A Week Long Journey

A Week Long Journey
Bab Enambelas



Lina tersenyum. Pelan tapi pasti hatinya menghangat, berada di samping Chen Zhang membuatnya nyaman. Shenzhen memang indah, tapi mungkin tak akan seindah ini bila tidak ada Chen Zhang.


Rasa-rasanya... dirinya mulai simpati dengan Chen Zhang.


***


Ponsel Lina mendadak berdering. Ketika mengecek nama penelepon yang muncul di layar ponsel, wajah Lina langsung berubah cemberut. Kenapa sih Brian muncul di saat yang tidak tepat!?


"Siapa Ling?"


Lina menolak panggilan itu dengan wajah muram. "Nggak penting, Chen"


"Oh." Chen Zhang tercenung.


"Eh, ke toko suvenir yuk!" ajak Lina mengalihkan pembicaraan untuk mengubah suasana hatinya yang tiba-tiba memburuk.


Toko suvenir yang ditunjuk Lina menjual beberapa kaca lipat yang langsung mencuri perhatiannya. Ini oleh-oleh yang pas untuk Saras, Fio, ibunya Saras, dan teman-teman yang lainnya.


"How much for these mirrors?" tanya Lina.


"One hundred ren min bi for five mirrors" ucap pelayan tokonya.


"Wah di luar tadi seratus dolar buat sepuluh kaca" keluh Lina. "Mahal banget."


"Tapi kan di luar nggak ada ukirannya kaya begini" terang Chen Zhang. Kaca lipat yang di pegangnya ini terbuat dari kuningan dengan ukiran yang menawan. "Ini bagus kok. Ini buat temen, ya?"


"Kan temenku cewek-cewek semua jadi kayaknya kaca lipat cocok deh buat mereka" kata Lina. "Miss, I want this five"


"Okay, One hundred ren min bi." Lina mengangsurkan uang dari dalam dompetnya.


"No miss. One hundred ren min bi, not one hundred Hong Kong dollar. They have different value" pelayan toko itu mengembalikan uang yang di berikan Lina.


Tour kali ini meskipun cuma mengunjungi satu negara China, tapi mengharuskan Lina membawa sampai tiga jenis mata uang. Mata uang yang di gunakan di Macau, Shenzhen, dan Hong Kong itu berbeda.


"Oh, okay. This" Lina mengangsurkan selembar uang lima ratus ren min bi.


Pelayan itu menggeleng. "I dont have."


"Itu pecahannya terlalu besar Ling. Dia nggak punya kembaliannya, udah pake duit aku aja." Chen Zhang mengulurkan uangnya.


"Nanti aku balikin deh Chen, Makasih ya" kata Lina cengengesan.


"Ya, santai aja kali"


"Kamu baik deh."


"Bilang juga dong kalau aku ganteng, mirip Daniel Mananta"


Lina langsung memukul gemas cowok itu.


***


Akhirnya Dewi bisa melihat wajah Lina dari dekat, setelah sekian lama dia tak pernah bertemu dengan gadis yang slalu di bangga-banggakan keluarganya di depannya semasa kecil, hingga membuatnya bosan dan muak. Dia membenci gadis itu bukan karena iri dengan apa yang di banggakan orang tuanya, tapi gadis itu mewarisi darah seseorang yang membuat ayahnya sengsara. Hartono Budiawan.


Tak akan pernah lupa dia dengan nama itu. Dulu. Dengan keadaan tanpa tabungan tersisa, mereka tak ada pilihan selain harus bisa berhasil dalam usaha peternakan yang baru dirintis. Perkembangan usah ayahnya yang sampai sangat pesat, malah membuat Hartono menganggap ayahnya sebagai viral bisnis. Perlahan, Hartono Budiawan makin menjauh. Dewi yakin dengan pasti, Hartono Budiawan tidak ingin terkalahkan!


Dalam keadaan terdesak saat modal ayahnya habis karena ayam-ayam yang mati kena virus waktu itu, Hartono menawarkan utang. Utang yang saat itu diketahuinya sangat longgar. Tapi rupanya, itu jebakan yang di bungkus dengan apik.


