ini dengan lambat, dan mengunyahnya pelan-pelan. perlahan-lahan bangkit dari lamunannya semalam tadi.
Mimpi itu sederhana, yang rumit itu manusianya.
Kemudian ingatannya kembali pada Chen Zhang dan apa yang cowok itu perbuat pagi ini. Lina langsung mengantupkan rahang. "Dasar dodol menyebalkan!"
***
Lina memejamkan mata di bangku bus, padahal dia tidak mengantuk. Kepalanya masih berputar-putar dan hatinya dengkol. Setelah ribuan kali dalam hatinya, Lina memaki-maki Chen Zhang.
Okay, sekarang terserah dia mau berpikir apa soal aku. Mau bilang aku penulis yang cengeng, mau bilang aku konyol karena nulis novel, atau mau bilang aku cupu karena menuliskan khayalan! Terserah! Kenapa sih buku catatan ini harus di baca sama cowok! Chen Zhang nggak mungkin ngerti jalan cerita novel ini! Mana dia suka baca novel? Cowok nggak suka baca novrl. Pasti dia bakal bilang kalau aku ini aneh. Orang-orang peternak macam Chen Zhang mana ngerti soal nulis novel! Okay, silahkan Chen Zhang ketawa! Aku nggak peduli.
"Hai, kamu masih jengkel?" sebuah suara terdengar dari samping Lina.
"Kamu suka muncul tiba-tiba ya!" kata Lina sinis.
Chen Zhang berdiri dengan raut wajah ragu, bingung harus bereaksi bagaimana. "Ng...masa?"
"Samko Tour!" Fenita melambaikan bendera merah khas. Tanda peserta tour harus segera berkumpul di titik tempatnya berdiri.