
Mulut Chen Zhang sedikit ternganga. Ada percikan api dalam hatinya saat Lina mengatakan itu, sepertinya gadis ini tidak main-main dengan perkataannya. Chen Zhang menelan ludah, dadanya tidak nyaman. Dia pun bukan orang yang terbuka pada Lina, tapi dia punya alasan. Mendadak dia terpaksa harus mengakui, perkataan Dewi pagi tadi benar.
***
"Habis ini kita kemana?" Lina bertanya pada Chen Zhang yang sekarang duduk di sampingnya. Lina sudah melupakan apa yang terjadi antara dirinya dan Chen Zhang, cowok itu auranya terlalu bersinar untuk di jauhi. Dan yang paling penting sekarang dia tidak perlu duduk sendirian lagi di bus. Mau tak mau, Lina berharap selama tour Chen Zhang akan selalu duduk di sampingnya.
Bus yang membawa rombongan Samko Tour mulai berjalan lambat.
"Jumbo Folating Restaurant." jawab Chen Zhang ceria. "Kamu pasti suka. Disitu pemandangannya bagus Lin, pakai bedak sana, Model. Beneran tuh muka, bentar lagi pemotretan."
Lina meringis. "Terima kasih, Fotografer."
Perlu waktu singkat bagi rombongan Samko Tour sampai ke tempat tujuan. Chen Zhang benar, Jumbo Florating Restaurant tempat yang sangat memukau. Restoran unik itu berbentuk kapal pesiar yang berdiri di tengah laut. Untuk mencapai restoran itu rombongan tour dari Surabaya ini harus menggunakan kapal feri selama lima menit.
"Wooww," Bu Heni berdecak kagum begitu kakinya menapaki dek Jumbo Floating Restaurant. Matanya tak bisa lepas menatap pintu masuk Jumbo Floating Restaurant yang di penuhi ukiran-ukiran naga berwarna emas dan merah. Ukiran-ukiran itu sangat halus dan detail, terutama sisik-sisiknya yang tergurat sempurna. Di bawah patung naga itu terdapat Shi Zi yaitu dua patung singa yang dibuat sepasang jantan dan betina, yang melambangkan yin dan yang.
"Magnificent.!" gumam Lina terpukau.
"Berdiri di situ Lin." Chen Zhang mengangkat kameranya menangkap Lina dengan latar belakang ukiran naga dalam satu frame yang sempurna. Jari telunjuknya menekan tombol shutter.
"Oh ya?" Lina langsung tertarik.
Seperti yang Chen Zhang bilang. Di lantai dua terdapat dinding yang dipenuhi pecahan keramik sehingga membentuk lukisan kehidupan masyarakat Hong Kong zaman kerajaan, entah apa. Sangat apik. Lina nggak kebayang bagaimana manusia-manusia biasa bisa berimajinasi membuat lukisan dari pecahan mangkuk dan piring. Rekat dan mengkilat.
"Udah dong bengongnya. Kamu gampang banget bengong. Meja kita satu lantai lagi, Ling." ajak Chen Zhang. "Ayo, keburu ditinggalin nanti."
"Memangnya ada berapa lantai sih kapal ini?"
"Lantai dasar, lantai ini, dan lantai atas. Itung sendiri." Chen Zhang mengerlingkan mata. "Kamu tahu nggak, kalau yang punya restoran ini sama kayak yang punya Grand Lisboa di Macau?"
"Oh, pantes.. makanya super begini restorannya. Tajir banget sih."
Mereka sampai di lantai teratas dan ternyata hall ruang makan itu sudah nyaris penuh oleh rombongan-rombongan turis lain. Hanya ada tiga meja bundar yang belum terisi di sisi kiri hall. Lina yakin itu meja rombongan tournya karena Pak Liem dan Fenita bolak balik di meja itu.
"Hai."
Sebuah suara terdengar dari samping Chen Zhang. Lina menoleh ke arah suara dan langsung memasang wajah malas. Dewi sudah berdiri dengan congkaknya, kacamata hitamnya lagi-lagi diletakkan di kepala, menahan rambut panjangnya dengan penuh gaya. Sok sosialita! batin Lina. Di samping Dewi dan Rita yang lebih cocok di sebut ajudan dari pada teman. Kerjanya cuma jadi buntut, kemana-mana selalu ikut.