Rentenir! Ya, utang yang mulanya tampak seperti pas di pandang pasir itu menjadi seperti ranjau di tanah lapang, menjebak.


Suatu malam, Dewi melihat Hartono berbicara pada ayahnya dengan suara lantang.


"Kembalikan Yus! Kamu harus tetap mengembalikannya apapun yang terjadi! Kamu harus segera menyelesaikan pinjaman ini karena ini milik kami! Atau kamu masuk penjara!"


Suara Hartono tak pernah terdengar selantang itu. Ayahnya sendiri tak pernah tampak menyedihkan itu. Dengan rasa bersalah, ayahnya meminta maaf sambil memohon-mohon.


Pemandangan malam itu masih terekam dengan jelas di kepalanya. Ibunya yang kala itu ikut menemui Hartono menangis, nyaris melolong. Sapu tangan yang di pegang beliau basah oleh air mata. Mata ibunya membengkak dan merah.


Dewi kecil menyaksikan semua itu dalam kamar. Mengintip di sela-sela pintu yang terbuka, perasaannya hancur. Tak pernah ayah dan ibunya terlihat sebegitu merana.


Ayahnya kemudian menjual mobil. Dewi pun harus rela berangkat sekolah berjalan kaki. Tak seperti Lina yang kerap dengan mobil mewah sang ayah, senyumnya selalu mengembang seperti saat ini, gadis itu tak perlu kepanasan ataupun kehujanan seperti dirinya.


Utang mereka akhirnya lunas, ayahnya tidak jadi berstatus residivis, tapi kondisi perekonomian mereka memburuk drastis.


Sejak saat itu, Dewi bersumpah akan membalas perlakuan keluarga Hartono Budiawan. Perasaan sakit saat itu sampai sekarang masih terasa sakit untuk dikenang. Dia tak akan membiarkan perlakuan keluarga Budiawan yang membuat ayahnya yang gagah harus memohon-mohon dan ibunya yang teramat dicintainya harus menangis tersedu-sedu.


Kenangan memalukan sekaligus menyakitkan itu membuat Dewi ingin menunjukkan kepada Lina bagaimana rasanya menjadi dirinya.


Dia akan balas menggulung usaha Lina. Membuat Hartono dan istrinya ganti memohon dan meraung-raung kepada keluarganya. Sebagai penerus usaha keluarga, Dewi akan menuntaskan ambisinua. Lina harus tumbang!


***


"Chen, kamu seharusnya buka studio foto aja deh. Kamu ada bakat loh! Bagus-bagus banget hasilnya" pekik Lina senang. Mereka berdua beristirahat di bangku semen di bawah pohon palem setelah hampir seharian mengelilingi Splendid China. Tangan Lina kini memegang DSLR milik Chen Zhang.


"Someday. Ide bagus tuh, nanti kamu jadi asistenku ya?" Chen Zhang tertawa renyah. Semenjak Lina kehabisan baterai kamera, dia bisa lebih bebas mengambil foto Lina. Tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi.


Dalam hati Chen Zhang berharap kamera Lina tidak cuma habis baterai hari ini saja, tapi juga seterusnya. Jadi Chen Zhang bisa menangkap objek favoritnya itu sesuka hati.


"Kita di Splendid China masih sampai malam kan? Nanti malam ada pertunjukan bagus lagi, atraksi akrobat gitu. Aku mau foto orang akrobat, tapi menangkap objek bergerak gampang-gampang susah sih"


"Harus duduk di tempat yang tepat dong supaya ambil gambarnya pas"


"Exactly." Chen Zhang mengangguk, setuju. Chen Zhang menunjuk Pak Tong dan Fenita yang sedang mengibar-ngibarkan bendera Samko Tour beberapa meter di depan mereka. "Eh, kayaknya meja kita udah siap, waktunya makan malam. Kesana yuk!"


"Silahkan, mejanya bebas" kata Pak Tong sambil menunjuk tiga meja bundar yang masih kosong didalam restoran.


"Ling, duduk sampingku lagi dong" Chen Zhang meraih tangan Lina dan menariknya untuk duduk di meja bundar yang masih kosong.