A Week Long Journey

A Week Long Journey
Bab Empatlima



"Udah sering kayaknya dia ke Hong Kong begitu. Ikut papanya mengatur tour begini. Berbakat dia, seperti ayahnya."


"Ini kan tour Jaya Raya? Kok diatur sama Chen Zhang?"


***


Lina keheranan. "Ayahnya saudaraan sama yang punya Samko Tour?"


"Kan dia emang dari Jaya Raya," kata Bu Henu lagi, heran. "Kamu belum tahu?"


Lina makin tidak mengerti. "Jaya Raya kerja sama bareng poultry shop keluarga Chen Zhang untuk ngadain tour ini, Bu?"


Lina berpikir pasti keluarga Chen Zhang bisnisnya maju banget, dia juga punya travel agent, nggak salah dengan jurusan yang di ambilnya sekarang.


"Kamu masih belum tahu juga?" Dewi memandangnya heran.


"Eh, tahu apa sih?" Lina menyerngit.


Bu Heni langsung menyahut, "Poultry Shop apaan, dia itu memang yang punya poultry shop, tapi se Jawa Timur, se Indonesia! Poultry Shop di Jawa Timur itu kan paling banyak di isi produk Jaya Raya. Dia itu putra pertama yang punya pabrik Jaya Raya, Lin. Anaknya Pak David Indrajaya, kamu belum pernah ketemu memangnya? Dia itu kan Candra Indrajaya."


"Hahh?" Lina ternganga. Candra Indrajaya? Anaknya Pak David Indrajaya? Yang tajir ****** itu?


Bu Heni melanjutkan kalimatnya, "Nama Tiong Hoa nya Chen Zhang. Anak itu memang cerdas kayak Pak David. Setiap ada tour, Candra slalu ikut untuk membantu dan memastikan semua berjalan dengan lancar. Kami selalu puas dengan hasilnya. Candra juga selalu meningkatkan servis ke pelanggan-pelanggan. Pantaslah dia jadi asisten papanya. Syukur-syukur ada Jaya Raya part two! Tapi denger-denger bulan depan dia mau kuliah lagi ke Munich."


Lina terpaku di tempat.


Chen Zhang... Candra Indrajaya... Jaya Raya...


Pantas aja Chen Zhang sudah mengenal papa Lina, pantas saja Chen Zhang tahu banyak tempat di Hong Kong, pantas saja Chen Zhang tahu jadwal tour di luar kepala, pantas saja Chen Zhang tahu kursi kosong itu milik papanya. Pantas saja...


"Ling!" Chen Zhang menghampiri Lina, cowok itu mendorong troli berisi kopernya. "Barang bawaanmu banyak, mau aku bantuin bawain? Troliku masih muat, nih."


Lina memandang Chen Zhang dengan ekspresi datar. "Nggak, makasih ya. Chen..Sori, maksudku CANDRA INDRAJAYA YANG TERHORMAT! Minggir! Aku mau pulang."


Chen Zhang terperangah. Cowok itu menatap kepergian Lina dengan kebingungan yang sulit di jelaskan.


"Ling-Ling..." Chen Zhang lalu menatap Dewi, Rita, dan Bu Heni bergantian. Berharap satu diantara mereka bisa menjelaskan penyebabnya.


"Dia baru saja tahu kalau kamu Candra Indrajaya." jawaban dari Rita membuat Chen Zhang terbelalak. "Hah? Kok.."


"Bu Heni tadi yang cerita." Dewi lalu menghela napas. Sedikit terkejut bercampur kesal. Cowok di depannya ini membuat masalah sepele menjadi besar saja. Apa susahnya memberitahukan yang sebenarnya sejak awal.


"Jadi kamu belum ngasih tahu dia? Sikap kayak begini justru bikin dia tersinggung dan merasa di sepelekan. Dia pasti nggak tahu apa maksudnya kamu bersikap seperti itu. Bisa jadi dia merasa terhina karena sudah kamu bohongi mentah-mentah."


"Aku baru mau ngomong soal ini sekarang! Aku baru mau ngenalin dia ke Papa setelah ini." Chen Zhang tampak frustasi. Timming nya benar-benar cuma melesat beberapa menit. "Ling! Tunggu!"


Chen Zhang berusaha menyusul langkah Lina yang sudah jauh di depan, tapi terlambat. Lina sudah masuk ke mobil hitam yang segera membawanya pergi meninggalkan Juanda. Chen Zhang berusaha memanggil Lina beberapa kali tapi kerumunan orang-orang menggelamkan suaranya.


"Damm it!" umpat Chen Zhang.


Bukan ini akhir yang di harapkannya.


Aku benci pembohong. Benar-benar nggak suka! kalimat yang di ucapkan Lina di imigrasi Shenzhen kembali terngiang di telinganya.


"Mas Candra!" Seorang wanita yang merupakan salah satu sekertaris Pak David untuk closing ceremony tour. Sebagai penanggung jawab tour, Pak David menyerahkan penutupan ini ke Mas Candra."