
"Apalagi kalau cobaannya dari orang yang di anggep dekat!" sahut Dewi, matanya langsung menatap Lina.
Lina menghentikan kunyahannya dan mengangkat alisnya. "Kenapa liat-liat?"
***
Di sampingnya, Chen Zhang berharap kali ini tidak akan ada pertengkaran cewek seperti yang pernah dia liat di film-film. Karena itu mengerikan. Dan tampaknya, Dewi dan Lina sama-sama siap untuk itu.
"Oh ya, itu emang cobaan terberat dan biasa terjadi. Tapi dengan begitu kan kita bisa tahu apa orang tersebut masih pantas untuk dekat dengan kita atau tidak." Pak Kamto menimpali. "Saya rasa semua orang juga pernah punya pengalaman seperti itu, kok."
"Pak Kamto punya pengalaman yang sama?"
"Ya, Wi. Untuk tetap bertahan di posisi saya ini juga dapat tekanan dari teman sekantor dulu. Tapi saya anggap itu biasa dalam dunia kerja. Semakin tinggi pohon kan semakin kencang anginnya. Semua orang juga ingin menjadi yang terbaik, tapi kualitas moral mereka yang menentukan cara yang akan mereka tempuh. Kotor atau bersih.."
"Ya, kualitas moral." Dewi langsung memetik jari tanda setuju. "Betul, Pak. Kualitas moral. Jadi hampir semua merasakan hal yang sama, ya? Kalau kamu Lin?"
Lina mendongak. "Aku? Biasa aja. Sekelilingku orang baik semua, yang dejat juga selama ini orang baik, Syukurlah."
"Oh ya? Wow!" Dewi pura-pura takjub. "Nggak pernah ada record di tusuk dari belakang. Kalau record menusuk dari belakang? Pernah ya?"
"Apa maksud kamu?" Lina mulai tidak nyaman. Pertanyaan itu lebih terdengar menyindir. Atau lebih tepatnya menuduh.
"Kamu gimana Ling, di peternakan? Sering membantu ibumu, kan?" Ayi Jaya tiba-tiba bertanya sebelum Dewi buka suara lagi.
Lina memandang Ayi Jaya dengan tergeragap. "Ng..yah..lumayan"
Sering membantu apanya? Aduh, Makin buruk aja nih.
"Sekarang di tempatmu pakai konsentrat berapa persen?"
"Ya, produkmu kan stabil tuh. Kamu pakai konsentrat Jaya Raya berapa, nak?
Lina terdiam. Berapa persen konsentrat yag dia pakai ya? Dia sama sekali nggak pernah tahu.
"Mana dia mau bocorkan rahasia perusahaannya ke kita." Dewi berkata dengan pongahnya. "Itu rahasianya Unggul Maju."
"Loh, tapi kan boleh dong berbagi?" kali ini Rita yang semula diam menimpali. Wajahnya yang tirus itu ikutan memandang Lina dengan congkak, membuat Rita kelihatan seperti tikus sawah yang meminta makan. Lina sama tidak sukanya dengan Rita, seperti dia tidak suka terhadap Dewi yang judes. Mereka ini kan kuda-kuda liar yang bersekongkol.
"Dia? Berbagi?" Dewi menyahut sambil tertawa sinis. "Rasanya nggak akan deh, Rit. Sama banget kan kayak bapaknya? Segalanya pasti di rahasiain, biar nggak ada yang tahu dan nggak ada yang nyaingin aja sih, Rit. Padahal sih, rejeki juga nggak akan kemana kan?"
Rasanya melibatkan ayahnya disini artinya ngajak ribut.
"Apasih masalah kamu sebenernya? Kenapa tiba-tiba ke Papaku?" tanya Lina dengan nada kesal yang tidak bisa disembunyikan. Sendok dan garpunya diletakkan di meja. Dia sudah tidak berselera makan lagi, seleranya berganti ingin tahu kenapa Dewi selalu melihatnya dengan tatapan yang mengesalkan sekaligus memancing emosinya. Karena dia bener-bener tidak tahu kenapa Dewi harus memusuhinya, sampai detik ini. "Kamu kayaknya punya masalah sama diri kamu sendiri!"
"Sudahlah Lin, makan dulu." Ayi Viona yang duduk di samping Lina meletakkan sepotong gurami asam manis di piringnya. Lina langsung tersadar bahwa percakapannya dengan Dewi membuat suasana meja makan ini tidak nyaman.
"Ma-makasih, Ayi." kata Lina dengan senyum terpaksa, tapi selera makannya sudah terlanjur hilang. "Ling-Ling mau ke kamar mandi dulu, Ayi."
Lina bangkit dari duduknya. Rasanya ingin segar cukup untuk menenangkan hati dan kepalanya.
"Dewi," panggil Ayi Viona saat Lina sudah menjauh.
"Ya, Tante?" kata Dewi. Wajahnya tampak sangat puas meluhat musuhnya pergi dengan sendirinya. Itu memang tujuannya! Mempermalukan Lina.
"Kami tahu apa yang membuat kamu bersikap seperti itu kepada Lina." Ayi Viona, Ayi Jaya, dan Ayi Marcella dan menatap ke arah gadis yang sedang dipenuhi nafsu balas dendam itu. Dewi langsung tersentak kaget, dan wajahnya memerah.
"Kamu harus mendengarkan cerita kami dulu, lalu kamu bisa bertanya kepada ayahmu itu apakah cerita kami benar. Ayahmu bisa kapan saja mendatangi kami kalau tidak terima."