
"Apa? Kenapa tiba-tiba?"
"Entahlah, ayah ingin kita datang."
Tak seperti biasa, ayahnya ingin melakukan pertemuan setelah terakhir mereka bertemu waktu itu.
Bukan Nathaniel tak mau bertemu ayahnya, tapi dia justru malas bertemu kakaknya. Ya siapa lagi kalau bukan Damien? Sudah pasti di sana ada kakaknya juga. Sial.
Sudah dia bilang jika Nathaniel benar-benar tak menyukai kakaknya itu. Hubungan mereka sangat buruk karena Damien yang memulai semuanya.
Jangankan mengobrol, menatap wajah kakaknya itu saja Nathaniel benar-benar muak. Dan sekarang apa? Mereka mau bertemu? Oh salahkan ayahnya yang menyuruh.
"Damien juga?"
"Ya mungkin." Jovian hanya menjalankan perintah, meskipun dia juga malas bertemu saudaranya yang lain, tapi ini perintah ayahnya.
Nathaniel menghela nafasnya sebelum kembali berbicara.
"Kalian tunggu di bawah, aku menyusul." Ujarnya sedikit terpaksa. Tapi meskipun begitu, dia tetap beranjak setelah Jovian pergi dari sana.
Nathaniel terpaksa, mau bagaimana lagi? Ini perintah ayahnya.
Pria itu pun melangkahkan kakinya dan berniat menuju kamarnya. Yah setidaknya dia harus bersiap sebelum bertemu Damien. Ah sungguh dia malas.
Pria itu berjalan melewati lorong sebelum mencapai kamar. Sesekali dia berpapasan beberapa vampire yang membungkuk ke arahnya sebelum dia sampai.
Dia berjalan, sampai beberapa saat kemudian, sebelum pria itu benar-benar tiba di kamarnya, entah kenapa kakinya tiba-tiba berhenti saat dia melewati satu kamar yang dia tahu sebagai kamar seseorang yang baru-baru ini menjadi bagian dari 'penghuni' rumah ini.
Oh ya, gadis manusia itu. Siapa namanya? Clarita ya?
Nathaniel bahkan malas mengingat nama itu. Dia bahkan tak mau tahu sama sekali.
Tapi entah kenapa, alih alih pergi dari sana, Nathaniel justru berusaha mengintip dan melihat apa yang sedang dilakukan gadis itu.
Bukankah dia bilang dia tak peduli? Kenapa Nathaniel malah mengintip?
Tidak, dia hanya ingin memastikan jika gadis itu masih di sana, tak melarikan diri lagi.
Ya semenjak dia mengumumkan jika gadis itu 'miliknya', Nathaniel tak menempatkan gadis itu di sel lagi. Setidaknya agar dia tak merasa di penjara. Maka dari itu Nathaniel sedikit lebih membuatnya nyaman. Bukankah kalian ingat jika dia harus memperlakukan gadis itu dengan baik? Audrey yang bilang.
Ya walaupun dia belum sepenuhnya memperlakukan gadis itu dengan baik, tapi setidaknya Nathaniel ingin membuatnya sedikit nyaman.
Siapa tahu gadis itu tiba-tiba mau tidur dengannya kan? Jadi tugasnya akan cepat selesai.
Nathaniel cukup lama berdiri di sana tapi dia tak juga menemukan gadis itu. Dia kemana? Dia ada di dalam kan?
Dan akhirnya Nathaniel memutuskan untuk masuk ke dalam untuk memastikan gadis itu. Sampai dia membuka pintu, Nathaniel menemukan gadis itu ternyata tengah tertidur di sofa kamarnya dengan buku yang menutupi wajahnya. Oh ternyata dia tidur.
Ck kenapa tidur di sini sih? Bukankah di ruangan ini ada ranjang yang cukup besar? Dasar gadis aneh.
Pria itu mengambil buku yang menutupi wajah Clarita lalu menyimpannya. Sampai kini Nathaniel kembali menatap gadis itu.
Dengan posisinya yang seperti itu, memangnya dia nyaman? Memangnya tubuhnya tak sakit apa? Sofa ini kan kecil, bagaimana bisa dia tidur di sini? Nathaniel sudah memberikannya ranjang agar dia nyaman. Tapi gadis itu malah tidur di sini, benar-benar aneh.
Tapi saat kalian berpikir jika Nathaniel mungkin akan membiarkan Clarita tidur di sana begitu saja, kalian akan terkejut saat mengetahui hal berikutnya yang Nathaniel lakukan.
Nathaniel tak tahu apa yang ada di pikirannya. Tapi hal selanjutnya yang pasti tak akan kalian sangka adalah, saat Nathaniel malah menundukkan badannya lalu mengangkat tubuh gadis yang masih terbaring di sofa itu.
Dan dia.. dia membawanya ke ranjang.
Ya kalian tak salah, Nathaniel bahkan menidurkan gadis itu di sana.
Apa yang dia lakukan?
Bukankah dia bilang dia tak peduli pada gadis itu? Bukankah dia bilang tak mau peduli sedikitpun padanya? Tapi kenapa Nathaniel justru melakukan itu?
Entahlah, dia tiba-tiba melakukannya. Dia bahkan menutupi tubuh gadis itu dengan selimut.
Tunggu, tapi selanjutnya dia tersadar.
"Apa yang aku lakukan?" Seolah tersadar dengan apa yang dia lakukan, Nathaniel bertanya pada dirinya sendiri saat dia bahkan masih menatap gadis itu
Ya, apa yang dia lakukan? Kenapa dia melakukan itu ya? Bukankah dia membenci gadis itu?
Ah entahlah.
Nathaniel tak mau ambil pusing dan lebih memilih untuk pergi dari sana setelah menyadari kebodohannya. Seharusnya dia tak masuk ke kamar gadis itu. Untuk apa juga dia ingin tahu? Gadis itu sama sekali tak penting baginya.
Tidak penting, sedikitpun.
:
:
:
:
:
:
:Jangan pada bapernya Gyus ๐๐