A Week Long Journey

A Week Long Journey
Bab Empatdelapan



"Jangan di hirup kalau debunya terbang!" ayahnya mengingatkan. "Nggak tahu, papa lupa taro di mana. Tapi seinget papa di sekitar sini, kok. Papa sengaja stok senter banyak."


***


"Tanya mama aja deh. Banyak gini barangnya." Lina menyerah. Ketika hendak melangkah, mendadak kaki Lina tersandung sesuatu dan membuatnya jatuh. "Aduuhhh!!"


"Udah ketemu kok, Ling." seru papanya sambil membawa senter tepat saat Lina tersungkur. Begitu melihat anaknya, Pak Hartono langsung terkejut. "Ya ampun Ling! Kamu kenapa?"


"Sakit, Pa." Lina mengusap-usap keningnya."


"Kamu sih nggak hati-hati, ayo berdiri." Hartono membantu putrinya bangkit.


Ketika berusaha berdiri, Lina baru tahu yang tadi membuatnya tersandung adalah piala yang berukuran sangat besar, berat, dan masih tampak berkilauan.


"Pa, ini piala apa?" tanya Lina penasaran. Dia baru melihat di gudang ada piala sebesar itu. Di bagian bawah piala ada plat kuningan, Lina membaca dengan seksama ukiran di plat yang sudah berdebu itu. "Juara 1 Motorcross se Jawa Bali. Hartono Budiawan. 1980."


Hartono tertegun, tak menyangka barang ini masih ada. Selama ini dia lupa barang ini dia letakkan di mana.


"Wahh, Papa hebatt bener, deh!!" Lina memekik. Diangkatnya piala itu tinggi-tinggi. "Kenapa papa nggak pernah majang ini di rumah? Kan keren! Eh... ada yang lain juga!" Lina membuka kardus tak jauh dari piala yang di sandungnya tadi. Isinya beragam piagam, medali-medali dan foto-foto ayahnya yang tampak gagah dan begitu keren di atas motorcross berwarna merah-hijau. Ayahnya terlihat masih muda di foto itu. "Astaga Papa, kok nggak di rawat sih barang-barang keren kayak begini! Liat deh, masih ada helm sama baju balapnya juga. Papa dulu pembalap, ya?"


Hartono terkekeh. "Wah, ini barang-barang papa waktu masih muda. Nggak tahu kalau masih ada. Dulu barang yang di taruh di gudang terus lupa nggak di keluarin lagi. Waktu itu kita nggak ada lemari nganggur juga sih, Ling. Jadi nggak keurus deh."


Setelah mengamati piala itu, mendadak ada beberapa pertanyaan yang muncul di kepalanya Lina. "Papa dulu suka motorcross? Kenapa papa nggak jadi pembalap aja? Kenapa malah jadi peternak?"


Ayahnya tertegun cukup lama. "Papa suka sih sama dunia balap, tapi papa lebih suka kalau Mbah Putri bahagia. Perjuangan Mbah Putri buat kandang ini juga nggak sedikit. Jadi apalah arti piala, tropi, dan piagam itu kalau papa nggak bisa membantu keluarga dan membahagiakan Mbah Putri. Cuma itu kan papa, Ling. Kamu beda lagi. Papa Mama cuma bisa sebatas mengarahkan kamu aja, selebihnya kamu tahu yang terbaik. Kejar keinginanmu sampai dapat! Bercita-citalah setinggi-tingginya! Papa ini sudah menunggu kelahiranmu sampai usia pernikahan papa dan mama sepuluh tahun, jadi papa ingin kamu bahagia, Ling." Hartono mengusap-ucap putri semata wayangnya yang berhasil lahir dari rahim istrinya setelah dua kali keguguran dan sepuluh tahun penantian panjang.


Giliran Lina yang tertegun cukup lama. Papanya ternyata pernah merasakan hal yang sama seperti dirinya. Di dunia ini bukan cuma dia satu-satunya yang mengalami kebimbangan dalam memilih.


"Oh ya, Ling-Ling belum sempet cerita, ya? Ling-Ling nemuin alamat Shanghai Star loh! "


Mata papanya terbelalak. Belum ada waktu untuk mendengarkan cerita Lina sejak kepulangan putrinya itu dari Hong Kong. Kebakaran sudah membuat mereka menjadi super sibuk dalam sekejap. "Oh ya? Jadi alamat itu masih ada?"


"Masih, Pa! Dan Lina ketemu Aco, Aca, Ipo Hang, dan Cici Fang-Fang!"


"Mereka masih hidup?! Semuanya masih ada? Aco? Aca?"


"Iya, Pa."


"Mbah Putri harus tahu, Ling! Mbah Putri pasti langsung minta berangkat ke Hong Kong nih!" ayahnya tampak sangat terkejut sekaligus gembira.


"Habis ini Lina cerita deh ke Mbah Putri, Papa, dan Mama kalau semua kerjaan udah beres. Biar nggak ngulang-ngulang cerita lagi. Mereka titip banyak ke Ling-Ling juga, Pa. Masih ada tuh di mobil belum di turunin." kata Lina, kemudian gadis itu teringat sesuatu. "Pa, Ling-Ling mau nanya. Kenapa papa nggak jadi berangkat ke Hong Kong? Chen Zhang... maksud Lina, Candra Indrajaya yang ngasih tahu Ling-Ling kalau harusnya kita berdua yang berangkat."


Ayahnya menatap sang putri sambil tersenyum hangat. "Papa mau kamu bener-bener liburan. Kalau sama papa nanti kamu nggak bebas karena nanti yang kamu dengerin ayam, kandang, ayam, kandang. Nggak rileks buat kamu."


"Tapi kan alamat itu penting, Pa. Itu alamat keluarga kita yang udah bertahun-tahun terpisah. Kalau misalkan saat itu Ling-Ling nggak nemuin, gimana? Kita bisa bener-bener nggak pernah ketemu mereka, Pa."


Papanya tampak berpikir. Lina benar, kalau saat itu Lina tidak berhasil menemukan alamat Shanghai Star, mereka tidak akan pernah mengetahui keadaan keluarga mereka di Hong Kong. "Ya, sih. Tapi.. Papa kira kebahagiaan anak papa jauh-jauh lebih penting dari segalanya."


Lina tertegun mendengar jawaban papanya. Cuma karena kebahagiaannya? Lina langsung memeluk tubuh janglung papanya erat-erat. Tak ada kata yang mampu Lina ucapkan untuk menjabarkan betapa beruntungnya dia lahir dan menjadi bagian dari keluarga yang sangat mengaguminya ini. "Makasih ya Pa, papa baik banget!"


"Sama-sama, sayang." Hartono lalu menatap putrinya. "Eh, ngomong-ngomong soal baik, jadi kamu ketemu sama anaknya Pak David? Anaknya baik, kan?!"


"Ngg... baik kok." jawab Lina ragu-ragu. "Udah ketemu kan senternya, Pa? Yuk!"