A Week Long Journey

A Week Long Journey
Bab Duapuluh



Kemudian Chen Zhang tersentak, dia baru sjaa memperhatikan Lina. Dan dia tidak menyangka sebegitu pedulinya terhadap seorang gadis.


***


Chen Zhang berjalan pelan mendekati punggung Lina, mengintip tulisan dari balik bahu Lina. Tampak tulisan yang berjejer sangat rapi. Dengan kecepatan menulis dengan ukuran huruf yang sama.


Dan clara tidak ingin kehilangan mimpinya di kota ini, sekalipun dunia tidak menghendaki impian itu terwujud..."


Chen Zhang membaca kalimat itu.


"Ya Tuhan!" Lina terlonjak sampai nyaris melompat dari tempatnya duduk. Gadis itu buru-buru menutup buku catatannya dengan brutal dan langsung menoleh ke belakang dengan mata terbelalak.


"Hai, Ling"


"Chen Zhang!" Lina memekik. Matanya membulat. Buku catatannya berdekap erat di dadanya. "Kenapa kamu.. tiba-tiba.. kamu.. kenapa.. baca.."


Chen Zhang meringis. Sejujurnya dia juga terkejut dengan reaksi Lina yang di luar perkiraan. Wajah Lina memerah.


"Aku cuma nggak sengaja lewat di belakang kamu dan kayaknya kamu lagi asyik."


"Jangan intip catatan orang juga dong! Itu nggak sopan!" Lina segera menyamburkan kata-kata itu tepar di hadapan Chen Zhang.


"O-Oke." Chen Zhang mengangkat kedua tangan. "Sori."


"Chen, Kamu!" Lina menggeram kesal sambil memejamkan mata. Tangannya diletakkan di dahi. Giginya terkatup rapat. Kakinya mengentak lantai saat berkata.


"Kamu harusnya nggak boleh tahu! Harusnya nggak ada yang boleh tahu!"


"Kenapa?" dengan wajah bertanya-tanya.


"Sekarang belum saatnya." sambar Lina.


"Apa bedanya sekarang sama nanti?" tanya Chen Zhang heran. Dia sama sekali nggak ngerti.


"Beda, pokoknya beda!" kata Lina sambil menggeleng-nggeleng. "Arghh, kamu nggak ngerti sih!"


"Ada apa ini?" Pak Kamto mendadak muncul menegahi. Pandangannya bergantian antara Lina yang tampak emosional mendekap buku catatannya dan Chen Zhang yang tampak bingung.


"Tida ada apa-apa, Pak." setelah berhasil menguasai dirinya. "Saya mau sarapan dulu, bye."


Lina kemudian beranjak pergi sambil menyeret kopernya. Sepeninggalan Lina, Pak Kamto langsung bertanya. "Ada apa, Chen?"


"Aku cuma baca buku catatannya sedikit." Chen Zhang bingung. Pagi ini dia terlalu banyak mengetahui masalah gadis-gadis, tetapi dia tidak benar-benar paham. "Pak Kamto, aku nggak ngerti jalan pikirannya cewek-cewek."


"Mereka memang makhluk yang susah di mengerti kok, maklum cewek Chen."


***


Lina mengunyah omelet dengan suapan besar-besar. Apa apaan Chen Zhang itu, mengintip catatan orang seenaknya, dasar tidak sopan! Apa dia pikir mereka sudah cukup akran untuk saling berbagi diary? Lina menusuk omelet dengan garpu sampai berdentik di piring.


Bersyukurlah Ling, punya ayah yang hebat dan selalu memikirkan masa depanmu, dan Hartono juga pasti bersyukur punya anak sehebat dirimu.


Perkataan Ayi Jaya berputar di kepalanya sejak Lina masuk ke kamar semalam.


Hidup dalam ekspektasi tinggi orang-orang sangat tidak nyaman, sangat penuh beban, terlebih bila kita tahu kita tidak sebaik yang orang-orang pikirkan tetapi kita tidka punya kekuasaan untuk menghindar. Rasanya cuma terjebak dalam takdir yang mengharuskanku menjadi peternak karena aku anak Pak Hartono. Karena aku generus ketiga Fram Unggul Maju. Lalu bagaimana kalau aku tidak mau? Bagaimana kalau aku tidak suka? Akankah mereka mengerti? Akankah mereka mengerti kalau aku mencintai menulis lebih dari apapun juga?


Lina mengusap air mata dan mendekap buku catatannya erat. benda itu yang setia menyimpan mimpinya rapat-rapat. Tak ada orang pun yang tahu isi benda itu, karena Lina tahu betul tidak semudah lingkungannya akan menerima mimpinya, hobinya, kesukaannya. Melihat buku dengan namanya terpajang di rak-rak toko buku merupakan impiannya, lebih dari apa pun juga.


Saat ini, mereka tidak akan pernah bisa mengerti walaupun dia mencoba mengatakan yang sebenarnya.


Izinkan aku memilih jalanku sendiri. Aku ingin menjadi novelis.


Ponsel Lina mendadak berdering.


"Mama?" Lina mengernyitkan alis heran, apakah hubungan batin anak dan ibu sedemikian kuat sampai-sampai mamanya langsung menelepon.


"Ling-Ling!" Suara Mamanya terdengar antusias begitu Lina mengangkat telpon. "Mama sudah nggak dengar suara kamu tiga hari! Aduh, Ling-Ling Mama kangen banget! Bagaimana disana? Seru?"


Lina tertawa pelan. "Menanyakan, Ma. Jalan-jalan terus sampai capek. Mama, Papa, dan Mbah Putri sehat?"


"Sehat kok, sehat! Dapat teman yang baik selama di sana? Orang-orangnya baik-baikkan Ling?"


Lina terdiam, semua baik kecuali dua cewek judes itu. "Okay sih, Ma"


Dari seberang suara Mamanya langsung menangkap ada sesuatu yang ganjil. "Ada orang yang nyebelin, ya?"


"Nggak."


"Kamu nggak bisa bohong sama Mama, Ling. Mama tahu dari suara kamu pasti ada sesuatu."


Lina berusaha terdengar baik-baik saja. Mamanya memang penebak yang hebat. "Nggak Ma, beneran. Ling-Ling baik-baik aja kok Ma."


"Ya sudah kalau belum mau cerita. Ayi-Ayi itu pasti membimbing kamu soal peternakan kalau kamu mau bertanya, Ling. Mereka sudah berpengalaman soal ternak ayam. Mereka sudah setara profesor!" usul Mamanya.


Lina kembali terdiam, lalu menghela napas panjang. "Ya, Ling-Ling akan bicara sama mereka nanti."


"Ayi Jaya sangat senang waktu kendengar kamu masuk fakultas peternakan. Mama yakin mereka pasti iri sama Papa, baru kamu dan anaknya Pak Indra yang mau melanjutkan pendidikan formal di bidang peternakan."


"Dan anak Pak Yusmadi, Anaknya di kedokteran hewan." terang Lina malas-malasan.


"Ah.." Mamanya seperti teringat sesuatu. "Yusmadi?!"


"Kenapa Ma? Ada sesuatu?"


"Enggak, nggak ada apa-apa kok." Mamanya langsung tertawa kecil.