
"Baru 22 tahun" ralat Chen Zhang "Lina memang cantik, ya kan Pak?"
***
"Kamu naksir?" Perkataan Pak Kamto lebih tepat disebut tuduhan.
Chen Zhang tertawa, Tidak menolak tuduhan Pak Kamto. "Pilihan saya gimana Pak? Oke kan?"
"Oke bos!" Pak Kamto mengacungkan dua jempol "Ehh, tapi dia tahu nggak kalau aku itu,.."
"Ya, dia tahu aku Chen Zhang" potong Chen Zhang.
"Bukan Candra. Dia tahu nggak hubungan kamu sama Jaya Raya?"
Chen Zhang diam beberapa detik. "Kayaknya itu nggak perlu juga buat dia. So whatt dengan saya dan Jaya Raya? Itu seharusnya tidak masuk pertimbangan apa pun untuk memulai pertemanan"
"Kamu jawab apa kalau dia nanya asal-usul mu?"
"Anak yang punya poultry shop" Chen Zhang menyeringai jail. "Aku nggak bohong kok"
"Wow. Klasik, Chen. Too old for you, actually." Pak Kamto tertawa. "Udah capek ya, diuber-uber cewek matre?"
Chen Zhang kembali membidikkan lensa nya ke arah Lina. Namun tanpa disengaja lensanya menangkap sesuatu yang membuat jarinya tertahan diatas tombol shutter.
Chen Zhang menangkap jelas apa yang sedang ditulis Lina, layaknya terpotong yang menemukan objek. Chen Zhang menangkap kalimat itu, kalimat yang ditulis rapi dan berjajar rapat.
Perjalanan mencari jati diri Clara sampai ke Shanghai. tempat yang awalnya hanya dia lihat dari film. Bersih, biru, dan rasanya dia masih mengenang sesuatu.
Cerita? Lina menulis sebuah cerita?
***
Dengan mata yang masih meronta melek, Lina memakai celana jins dan blus putih berpotongan sederhana dengan lengan berbentuk kelopak tulip. Lina lalu memegang jaket warna fuschia yang tersampir dikursi.
Lina teringat Chen Zhang akan meminjamkan jaketnya. Ah memang, cowok itu selain tampan juga baik hati.
Lina tersenyum sendiri. Minyak angin yang diberikan Chen Zhang semalam sudah masuk ke saku jins nya. Pagi ini akan dia kembalikan.
Ketika tangannya mengaduk isi ranselnya. tiba-tiba Lina menyentuh sebuah tas plastik, alisnya mengkerut. Lina mengintip isi tas plasitk tersebut. Ada tulisan yang sangat dikenalnya dalam secarik kertas.
Ling-Ling anak Mama tercinta, sehat kan? Semoga harimu disana bahagia. Mama masukkan jaket dan kaos kaki ini karena Mama cek kopermu cuma ada satu jaket dan sepasang kaos kaki. Mungkin akan kurang, kata Mbah Putri bulan-bulan ini di China hujan sering turun. Semoga tidak memberatkan kopermu, jaga kesehatan ya. Mama Papa disini menanti kamu pulang. Telepon ke rumah. Mama Papa tidak tahu jadwal tour kapan istirahatnya. Mama Papa tidak ingin mengganggu liburanmu, dari kami yang selalu merindukanmu:) Mama, Papa, dan Mbah Putri.
Mendadak rasa haru menyergap hati Lina. Bagaimana pun caranya, ibunya selalu ingin kalau dirinya akan baik-baik saja.
Di sini, Lina tak bisa menemukan orang-orang yang bisa memperlakukan dirinya seperti yang orangtuanya.
Ma, maaf... Suatu saat Lina akan membuat Papa dan Mama bangga dengan mimpi Lina.
***
Ketika menuang susu segar pada serealnya, matanya menangkap Dewi dan Rita, tampak duduk berdua disudut ruang makan sambil bercerita.
Gadis-gadis yang aneh, suatu saat aku akan menulis cerita soal mereka. Rita akan menjadi pembantu dan Dewi yang menjadi wanita yang ditolak cintanya sampai akhirnya menjadi perawan tua. Lina tak kuasa menyinggung senyum jailnya.
"Tante!"
Lina menoleh. "Hai Caca, sedang apa kamu?" lagi-lagi wajahnya belepotan selai cokelat. Lina menahan tawa melihat anak kecil lucu itu.
"Kue ini enak, Tante coba ya!" Caca mengangsurkan kue yang dibawanya.
"Kamu cemong Ca" Lina tertawa sambil mengelap mulut gadis kecil itu. "Mama Papa kemana? Eh, kamu lucu deh, sini Tante foto dulu"
Lina menekan tombol on kameranya. Tidak menyala. Gadis itu mencoba sekali lagi.
"Aduhh, lupa isi baterai lagi!" keluh Lina! Padahal hari ini agenda mereka jalan-jalan ke tempat yang seru.
"Sini Ca, difoto!"
