
"Gila itu cuma buat orang-orang yang lemah." Ayi Jaya terkekeh. "Masa mau gila gara-gara nggak tercapai mimpinya? Masa kamu selemah itu? Kamu memangnya sudah berencana buat jadi gila ya kalau nggak kesampaian mimpinya?"
***
"Nggak lah, Ayi." Lina jadi ikut tertawa. Syaraf-syarafnya sedikit mengendur. "Tapi kan ada yang bilang banyak orang gila karena mimpinya nggak tercapai."
"Lah, masa kamu mau di samakan kayak mereka yang gila itu kualitas nya? Ya lain dong! Anaknya Hartono gitu!" Ayi Jaya menepuk bahu Lina, berusaha menginjeksi semangat pada gadis muda di hadapannya. "Percaya diri dong. Kamu itu punya banyak orang-orang yang sayang sama kamu kalau saja kamu mau menyadari itu. Demi orang-orang yang percaya sama kamu, Ling. Demi orang-orang yang sudah berjuang demi kamu, kamu nggak bisa nyerah gitu aja. Nggak bisa aku tiba-tiba berhenti seperti pecundang."
Realis dan idealis jadi satu? Sepertinya jadi novelis dan peternak itu terlalu jauh sambungannya. Mana idealisme yang harus di realisasikan?
"Ayi ngomongnya jangan gitu, Ling jadi terbebani." Lina berkata jujur lalu tertunduk. "Ling nggak pernah minta ada di posisi ini. Apa yang Ayi bilang itu benar, tapi Ling-Ling nggak merasa mampu melakukannya. Menjadi peternak yang baik seperti yang Mama Papa harapkan. Ling-Ling punya sesuatu yang Ling-Ling senangi dan minati sendiri."
Ayi Jaya menatap Lina dengan pandangan teduh, lalu tersenyum. "Kamu itu lebih baik dari pada apa yang kamu pikirkan. Kamu nggak sehebat ketika orang lain memujimu tetapi juga kamu nggak seburuk ketika orang lain meremehkanmu, kata motivator siapa itu? Merry Riana! Nah ya itu, Cucu Ayi suka banget baca bukunya. Percaya aja sama dirimu sendiri. Banyak orang yang pingin jadi sepertimu. Kalau mau jadi orang hebat itu memang susah, nggak semudah membalikkan tangan, tapi ya nggak sesulit memindahkan gunung."
Lina menggeleng. "Ling nggak mau jadi orang hebat, Ling cuma pingin mimpi Ling terwujud."
"Itu juga hebat! Ya udah, usaha lah! Buktikan kamu bisa untuk mewujudkan mimpimu." Ayi Jaya menyemangati gadis itu, bahunya di goyang-goyangkan, tetapi gadis itu tetap bergeming dan tak ada semangat. "Kayaknya kamu beneran lagi kusut. Sana jalan-jalan dulu. Kamu nggak ada agenda hari ini? Ini kan hari kosong tour, kamu bisa jalan-jalan. Di belakang ada pasar Ladies Street. Murah-murah loh."
Lina menggeleng. "Lagi nggak mau kemana-mana Ayi."
"Minta temenin Chen Zhang aja! Bukannya kamu sering bareng sama dia selama tour? Oh ya, dia sekamar sama pak kamto. Di lantai atas, kok. Sana kalau mau pergi. Biar segar pikiranmu itu."
Lina merasa sangat bersalah. Harusnya dia tak mengatakan kalimat sekasar itu pada Chen Zhang yang berusaha peduli terhadapnya. Kalau bukan karena Chen Zhang, liburan ini sudah berakhir untuknya sejak pertama datang ke China. Berkat keberadaan Chen Zhang, liburannya lebih menyenangkan. Paling tidak sampai kemarin.
Aduh, keadaannya semakin rumit saja.
"Nggak bisa, Ayi." kata Lina lesu. Kepalanya menggeleng.
"Kenapa nggak? Kamu lagi berantem sama dia?" tebakan Ayi Jaya tepat sasaran.
Lina terdiam. Memangnya wajahnya gampang terbaca, ya? Ayi Jaya terlalu tepat menebaknya. Tapi sudahlah, Lina memang bukan orang yang bisa luwes berbohong untuk menutupi perasaannya.
Lagi pula Lina berharap jika Ayi Jaya tahu dia bertengkar dengan Chen Zhang, Ayi Jaya akan mengatakan pada cowok itu bahwa sekarang dirinya sangat menyesal dengan perkataan kasarnya kemarin. Itu pasti akan sangat membantunya memperbaiki hubungan dengan Chen Zhang.
"Kenapa kok sampai berantem sama Chen Zhang juga? Dia itu baik loh sama kamu, Ling. Waktu kamu kehujanan di Shenzhen, inget nggak? dia malam-malam ke kamar nyari kamu, eh tapi kamu udah tidur. Dia bawakan teh hangat buat kamu."
Lina tersentak. "Masa, Yi?"
"Ya, aku mai bangunin kamu Ling, tapi Chen Zhang yang bilang nggak usah, biar kamu istirahat saja. Dia cuma pesan kalau kamu butuh apa-apa, telepon kamarnya."
Lina mengedikkan bahunya. Dirinya semakin merasa bersalah, mungkin setelah ini dia tidak bisa menemui Chen Zhang. Hatinya sangat tidak enak. Selama di sini Chen Zhang sudah teramat baik terhadapnya, seharusnya balasan yang dia terimanya tidak seperti itu.