
"Shit!"
Kedua kakinya otomatis berhenti saat melihat mereka. Oh apa mereka teman-teman dari vampire tadi?
"Mau lari kemana kau huh?" Ujar salah satunya sambil berjalan mendekati Clarita.
"Beraninya kau membunuh teman kami!"
Oh sial, dia sudah tak punya apa-apa lagi untuk melawan vampire-vampire itu. Bagaimana ini?
Oh ya, mereka teman dari vampire tadi.
Dan tentu saja, vampire-vampire itu semakin mendekat membuat Clarita berlari ke arah berlawanan tapi tetap saja dia tak bisa melarikan diri karena satu Vampire lagi memblokir jalannya.
"Mau lari kemana huh?"
Oh ya Tuhan apa dia akan mati sekarang?
Vampire itu terus mendekat sampai akhirnya dia berhasil mencengkram tangan Clarita yang masih mengeluarkan darah.
"Ah!!"
"Kau berani membunuh teman kami, artinya kau juga harus mati."
Oh tidak, vampire itu baru saja akan menggigit tangannya.
"Lepas!"
Tapi tentu vampire itu lebih kuat.
Ya Tuhan, bagaimana ini?
Dia semakin mendekatkan tangan Clarita dan mencoba menggigitnya
Tidak, dia memohon, jangan sampai..
"Jinyoung! Seongwoo!" Kedua vampire itu otomatis berhenti lalu menatap ke arah suara sebelum salah satunya berhasil menggigit Clarita.
Mungkin itu juga teman mereka.
"Pemimpin sudah datang! Ayo!"
Oh apa ini akan berakhir? Selanjutnya vampire yang masih memegang tangan Clarita itu menatap kembali ke arah Clarita dengan tatapan membunuh.
"Kau selamat kali ini." Ujarnya sebelum dia melepaskan Clarita lalu menghilang begitu saja dari hadapannya.
Ya Tuhan, apa yang baru saja terjadi? Tadi hampir saja.
"Kau terlihat tampan." Ujar gadis itu sambil merapikan kerah baju kakaknya yang baru saja usai memakai pakaian rapinya.
Audrey suka menemani kakaknya.
"Kau siap menyapa mereka?" Tanyanya lagi sementara kakaknya masih menatap pantulan dirinya di cermin.
"Aku sangat siap."
Oh ya, hari ini hari yang special untuk mereka. Terutama untuk Nathaniel yang baru saja 'menjabat' sebagai pemimpin kota. Kakaknya mengadakan pertemuan dengan seluruh 'koloninya'. Dia bilang mereka harus tahu jika kini yang memimpin semuanya adalah dirinya.
Ya setidaknya mereka harus berkenalan kan?
"Ayah pasti bangga." Ujar gadis itu yang dibalas oleh sedikit senyuman dari kakaknya.
"Mereka menyusul."
"Baiklah." Setelah semuanya siap dia pun berniat untuk beranjak dari ruangan. Tapi sebelum dia benar-benar pergi, adiknya menginterupsi.
"Nathaniel." Pria yang dipanggil Nathaniel itupun menoleh.
"Kau lupa cincinmu." Ujar adiknya sambil menghampirinya membawa cincin untuk Nathaniel.
Sebenarnya pria itu tak membutuhkan benda itu, tapi ya sudahlah.
"Baiklah, terimakasih."
"Nathaniel tunggu."
Sampai dia kembali berbalik, lagi-lagi dia ditahan adiknya yang kembali memanggilnya.
"Hm?"
"Aku lupa memberitahumu."
"Eum.. kau tak lupa tugasmu yang lain kan?" Tapi setelah itu Nathaniel mengerutkan keningnya bingung.
Nathaniel menunggu.
"Apa?"
"Aku.. melihat sesuatu."
Lagi-lagi Nathaniel menatap adiknya tak mengerti. Tapi kemudian dia mengerti jika Audrey mungkin sedang meramalkan sesuatu. Dia tahu adiknya pasti melihat sesuatu.
"Aku melihat satu perempuan."
Perempuan? Kenapa perempuan?
"Dia yang akan melahirkan anakmu nanti."
Oh sial, dia lupa tugasnya yang itu. Kenapa adiknya harus mengingatkan hal itu?
Nathaniel paling benci berurusan dengan manusia.
"Kita lupakan dulu yang itu."
"Kau boleh melupakannya, tapi aku hanya mengingatkanmu jika itu tak mudah."
Tidak, tidak ada yang sulit baginya.
"Lagi pula ayah benar, dia menyuruhmu melakukan itu untuk kebaikanmu juga. Keturunan vampire dan manusia itu tak bisa dikalahkan. Kau pasti butuh penerus nanti kan? Memangnya kau mau Damien yang mengambil alih?"
Mendengar nama Damien, Nathaniel seketika merasa tak suka. Oh tentu saja dia tak akan membiarkan Damien merebut apa yang dia punya. Damien memang kakaknya, tapi maaf, Nathaniel tak akan memberikan apapun untuk pria itu.
"Ya makannya kau harus cari perempuan itu. Kau hanya tinggal mencari yang mau kau tiduri."
"Memangnya siapa perempuan yang menolak tidur denganku?"
Audrey yang mendengar itu hanya bisa menatap kakaknya yang pemalas. Benar sih, memang tak ada yang menolak Nathaniel. Ya jelas karena dia pandai sekali menggunakan kemampuannya.
Tapi Nathaniel sebenarnya payah, dia tak pernah mau berurusan dengan manusia apa lagi perempuan. Dia lebih suka menggunakan mereka sebagai makanan.
"Ya terserah, yang jelas kau harus menemukan perempuan itu."
"Aku pikir itu mudah. Kita kerjakan nanti saja."