Dari arah belakang Lina, Chen Zhang sudah berjongkok menyejajari Caca. Membidik Caca yang langsunh pasang gayanya.
"Caca pinter gaya deh" puji Chen Zhang.
"Liat Om!" Caca mendekati Chen Zhang dan memeluk cowok itu tanpa canggung, dengan ingin mengintip hasil fotonya.
"Nih liat, Bagus kan?" Chen Zhang memangku Caca.
Chen Zhang dan Lina tertawa sambil membalas lambaian tangan anak kecil itu.
"Ling, kamu pakai jaket siapa tuh?" Chen Zhang lalu duduk didepan Lina. "Bukannya kamu cuma bawa satu?"
"Oh ini? Ternyata Mama sudah masukkan satu jaket cadangan di koperku" jawab Lina sambil meringis.
"Padahal aku tadi mau ambil jaketku"
"Anyway, makasih Chen awalnya emang mau pinjem kamu, tapi ternyata udah ada" Lina tersenyum tipis.
"Ada yang salah sama kamera kamu?" Chen Zhang menatap kamera yang digenggam Lina sejak tadi.
"Oh ini, ya, lupa isi baterai"
"Memangnya nggak bawa powerbank?"
Nggak, kesel aku tuh nggak bisa foto-foto habis ini,"
"Kamu bisa pakai kameraku ini kok. Kita foto gantian di kamera ini, aku foto kamu, kamu fotoin aki. Nanti tinggal copy beres kan? Hasilnya pasti lebih bagus"
"Ya, tapi nanti baterai kamu cepet habis, kapasitas memory card kamu juga. Kalau beli di sini malah lebih mahal."
"Nggak kok, kalau memory card lebih murah. Masalah baterai nggak perlu khawatir, aku bawa cadangannya"
"Semuanya penuh?" tanya Lina agak takjub. Chen Zhang niat banget foto-foto.
"Pasti dong. Full. Aku nggak pernah lupa nge-charge semuanya begitu sampai hotel. Aku juga bawa tiga adaptor" Chen Zhang terkekeh. "Tenang aja, solusi kamera sudah selesai. Kamu bisa foto-foto bareng dengan tenang"
Lina tertawa lega, "Oh ya, ini minyak angin mu. Makasih, hangat banget, aku tidur pulas banget semalem"
"Bawa aja Ling, sering-sering pakai. Harusnya kamu sarapan bubur yang hangat"
"Kamu sendiri nggak sarapan?"
"Udah kok tadi" jawab Chen Zhang. Matanya terpaku pada buku catatan Lina yang tergeletak di dekat piring. "Eh, kamu nulis apa sih di si.."
"Jangann!" Lina langsung menyambar bukunya. "Eh, maksudku ini.. buku.. pentinglah. Isinya rahasia. Nanti aja"
Lina memasukkan buku catatannya dengan protektif ke dalam tas.
"Dasar aneh"
"Biarin, kamu nggak foto sama Dewi dan Rita? Kan jenis kamera kalian sama. Punya hobi yang sama pula" Lina mengalihkan topik pembicaraan.
"Kamu sendiri kenapa nggak sama mereka? Kan sebaya?" Lina tertegun menatap Chen Zhang. Dia ini pura-pura nggak tahu apa memang belum tahu sih?
Tapi cowok memang biasanya begitu sih, lebih nggak suka pedulian. batin Lina.
"Kalau mereka mau sih nggak apa-apa. Lah mereka cuma mau berdua" jawab Lina datar.
"Nggak juga, tuh buktinya mereka lagi asyik ngobrol sama Tante Heni dan Mbak Gita" sahut Chen Zhang sambil mengedikkan dagunya.
Lina langsung menoleh. Tampak Dewi dan Rita sedang mengobrol seru dengan Tante Heni dan Mbak Gita, sementara itu Pak Yudis dan Mas Yofan makan dimeja sebelah mereka, juga tampak mengobrol santai. Mereka semua terlihat akrab dan gembira.
Ya man emang sentimennya cuma sama aku, sama yang lain enggak! batin Lina muram. Perjalanan ini nyaris sempurna. Kecuali bagian Dewi dan Rita.
"Hey, coba ceritain ke aku. Jadi, kamu tiap hari ke kandang sama orangtua mu?" Chen Zhang membuyarkan lamunan Lina.
Lina langsung menghela napas panjang. Menahan diri untuk tidak memutar bola mata. Oh no, not this topic anymore.
"Lumayan sih, Tapi nggak tiap hari."
Chen Zhang mengangguk. "Close house apa open house kandang ayamnya?"
"huftt"
"Kalu lagi musim panas gitu, suka problem nggak sih di kandang ayam grower?"
"Heat stress sih biasanya." jawab Lina seadanya.
"Sama aja sih ya berarti di mana-mana kondisinya" Chen Zhang melengkungkan bibirnya.
"Emang. Eh, kayaknya Mbak Fenita udah manggil deh, yuk cabut" Lina segera merapikan mejanya dan memasukkan barang-barangnya. Padahal dia yakin, Fenita belum memberi aba-aba apa pun.