
"Ling-ling, apa website-nya? Papa mau lihat pengumuman kamu nih! Hari ini kan?" Papa berseru dari depan laptop. Mamanya duduk dengan raut ingin tahu di samping sang papa.
***
"Lupa" Lina berbohong, tanpa mengalihkan pandangan dari halaman majalah di depannya.
"Masa sih?" Mata sang papa, Hartono Budiawan keturunan Jawa dan China, yang sipit itu memandang Lina kanget. Nenek Lina orang China asli sementara kakeknya pribumi. Panggilan Ling-ling berasal dari neneknya. Lina mewarisi mata khas keturunan Tionghoa, sipit, juga rambutnya yang hitam dan lurus.
"Ada alamatnya di koran Pa! Sebentar Mama ambilkan di meja papa" Mamanya tak kurang akal.
Anita Anggoro, Mama Lina, merupakan pribumi asli solo yang berkulit kuning langsat. Warna kulit itu diwarisi Lina, perpaduan mata sipit, rambut hitam lurus, dan kulit kuning langsat membuat banyak orang bertanya-tanya apakah Lina benar-benar keturunan Tionghoa.
"Ling, Kamu masuk Fakultas Peternakan! Lihat Ling, kamu masuk! Nama kamu ada, Lina Budiawan. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor! anak Mama memang pintar! Pakdhe, Budhe dan Eyang Putri di Solo harus tahu! Anak Mama hebat! Jadi tanpa tes lagi ya ini?" Mamanya tampak begitu bahagia membaca nama anaknya yang tertera di layar laptop.
Lina memutar bola mata, sama sekali tak merasakan kebahagiaan ataupun kebanggaan seperti orangtuanya. Buat apa senang kalau itu bukan pilihannya? Itu justru yang di pilih orangtuanya. Bukan pilihannya! Dia seharusnya menggunakan kesempatan mengajukan formulir SNMPTN di jurusan yang menjadi minatnya, Sastra.
"Lina Budiawan ya?" suara seseorang perempuan bertubuh mungil dengan poni tebal membuyarkan lamunan Lina. Umurnya sekitar tiga puluh tahun, perempuan itu memegang bendera merah kecil bertulisan Samko Tour. Di genggamannya ada sepotong kue dan botol air mineral. "Saya Tour Leader" untuk perjalanan ini. Nama saya Fenita. Ini kue dan air untukmu sarapan. Air minumnya tolong di habiskan sebelum kita masuk ya, karna tidak di perkenankan membawa botol air kedalam ruang tunggu. Oh ya, kamu sendirian?"
"Oh ya, Saya mau kasih ini. Terima kasih ya!" Fenita berjalan sambil menentang plastik berisi kue dan botol air minum.
Lina mengamati kue lapis Surabaya di tangannya, lumayan untuk mengganjal perut. Sesuai jadwal tur, mereka di haruskan berkumpul pukul enam pagi di Juanda. Jadi dia tak sempat sarapan.
Pesawat CX-780 Cathay Pacific yang membawanya ke Hong Kong akan terbang pukul delapan lebih lima belas menit. Masih satu jam lagi. Sambil menggigit spikunya. Lina mengeluarkan ponsel dari saku. Mengecek akun Twitter yang lama tidak dia kunjungi. Mencari kegiatan untuk membunuh waktu. Namun keputusan Lina untuk online di social media masih sama buruknya seperti sebelum-sebelumnya. Matanya langsung menemukan nama-nama itu lagi. Brian dan Popi. Lengkap dengan foto mesra dan panggilan sayang.
"Dasar! Nggak malu apa!" Lina menggerutu, langsung sign-out. Dia berharap segera lupa password Twitter nya.
Seharusnya Lina ingat pesan Saras untuk jauh-jauh dari media sosial apa pun sebelum bisa berdamai dengan kenyataan. Kenyataan bahwa hubungannya dengan Brian sudah berakhir tiga bulan lalu. Popi memang sibuk mengumbar pacar barunya dimana-mana, seakan ingin menunjukkan pada dunia bahwa cowok tampan dan paling potensial di SMA Dharmawangsa, Brian Saputra. Sudah berhasil di rebutnya dari pelukan Lina. Cih! kekanak-kanakan!
"Ling-ling!" Mamanya berjalan menghampiri tempat Lina. Lina segera memasukkan ponselnya. Pagi ini mamanya tampak kelelahan seperti kurang tidur. Mamanyalah yang membantu mengecek perlengkapan berliburnya ke Hong Kong sampai larut malam. "Mama sudah mengosongkan botol minum ini. Dibawa ya, karena nanti di Hong Kong kamu bisa isi ulang dengan air dari tap watter di Bandara. Lebih gampang dan kamu nggak akan kekurangan minum selama di sana Ling."
Lina menerima botol itu dengan ragu-ragu. "Tapi nanti mama minum dari mana??"
Lina tahu itu merupakan botol minum kesayangan Mamanya. Wanita berusia empat puluh tahun itu mudah haus, jadi beliau membawanya kemana-mana.