
Detik itu juga, Nathaniel terdiam. Dia bungkam saat ancaman itu diucapkan ayahnya. Oh tentu itu tak akan pernah terjadi. Demi apapun dia tak rela jika semuanya diambil oleh kakaknya. Dia masih punya harga diri dan tentu Nathaniel tak akan membiarkan itu.
Kakaknya bahkan tersenyum puas saat ayahnya memojokkannya. Ya Nathaniel melihat itu, dia melihat Damien yang tersenyum puas ke arahnya.
Tapi dengan ancaman yang ayahnya berikan itu, entah kenapa Nathaniel jadi berpikir satu hal. Dari saat dia dipanggil kesini, sampai ayahnya yang ikut campur dan mempermasalahkan 'pekerjaannya' menjadi pemimpin.
Ayahnya tak akan melakukan itu kecuali memang ada yang melaporkan hal ini pada ayahnya. Kecuali ada yang mengadu pada ayahnya apa saja yang dilakukan Nathaniel sebagai pemimpin.
Tentu saja bukan Jovian Jevon atau Audrey kan? Lalu siapa? Siapa yang tak suka pada kepemimpinannya selain kakaknya? Bukan Nathaniel berburuk sangka, tapi satu-satunya orang yang tersenyum bahagia saat ayahnya menghakiminya adalah Damien, kakaknya.
Bukankah itu sudah sangat jelas? Damien tak pernah suka padanya kan?
Pria itu masih menatap Damien yang juga masih menyeringai disana. Tapi selanjutnya, Nathaniel mengalihkan pandangannya pada ayahnya.
"Aku ingin bertanya." Ayahnya menatap Nathaniel dan menunggu anaknya melanjutkan.
"Siapa yang melaporkan semuanya padamu?"
Oh ya Nathaniel pasti bertanya tentang itu. Dia sudah menduga jika pasti ada yang mengadu pada ayahnya. Ayahnya bahkan percaya pada Nathaniel, tapi kenapa dia tiba-tiba menghakiminya begini?
Bukankah pasti ada seseorang yang mengadukannya?
"Kau tak perlu ta-
"Aku tak perlu tahu? Saat ada seseorang yang iri padaku dan mencoba mengadukan pekerjaanku padamu, aku tak perlu tahu?"
"Jawab saja pertanyaan-
"Kalau begitu jawab pertanyaanku dulu."
Deg
"Dia bahkan tak tahu apa yang aku kerjakan."
Kalian pasti tahu siapa 'Dia' yang dimaksud Nathaniel. Ya tentu saja Damien.
"Ayah juga tak tahu kan alasanku membebaskan semua perempuan yang aku kumpulkan?"
Ayahnya menunggu.
"Untuk apa? Untuk apa aku masih menyimpan mereka jika aku bahkan sudah dapat perempuannya?"
Deg
Detik itu juga, ayahnya diam. Tapi bukan cuma ayahnya, pria yang dari tadi menyeringai itu justru kini merasa kalah. Apa? Jadi Nathaniel sudah menjalankan tugasnya?
"Gadis itu ada, dan dia yang akan melahirkan bayiku nanti."
Sial, jadi diam diam Nathaniel sudah mengambil satu gadis yang akan melahirkan bayinya?
"Ayah jangan khawatir, aku sudah bilang ayah tak perlu tahu apa yang aku kerjakan. Kau hanya perlu duduk manis dan menunggu semuanya."
Setelah itu pandangan Nathaniel tertuju pada Damien yang ada di depannya sebelum kembali menoleh pada ayahnya.
"Ayah juga tak perlu mendengarkan seseorang yang mencoba menghancurkanku."
"Maaf saja, aku tak akan kalah dari siapapun."
Lagi, pandangan itu benar-benar menusuk. Nathaniel maupun Damien. Oh maaf saja, Damien tak akan bisa mengalahkannya sampai kapanpun. Dia tak akan berhasil menghancurkan Nathaniel hanya karena pengaduan pada ayahnya.
Dia mau merebut kekuasaannya? Silahkan saja, tapi maaf, langkahi dulu mayatnya sebelum itu. Dia tak akan pernah bisa. Nathaniel lebih kuat darinya. Dan jangan bermimpi dia bisa merebut kekuasaannya.