A Week Long Journey

A Week Long Journey
Bab Tigatujuh



"Apakah terjadi kebakaran?" tanya kakek-nenek itu dengan suara serak dan terdengar khawatir. Wajahnya sudah di penuhi keriput sampai-sampai membuat kelopak matanya yang sipit tampak sulit terbuka.


Wanita gemuk yang di temui Lina pertama kali menggeleng. Jarinya menunjuk ke arah Lina. "Kai Ming Cheong ada di sini!"


Mereka bertiga sontak memandang ke arah Lina dari atas tangga tua. Lina sangat heran dengan pemandangan di depannya.


***


"Kai Ming Cheong?" nenek-nenek yang sudah sangat tua dan membungkuk itu kembali bertanya. "Tapi kenapa Kai Ming Cheong masih terlihat muda?"


"Kamu siapanya Kai Ming Cheong?" nenek-nenek yang umurnya tak jauh berbeda dari nenek Lina bertanya dengan bahasa Indonesia yang fasih.


Lina terperangah. Nenek ini bisa bahasa Indonesia? "Kai Ming Cheong? Siapa ya?" Lina balik bertanya, kini dia makin bingung karena nenek-nenek itu menyebut nama yang baru di dengarnya.


Nenek-nenek itu mengibaskan tangan tak sabar, dia menunjuk foto muda neneknya yang di bawa wanita gemuk bercelemek. "Karmini."


"Oh." Lina langsung tersadar. Karmini nama neneknya. "I am Karmini's granddaughter."


Hening. Semua terperangah kecuali Lina yang masih tidak tahu alasan mereka memantung.


Beberapa detik kemudian letupan kegembiraan kembali memecah kesunyian. Ketiga orang itu tampak kegirangan dan di penuhi antusiasme untuk menyambut Lina.


"Cicit Aca! Ini buyut! Kamu sangat mirip dengan Kai Ming Cheong waktu muda!" Nenek renta itu berjalan dengan penuh semangat walaupun tertatih-tatih dengan tongkat tuanya yang kusam, kedua tangannya terentang ke depan, tak sabar ingin memeluk Lina.


"Keturunan Kai Ming Cheong akhirnya datang!" wanita seumuran neneknya itu menuntun nenek renta yang menyebut dirinya Aca mendekat pada Lina. "Mengapa baru selama ini Tuhan mempertemukan kita lagii?!"


Kening Lina makin terlipat dan mulutnya makin terbuka lebar.


Buyut? Cicit? Dan orang-orang ini... bisa berbahasa Indonesia?


***


Lina menyesap teh hijau yang di sodorkan Fang-Fang dari mangkuk kecil. Rasa pahitnya menuadarkan Lina bahwa semua yang dialaminya nyata. Dua jam yang lalu dia nyaris putus asa mencari keberadaan alamat yang ternyata toko kumuh ini, lalu sekarang dia ada di sana, menikmati Jamuan minum teh bersama Chen Zhang dan... keluarganya.


Ya, Keluarganya. Wanita galak yang memarahinya karena memegang kunyit itu ternyata sepupunya, Fang-Fang. Nenek-nenek seusia neneknya ini ternyata ipo atau adik neneknya. Ipo Hang sendiri adalah nenek Fang-Fang. Kemudian kakek dan nenek yang tampak sangat rapuh tadi kakek dan nenek buyutnya! Aco dan Aca!


Selama ini dia tidak tahu kakek dan nenek buyutnya masih hidup.


Setelah meminta maaf kepada Lina sampai membungkuk-bungkuk karena sikapnya yang kasar tadi, Fang-Fang tak henti-hentinya mengamati Lina, dari atas sampai bawah. Fang-Fang tampaknya tak bisa menyembunyikan rasa takjub karena bisa bertemu dengan sepupu yang selama ini hanya dianggapnya sebagai legenda. Aco beberapa kali bercerita tentang keluarga mereka di Indonesia yang sudah terpisah selama puluhan tahun. Fang-Fang tak mengira hari ini dia bisa bertemu dengan saudaranya itu. Tak hanya Fang-Fang, tapi juga seluruh orang di ruangan ini.


"You're real." ucap Fang-Fang sambil mengamati Lina lekat, dia tidak bisa berbahasa Indonesia dengan lancar karena memang lahir dan besar di China, namun Fang-Fang fasih berbahasa Inggris.


Tatapan Fang-Fang membuat Lina merasa menjadi patung di Madam Tussaud, setiap detailnya di perhatikan dengan seksama.


"Kamu mirip Kai Ming Cheong." Ipo Hang tak henti-hentinya membelai rambut Lina dengan penuh kasih sayang. Seakan tak percaya gadis di depannya ini nyata. "Bagus sekali dia menamaimu Ling-Ling. Kami berdua memang suka menamai dengan mengulang suku kata."


Orangtua neneknya. Mereka masih hidup. Lina sulit percaya ini semua nyata.


"Kami sudah sangat lama tidak bertemu dengan Kai Ming Cheong, nenekmu. Dia mengubah namanya menjadi Karmini setelah menetap di Indonesia." kata Ipo Hang dengan berbahasa Indonesia yang fasih, di tangannya terdapat surat yang di tulis nenek Lina Indonesia puluhan tahun lalu. Kertas surat itu sudah menguning, mirip sampul coklat buku tulis.


