A Week Long Journey

A Week Long Journey
Bab Empatenam



"Mas Candra!" seorang wanita yang merupakan salah satu sekertaris Pak David Indrajaya menepuk bahu Chen Zhang. "Di tunggu Pak David untuk closing ceremony tour. Sebagai penanggung jawab tour, Pak David menyerahkan penutupan ini ke Mas Candra."


***


Di dalam mobil semua hal berputar-putar dalam kepala Lina. Rasanya sesuatu baru saja menghantam kepalanya dengan keras. Lina mempertanyakan dirinya sendiri mengapa dia tidak menyadari nama Chen Zhang itu Candra Indrajaya sejak awal. Tapi kemudian dia ingat... Chen Zhang selalu muncul menyambar paspor sebelum namanya selesai di sebut Fenita.


Cowok itu juga menyuruh dirinya untuk memanggil nama Chen Zhang saja, tanpa embel-embel apa-apa. Tanpa Mas, Kakak, atau Koko sekali pun dia lebih tua dari pada Lina.


Dasar ****! umpat Lina pada dirinya. Mungkin ini karena lesung pipinya, atau parfum Bulgari Extreme nya.


Mengapa Chen Zhang tidak mengatakannya sejak awa? Mengapa Chen Zhang cuma bilang dia mahasiswa tingkat akhir dan anak pemilik poultry shop? Kenapa Chen Zhang tidak mempercayai Lina untuk mengetahui identitas aslinya?


Padahal selama ini Lina mempercayai Chen Zhang untuk tahu bagian paling rahasia dari kisah hidupnya. Dia berbagi mimpi dan rahasianya dengan Chen Zhang selama di Hong Kong. Tapi sekarang dia sadar... Chen Zhang tak membagi apapun dengannya selama ini.


Lina yakin dirinya terlalu cepat mempercayai orang. Pasti dia keliatan murahan banget.


Lina menggeleng. Dia tidak mau memikirkan alasan yang membuat Chen Zhang seperti itu. Itu bukan urusannya, itu urusan Chen Zhang sendiri! Intinya, Chen Zhang sudah membohonginya! Dan, Chen Zhang pembohong!


Kenapa semua laki-laki di dunia ini nggak ada yang bisa lepas dari kebohongan? Aku pikir Chen Zhang bakalan beda, tapi ternyata sama aja. Apa bedanya dia dengan Brian buaya darat itu? Ada! Mereka ada bedanya. Bedanya ternyata Brian lebih baik di bandingkan Chen Zhang! Seenggaknya Brian tidak membohonginya dari awal. Tapi Chen Zhang? Sejak awal bertemu pun dia masih sempat-sempatnya berbohong!


"Mbak, sudah telepon Bapak atau Ibu?" Lina tergeragap, pertanyaan Pak Bejo, supir yang sudah bekerja di tempatnya selama belasan tahun, menyadarkannya dari lamunan. "Apa, Pak?"


"Belum." Lina menggeleng dan baru tersadar, di mobil ini dia cuma berdua dengan Pak Bejo. "Emang, Mama Papa kemana Pak? Katanya mau jemput ke Juanda kalau saya pulang. Kok dari tadi saya telepon nggak ada yang bisa?"


"Ngg, itu... jadi Bapak dan Ibu juga belum ngabarin mbak Lina?"


"Belum, memangnya ada apa, sih?"


"Kandang kita, Mbak..." Pak Beji menghentikan ucapannya, lalu berkata lirih. "Kandang kita kebakaran."


"HAH? KEBAKARAN!??"


***


Lina sampai rumah jam sebelas malam, papa dan mamanya masih belum pulang, hanya ada Mbah Putri yang menyambutnya dengan wajah panik dan pucat. Tak butuh waktu lama bagi Lina untuk memutuskan menyusul papa dan mamanya ke kandang. Berita terakhir yang dia dengar, api yang berkobar belum berhasil di padamkan.


Saat itu Lina melihat dengan mata kepala sendiri berkobaran api membumbung tinggi, kepulan asap berwarna hitam mengepul dari radius lima ratus meter. Begitu dahsyatnya api yang membakar sampai-sampai panasnya terasa di kulit Lina.


Baru kali ini Lina berada dalam situasi semencekam itu. Malam gelap gulita dan satu-satunya penerangan hanya berasal dari kobaran api yang sedang melalap kandang ayam keluarganya. Orang-orang berlalu lalang dengan panik, sebagian membantu menyediakan air untuk memadamkannya. Karyawan-karyawan Unggul Maju Farm, yang sejatinya sudah pulang sejak jam empat sore, malam itu tanpa di komando kembali ke kandang dan membantu menyelamatkan ayam-ayam meskipun hasilnya tidak setimpal. Hanya sepuluh persen ayam yang berhasil di selamatkan sebelum terlelap api, sisanya hangus. Ini jelas bukan urusan kelangsungan usaha bos mereka saja, tapi juga urusan perut keluarga mereka.


Di tengah kondisi carut marut seperti itu, Lina tidak bisa menemukan papa dan mamanya. Yang dapat gadis itu lakukan saat itu adalah membantu orang-orang yang tinggal di sekitar Unggul Maju Farm untuk menyediakan air. Gadis itu tidak memedulikan kedua telapak tangannya yang lecet karena terlalu sering mengangkut ember berat bergagang kawat.