
"Kenapa kau membawa gadis milik tuan Nathaniel?"
Deg
Sial, mereka menyadarinya.
"Kau mau membawanya pergi?"
Kedua vampire itu tentu saja tak bisa membiarkan hal itu terjadi. Semua vampire di sini sudah diperingatkan untuk tak ada yang mengganggu Clarita dan mereka bahkan diperintahkan untuk menjaga gadis itu. Lagi pula ada hak apa Ryan mengambil gadis pemimpinnya?
Saat itu juga Ryan kembali melindungi Clarita dan berdiri di depannya membuat kedua vampire itu mendekat ke arah Ryan dan mencoba mengambil Clarita dari genggamannya. Tapi sebelum semuanya benar-benar terjadi, Ryan kembali menghentikan mereka.
"Aku diperintahkan untuk membawanya!"
Deg
Detik itu juga, mereka berhenti. Apa? Pria ini sudah diberi perintah?
"Tuan Nathaniel memerintahkan ku untuk membawanya."
Setelah itu, kedua vampire tadi saling pandang. Huh? Benarkah?
Sementara di sana, Clarita masih gemetar mendengar aksi nekat Ryan yang berusaha membohongi dua vampire itu. Tentu saja dia panik, bagaimana jika mereka ketahuan?
"Jadi biarkan kami pergi."
Ryan sebisa mungkin tak terlihat panik. Dia berpura pura jika dia memang sudah diperintahkan. Oh risiko yang dia ambil terlalu besar. Bagaimana jika mereka tak percaya?
"Benarkah?"
"Ya cepatlah! Kalian mau tuan Nathaniel marah? Dia sudah menunggu!"
Oh kalau sudah begini mereka bisa apa? Jika urusannya sudah dengan Nathaniel, mereka tak bisa melakukan apa-apa. Jadi pria ini benar diperintahkan pemimpinnya?
Meskipun awalnya mereka curiga dan tak percaya, tapi mendengar nama pemimpinnya disebut, mereka tak bisa membantah. Tentu saja, kalau memang itu perintah dari Nathaniel, mereka tak mungkin tak menurutnya kan?
Baiklah, jika memang itu yang sebenarnya terjadi, setidaknya mereka sudah berusaha mencegah. Ya jika memang tuannya yang memerintahkan, mereka tak akan bisa mengelak.
Dan setelah itu, mereka benar-benar percaya apa yang dikatakan Ryan. Bahkan mereka kini memundurkan langkahnya seperti mempersilahkan Ryan dan Clarita untuk melanjutkan perjalanan. Ya silahkan jika memang pemimpinnya yang memerintahkan, sudah kewajiban mereka untuk menuruti semuanya.
"Baiklah, silahkan."
Detik itu juga Clarita merasa jika sesak di dadanya hilang entah kemana. Oh Tuhan, dadanya bahkan tak bisa dikontrol. Ini terlalu mendebarkan.
"Terimakasih."
Sampai setelah itu Ryan kembali menarik Clarita dan berjalan ke arah gerbang setelah berhasil mengelabui mereka. Setidaknya mereka selamat, meskipun mereka tak tahu semuanya masih bisa berjalan dengan lancar atau tidak.
Ryan menoleh ke arah vampire tadi yang sudah pergi dari sana. Ya sekarang sudah aman. Clarita bisa pergi dari sini.
Tak apa, tak apa mereka terakhir bertemu di sini. Setidaknya Ryan tak memberikan Clarita pada Nathaniel. Lebih baik dia tak pernah melihat kekasihnya lagi dari pada harus melihat Clarita bersama pria jahat itu.
Sungguh, dia bahkan mempertaruhkan hidupnya untuk ini.
"Pergilah." Ryan menyuruhnya pergi sambil menatap mata gadis itu. Kebebasannya di depan mata, dan Clarita hanya tinggal pergi saja dari sini.
Tapi alih alih menuruti ucapan Ryan, Clarita justru mengubah raut wajahnya sedih. Dan itu membuat Ryan juga ikut bersedih.
Matanya berkaca dan dia seperti mengetahui jika ini akhir dari pertemuan mereka. Ya mereka akan berpisah di sini. Dan Clarita benar-benar tak rela.
"Ryan.. Kau tak mau pergi bersamaku?" Pria itu terdiam. Melihat kekasihnya menangis cukup membuatnya sakit. Tidak, bukan dia tak mau pergi dari sini. Tapi dia tak bisa. Ryan bahkan tak memikirkan dirinya sendiri karena dia lebih memikirkan Clarita yang harus selamat dari sini. Terserah jika dia mungkin akan mati di sini, yang paling penting adalah kekasihnya. Biarkan Clarita hidup normal seperti dulu tanpa harus merasakan neraka di sini.
Biarlah, biar Ryan merasakan semuanya sendiri.
"Pergilah.. jangan khawatirkan aku."
Dan saat itu juga tangisan Clarita pecah. Dia memeluk Ryan erat dan menangis di pelukan pria itu. Clarita, dia tak pernah sesakit ini sebelumnya. Menghadapi kenyataan jika mereka mungkin tak akan pernah bertemu lagi benar-benar menyakitkan.
Mereka tak punya pilihan selain berpisah. Semuanya memang takdir. Tak ada yang bisa mengubahnya. Bahkan siapapun.
"Clarita pergilah, waktu kita sedikit."
Dan Clarita sadar jika apa yang diucapkan Ryan memang benar, mereka memang tak punya waktu. Sampai kini Clarita melepaskan pelukannya dan kembali memandang kekasihnya.
"Berjanji lah kita akan bertemu lagi."
Tidak, Ryan tak bisa menjanjikan hal itu.
"Kita akan bertemu lagi kan?"
Pria itu masih bungkam. Dia bahkan tak menjawab apapun.
"Ryan!"
sekarang Clarita bahkan tak bisa menahan tangisnya saat Ryan memaksanya untuk keluar. Pria itu menarik Clarita untuk keluar secepatnya dari sini.
"Ryan! Please!"
Sampai pintu itu benar-benar tertutup. Ya tertutup rapat, serapat-rapatnya. Percuma dia menahan pria itu, percuma dia menangis. Mereka tak punya pilihan.
"Ryan.."
Clarita lagi lagi menangis, dia bahkan tak sanggup menahan kesedihannya.
kenapa semuanya harus seperti ini? Tak bisakah semua ini hanya mimpi? Bisakah semua ini tak terjadi? Clarita bahkan masih memanggil kekasihnya di sana.
Ya Clarita sadar, mungkin ini memang terkahir kalinya mereka bertemu. Mereka tak akan pernah kembali bersama lagi.