"Ipo lahir di Surabaya sampai usia dua puluhan. Lalu kami sekeluarga akhirnya pindah ke Hong Kong, Ling. Karena peraturan Pemerintah No.10 tahun 1959 saat itu, warga China dan keturunannya harus kembali ke negara asal. Surat ini surat pertama yang dikirim Kai Ming Cheong setelah kami berpisah beberapa bulan. Nenekmu mengirimkan surat ini ketika kami masih di pengungsian dan belum pindah ke Mang Wui Man. Dalam suratnya, nenekmu bercerita baru saja melahirkan anak laki-laki dengan selamat, dia memberi nama Hartono Budiawan, nama panggilannya Han-Han. Setelah itu kami pindah ke Mang Wui Man dan kami pun membalas surat ini. Kami tak pernah menerima surat lagi dari Kai Ming Cheong setelahnya. Entah karena pindah, tidak sampai, atau.. kami berdoa semoga Kai Ming Cheong selamat."


"Mengapa kalian berpisah dengan Nenek?" Lina berharap dapat mendengar cerita lengkapnya.


Ipo Hang menghela napas sebelum melanjutkan ceritanya. Matanya yang menerawang tampak berkaca-kaca. Ingatannya kembali mengembara pada saat-saat dia harus terpaksa berpisah dengan kakak yang sangat di cintainya.


"Terhitung sejak kami harus kembali ke China, tahun 60-an, kami tak melihat Kai Ming Cheong lagi. Tapi Tuhan memberikan keajaiban, akhirnya hari ini kita bisa bertemu." Lina ikut bersedih mendengar cerita itu.


"Apa waktu itu sangat banyak orang China yang harus kembali ke negara asalnya?" benak Lina membayangkan kejadian saat itu. Rusuh, orang-orang menjerit, semua berlarian, dan banyak orang terpisah dari orang-orang yang di cintainya. Air mata... Darah...


"Ya! Sangat banyak orang yang harus kembali ke China." Kakek buyutnya menyambung dengan bahasa indonesia yang sama lancarnya, suaranya yang serak sudah nyaris habis.


Lina bisa merasakan kepedihan kakek buyutnya menunggu kabar dari neneknya sedemikian lama. Hatinya mendadak terasa perih.


"Kamu sebut Kai Ming Cheong apa? Mbah Putri?" tanya nenek buyut Lina. "Ah ya, itu sebutan untuk A Ma dalam bahasa Jawa, ya? Dia sangat mencintai Jawa, semua itu karena Sudarman, kakekmu."


"Kai Ming Cheong masih beternak ayam petelur? Berapa ekor ayam yang dia punya?" Ipo Hang tampak tertarik. "Tuhan, dia benar-benar merawat ayam-ayam itu!"


"Sampai sekarang masih. Papa juga beternak. Jumlahnya?" Lina berpikir, agak menyesal sangat jarang ke kandang. "Ling tidak tahu pasti, mungkin sekian ratus ribu."


"Han-Han ikut beternak?" Aca terbelalak. "Hidup Kai Ming Cheong sangat di berkati! Terima kasih, Tuhan! Tidak salah ayam itu kau berikan pada Kai Ming Cheong. Ayam itu selama ini berguna."


"Usahanya maju, Sheung. Ratusan ribu ekor!" Aco tampak gembira.


"Ipo ingat Aco memberikan sepasang ayam pada nenekmu. Ipo tak menyangka sepasang ayam itu bisa berkembang sampai ratusan ribu begitu, Ling."


Lina mengangkat jari tengah dan jari telunjuk setengah tak percaya. "Se, sepasang? Jadi Mbah Putri beternak ayam itu mulai dari.. dua ekor? Dari Aco?"


"Dua ekor?" di samping Lina, Chen Zhang yang ikut mendengarnya juga sama takjubnya.


"Gimana ceritanya, Ipo?" Lina nyaris tak percaya nenek dan kakeknya membangun usaha benar-benar dari nol.


"Ceritanya panjang, Ling. Saat itu Indonesia bergejolak dan ketika peraturan itu berlakukan, Ipo dan nenekmu masih muda. Usia kami mungkin awal dua puluhan. Orang asing tidak boleh berdagang. Toko kain kami terbakar, harta kami ludes, termasuk ayam-ayam Aco ikut dijarah."


Aca yang sejak tadi menyimak kemudian ikut bercerita. "Sebelum kmai benar-benar pergi ke China, Aco memberikan sepasang ayamnya yang tersisa, yang sengaja di sembunyikan, untuk nenekmu dan kakekmu. Kami tak yakin sepasang ayam cukup untuk biaya persalinan nenekmu, tapi tak apa."


Aco menimpali, ada nada sendu dalam suaranya. "Sepasang ayam itu sebagai kenang-kenangan dan.. tanda perpisahan. Semoga Kai Ming dapat memanfaatkannya. Saat itu Aco benar-benar tak yakin bisa bertemu lagi dengan nenekmu."


Lina termenung menyimak kisah yang di tururkan keluarganya. Tak ada kata-kata yang mampu melukiskan perasaannya sekarang, rasanya dia baru saja mendengar dongeng nyata dengan keluarganya sebagai tokohnya.