A Week Long Journey

A Week Long Journey
Bab Tigaenam



Wanita itu tampak marah melihat barang-barang dagangannya dipegang-pegang sembarangan, dia terus mengacung-acungkan gagang sapu ke arah Lina sambil berkata dengan nada tinggi dalam bahasa Mandarin. Lina tidak mengerti artinya, tapi yang jelas terlihat dari tampangnya, wanita itu sangat amat marah.


"I am sorry." ucap Lina sambil meletakkan kunyit itu kembali.


Wanita berusia sekitar 35 tahunan itu mengusir Lina dan Chen Zhang dengan berteriak-teriak. Tangannya mengibas-ngibas seperti mengusir ayam-ayam yang sembarangan masuk rumah orang.


***


"Ehh," Lina memberanikan diri bertanya ketika dilihatnya wanita itu akan masuk ke toko lagi setelah mengusir mereka.


"Can you speak English? Because, I ve been searching this address. Your address."


Lina menyodorkan kertas dari neneknya. Wanita itu mendekat dengan curiga dan ragu-ragu, setelah membacanya wanita itu bertanya dengan nada ketus. "Who are you?"


"Lina Budiawan, Indonesia. I dont know this place before but my grandmother gave me this address before I left Indonesia for a holiday. She asked me to show a picture to some pople that I am going to meet at this place, Wait." Lina membuka tas dan mengeluarkan buku catatannya. Ada selembar foto hitam putih kusam yang terselip di antara halaman buku itu.


Neneknya memberikan foto tersebut bersamaan dengan alamat toko kelontong muram ini dan memintanya untuk menunjukkan pada orang yang menghuni alamat ini. Sejujurnya dia sendiri tidak tahu apa yang diinginkan neneknya.


Neneknya hanya bilang agar dia mencari alamat itu dan jika Lina berhasil menemukannya, dirinya harus menyerahkan foto itu kepada penghuninya. "Do you know this picture?"


Tak berapa lama kemudian mata wanita itu membulat, tangan kanannya mengangkap mulutnya sendiri. Wanita itu menatap Lina dan foto itu bergantian dengan tatapan tak percaya. "A Ma Kai Ming Cheong! Are you..?"


Lina masih tak mengerti mengapa wanita di depannya mendadak bereaksi demikian. Wanita itu lalu berlari masuk rumah sambil berteriak-teriak, memanggil seisi rumah sambil melompat-lompat seperti baru saja menemukan bebek bertelur emas. "Kakek buyut! Nenek buyut! A Ma! Kai Ming Cheong! Kai Ming Cheong!"


Suara gaduh langsung terdengar di lantai dua, yang ternyata merupakan tempat tinggal para penghuni toko kelontong ini, beberapa orang langsung turun dengan wajah panik begitu mendengar wanita itu berteriak-teriak histeris dari lantai bawah.


Ada seorang lelaki yang sudah renta dan seorang wanita yang juga sama renta. Sepasang kakek-nenek itu tampak sangat rapuh, jalan mereka sudah membungkuk di bantu tongkat. Namun mereka itu masih tampak lincah, tidak tertatih-tatih.


Di belakang sepasang kakek-nenek itu, ada wanita yang berumur nyaris sama seperti neneknya, berjalan lebih tegap. Rambut mereka bertiga sudah sama-sama memutih.


"Apakah terjadi kebakaran?" tanya kakek-nenek itu dengan suara serak dan terdengar khawatir. Wajahnya sudah di penuhi keriput sampai-sampai membuat kelopak matanya yang sipit tampak sulit terbuka.


Wanita gemuk yang di temui Lina pertama kali menggeleng. Jarinya menunjuk ke arah Lina. "Kai Ming Cheong ada di sini!"


Mereka bertiga sontak memandang ke arah Lina dari atas tangga tua. Lina sangat heran dengan pemandangan di depannya.