
Berapa kali pun Clarita melihat keluar, berapa kali pun dia memastikan jika Sakura akan kembali, nyatanya gadis itu tak pernah datang.
Bukan cuma Sakura, tapi dua gadis yang diam di satu sel yang sama dengannya. Ya, mereka juga tak pernah kembali.
Sudah sepuluh hari dia disini dan sudah sepuluh hari juga mereka tak kembali.
Selain khawatir akan nasib mereka, dia juga khawatir pada nasib dirinya sendiri.
Apa mereka sudah mati? Jika mereka memang sudah mati, lalu bagaimana nasibnya? Bukankah Audrey juga akan mati kalau begitu?
Dia masih tak mengerti apa yang vampire itu cari dari semua perempuan di sini. Apa tak cukup satu perempuan saja? Memangnya akan sebanyak apa keturunan yang mereka mau?
Tidak, dia tak bisa berada disini terus. Clarita harus melakukan sesuatu demi dirinya dan juga perempuan lain disini.
Mereka tak bisa begitu saja berada disini untuk menunggu kematian mereka. Dan satu-satunya cara yang terlintas di pikirannya adalah melarikan diri.
Ya memang apa lagi? Apa lagi selain kabur dari tempat ini?Bukankah tak akan ada yang menolongnya?
Kini Clarita melihat sekelilingnya sambil berpikir apa yang harus dia lakukan untuk keluar dari sini. Dia berpikir untuk memaksa vampire itu untuk membuka selnya. Dan tentu dia tahu kalau itu tidak mungkin.
Harus ada cara, pokoknya harus.
Dia masih menatap sekeliling sampai pandangannya mengarah pada benda yang beberapa menit lalu dia pakai untuk makan.
Apa dia pakai itu saja? Ya, di sana, terdapat sebuah garpu yang mungkin bisa dia pakai untuk melarikan diri dari sini.
Mungkin itu akan berguna untuk memancing vampire yang berjaga di sana.
Terserah ini akan berhasil atau tidak, dia akan melakukan apapun agar terbebas.
Dan kini, Clarita pun mengambil benda itu dan tanpa pikir panjang dia langsung menggores lengannya sampai mengeluarkan darah.
"AHHHH!"
Kalian tahu? Garpu itu tak terlalu tajam, dan kalian bisa merasakan bagaimana sakitnya saat benda itu menancap di tangannya.
Bahkan luka di sana belum sempat sembuh total, dan Clarita sudah menggoresnya lagi.
Dia menatap ke luar, ke arah vampire yang masih menjaganya di sana. Ya makhluk itu tak pernah bosen berdiri di sana.
"Hey! Kau!"
Merasa terpanggil, vampire itu pun menoleh ke arah Clarita. Awalnya dia terlihat tak peduli tapi setelah itu dia mendekat sampai dia berdiri tepat di depan gadis itu.
"Sebaiknya simpan suaramu jika kau hanya ingin memohon untuk dibebaskan."
"Aku terluka, bisakah kau mengobatinya?" Tak seperti yang vampire itu pikirkan, Clarita yang biasanya berteriak kini malah meminta sesuatu yang lain. Si vampire pun melirik luka di lengan Clarita yang terlihat lumayan besar di sana.
Oh sial, apa dia lupa sedang minta tolong pada siapa?
Vampire itu menelan ludahnya karena cairan kental yang mengalir itu. Shit! Tetesannya benar-benar membuatnya ingin meminum benda cair itu.
"Apa kau tak merasa salah orang untuk meminta tolong?" Ujar si vampire yang kini menatap Clarita.
"A-aku tak tahu harus meminta pada siapa selain kau. Bukankah hanya ada kau disini?"
Ya benar juga, tapi apa gadis itu lupa jika dia bisa saja menyerangnya detik ini juga?
"Kau hanya perlu membuka pintunya dan mengobatiku, itu saja."
Tapi bukannya menuruti permintaan Clarita, vampire itu masih diam menatap gadis itu.
Ck dari pada membuka pintu untuk mengobatinya, bukankah lebih baik dia membuka pintu lalu meminum darahnya sampai habis?
Tentu saja itu ide yang lebih baik.
"Aku pikir kau salah orang."
Dan sesuai apa yang Clarita minta, vampire itu membuka pintu selnya. Tapi bukan untuk menolong Clarita, melainkan untuk menyerangnya.
Oh tidak, tatapannya benar-benar mengerikan seperti siap untuk menerkam.
Tapi Clarita yang tadinya berpikir untuk mundur, kini mengurungkan niatnya. Dia sadar jika seharusnya dia memang kabur dari sini bukan malah takut untuk menghadapi vampire itu.