
Mas Yofan tampak tidak puas. Di Indonesia tidak ada barang aspal sehalus ini. Kalau cuma buat gaya, ponsel ini lebih dari cukup. Tapi apa daya.
***
Lina duduk sendirian lagi di bus. Sibuk memotret pemandangan dengan kamera saku. Beberapa hasilnya buram karena bus yang lebih bagus dari pada bus Macau ini bergerak naik turun, mengikuti irama jalan raya. Lina jadi menyesal dia tidak membeli DSLR dengan tabungannya. Seandainya dia menuruti saran Saras untuk beli DSLR pasti gambar yang dia ambil lebih bagus dari pada ini, kapan lagi dia ke Hong Kong coba?
"Hotel!" kata Pak Tong. Tangannya menunjuk bangunandengan dua patung singa berwarna emas. "Kita nginap disini"
"Aku nggak mau sekamar sama cewek itu lagi Rit" bisik Dewi ketus ketika rombongan tour menanti koper-koper mereka di turunkan dari bus.
Dewi menarik kacamata hitam nya ke kepala. Kebiasaan yang sekaligus menjadi gaya andalannya. "Bertahun-tahun ayahku hidup susah, gara-gara siapa? Ya gara-gara keluarga cewek itu! Aku akan buat perhitungan dengan Mbak Fenita"
"Apa nggak mencolok? Kamu buat perhitungan aja sama Lina, jangan sama Mbak Fenita. Bilang kita tukeran kamar." Rita yang sudah hampir sepuluh tahun menjadi sahabat Dewi, mencegah dengan segera. Tindakan Dewi terlalu gegabah dan intuitif.
Dewi tak mengindahkan, dia berjalan menghampiri Fenita yang sedang berbicara resepsionis. "Mbak, saya mau bicara sesuatu"
Fenuta menoleh, agak kaget. "Kenapa Wi? Ada yang bisa dibantu?"
"Hari ini susunan kamarnya sama?"
"Iya, sama"
Persis sama yang di bayangkan Dewi. "Bisa tukeran nggak? Saya nggak bisa sekamar sama Lina, saya mau sama Rita. Lina biar dengan Ayi Marcella, atau yang lainnya. Pokoknya saya nggak mau sekamar sama cewek itu!"
"Loh, kenapa Wi?" memasang wajah raut kaget dan penuh tanya.
"Ya, pokoknya saya nggak mau." Dewi tetep kukuh. Tidak memberi celah pada Fenita untuk menawarkan keinginannya.
"Mbak Fenita, saya bisa sekamar sama Ayi marcella atau yang lainnya"
Dewi sontak menoleh ke asal suara, darahnya langsung berdesir. Di belakangnya kini berdiri gadis yang ingin di berinya pelajaran atas apa yang ditanggung ayahnya selama ini.
Telinga Lina memanas mendengar percakapan yang tak sengaja dia curi dengar. Awalnya dia ingin menanyakan letak kamar mandi di hotel ini. Kalimat-kalimat Dewi membuatnya seperti tersambar petir di siang bolong.
Sikap Dewi yang selama ini Lina harapkan cuma perasaannya yang kelewat sensitif, ternyata salah. Dewi dan Rita benar-benar membenci dirinya. Tanpa alasan yang Lina ketahui.
Oke, kamu jual, aku beli. Kayak bakal sengsara aja kalau di benci mereka!
"Mbak Fenita, saya biar sekamar sama Ayi Marcella atau yang lainnya." ucap Lina tegas. Tangan yang memegangi kopernya kini gemeteran, darahnya terasa bergolak.
Dewi tanpak gegelapan. dari raut mukanya, dia pasti sama sekali tak menyangka Lina mendengar percakapannya dan muncul tiba-tiba.
Setelah berhasil menguasai diri. Dan dengan hidung terangkat Dewi berkata pada Fenita. "See? Dia juga setuju kok mbak"
"Aku memang setuju untuk menyudahi sesuatu yang menyangkut hal buruk" balas Lina tajam.
Tak ingin terlibat permasalahan pribadi mereka berdua, Fenita mengangsurkan kedua kartu. "Baiklah, ini kunci kalian"
Dewi langsung menyambar kuncinya dan berlalu.
"Terima kasih Mbak" ucap Lina sambil mengambil kuncinya dari tangan Fenita. Lebih baik sekamar dengan nenek-nenek dari pada dengan cewek jahat!
"Rasain sekamar sama eyang-eyang, emang enak!" bisik Dewi puas ditelinga Rita. Keduanya terkikik geli.
***
"Ling-ling nggak tahu kenapa Ayi, tapi tiba-tiba dia kayak gitu sama Ling-ling" kata Lina sambil menyeka air mata yang tak kuasa jatuh di pipi. Dia bukan sedih karena perlakuan Dewi. Dia hanya merasa dilecehkan oleh orang yang belum lama dikenalnya dan itu membuatnya terhina. Selama ini tidak ada yang pernah bersikap seperti itu kepadanya, gadis itu di besarkan dengan penuh hormat dalam lingkungan sekitarnya.
Lagi pula, perilaku Dewi sungguh tidak adil. Lina merasa tak pernah merasa berbuat sesuatu yang buruk sampai harus di perlakukan seperti itu. Baginya ini semua sangat tidak adil.
"Kamu lupa ya sama dia? Dia itu anaknya Pak Yusmadi. Peternak yang dekat rumah kamu juga"