
BRAK!
Prang!
"PERGI KALIAN DARI SINI!!!!"
Keadaan di sana begitu hancur dengan semua barang barang yang berjatuhan dan bergelimpangan dimana mana setelah gadis itu dengan brutal membanting semua barang yang ada di sana. Semua makanannya bahkan terjatuh ke lantai karena Clarita yang memberontak 'LAGI'.
Dan kalian tahu? Clarita baru saja 'dipaksa' untuk masuk ke sebuah ruangan yang dijaga ketat oleh beberapa orang di sana setelah kejadian dimana dia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat kekasihnya mati begitu saja.
Apa mereka tak berpikir? Apa mereka masih bisa memaksanya saat bayangan itu bahkan belum sembuh dari ingatannya?
Apa yang mereka pikirkan sebenarnya?
Sungguh, kalian tak akan mengerti bagaimana dirinya yang begitu terpukul saat menyaksikan kejadian itu di depannya. Tepat di depan matanya tanpa dia yang bisa melakukan apa-apa.
Clarita bahkan menangis saat dia mengacungkan pisau ke arah mereka yang mencoba menghentikannya. Dan Clarita bahkan mengancam akan menyayat tangannya sendiri jika ada yang mendekatinya.
Gadis itu benar-benar masih terpukul. Dia marah, semuanya benar-benar tak bisa ia tahan.
"PERGI!!!"
"Pergi kumohon..." Lagi lagi, dia menangis.
Dan semuanya tak melakukan apapun kecuali menatap gadis itu dan mengawasinya jika mungkin gadis itu tiba-tiba melakukan hal di luar dugaan.
Kalau gadis itu mati, mereka semua juga mati di tangan Nathaniel.
Mereka hanya bisa menunggu pemimpinnya datang setelah mereka mencoba memanggil pria itu. Dan mungkin satu-satunya yang bisa menghentikan Clarita adalah Nathaniel. Mereka takut salah langkah, lebih baik pemimpinnya yang menghentikan gadis itu.
"Nona, buang pisau itu, itu berbaha-
"DIAM!! AKU BILANG PERGI DARI SINI! PERGI!"
Ya mereka masih berusaha meskipun pada akhirnya Clarita kembali mengusir mereka. Pisau itu juga masih dia genggam sambil menangis mengancam mereka.
Tapi, lama menunggu Nathaniel yang tak kunjung datang, beberapa lama setelah itu, akhirnya pria yang mereka tunggu pun tiba.
Dengan nafas yang sedikit tegang karena mungkin dia panik setelah mendengar jika Clarita melakukan semua ini.
Nathaniel tak langsung menghampiri Clarita, karena dia malah menatap gadis itu saat Clarita kini mengacungkan pisau itu ke arahnya. Gadis itu panik saat Nathaniel datang.
"Apa kekacauan yang ingin kau buat lagi huh?" Nathaniel entah kenapa malah memperkeruh suasana. Seharusnya pria itu menenangkan Clarita dan membujuknya untuk membuang pisau itu. Tapi dia malah membuat Clarita semakin menjadi.
Gadis itu bahkan kembali mengarahkan pisau itu ke pergelangan tangannya. Tentu Nathaniel panik, tapi dia berusaha menyembunyikan itu.
"Aku tak mau menghabiskan hidupku disini."
"PERGI KAU VAMPIRE JAHAT!"
"Hiks.. kau mengambil semuanya dariku." Air matanya masih tak berhenti mengalir di sana, sementara Nathaniel masih mengawasi Clarita.
Ya semuanya begitu terukir di wajahnya. Semua kesedihan yang dia alami. Semua itu begitu menyakitkan dan terukir jelas di sana. Mungkin Clarita benar, jika Nathaniel memang mengambil semuanya dari Clarita. Tapi apa pedulinya? Dia harus menjalankan tugasnya yang paling penting.
Dan Nathaniel tak peduli meskipun Clarita harus menderita seperti ini. Yang dia pikirkan hanyalah tugasnya yang harus dia lakukan.
Oh Nathaniel benar-benar muak. Gadis itu terlalu membuang banyak waktunya.
Kini, dengan emosi yang mulai tak terbendung, Nathaniel tanpa ragu melangkahkan kakinya mendekat ke arah Clarita.
"PERGI! JANGAN MENDEKAT! AKU BILANG PERGI!"
Tapi seperti tak peduli sedikitpun, Nathaniel tak menghiraukan Clarita yang kini mengacungkan pisau ke arahnya. Dia masih memilih untuk mendekat lalu mengambil pisau di tangan gadis itu dan menghentikan semuanya. Terserah, terserah apa yang dia mau, Nathaniel tak peduli.
Tapi sampai Nathaniel hampir saja memegang tangan gadis itu, dia ternyata terlambat saat tak sadar jika Clarita mengarahkan pisau itu ke wajahnya.
Dan setelah itu..
Srat!
Nathaniel merasakan pipi tirusnya tersayat benda tajam itu.
Darah pun mengalir dari luka sayatan di sana meskipun Nathaniel bahkan tak merasakan apapun. Tatapan itu kembali menajam ke arah Clarita sampai detik itu juga Nathaniel mencengkeram tangan Clarita dengan kuat dan setelah itu dia mengambil pisau yang Clarita pegang sebelum kemudian melemparnya.
Silahkan Clarita menyayatnya atau bahkan menusuknya sekalipun. Yang penting tak ada luka yang berarti di tubuh Clarita. Silahkan melukainya, asal Clarita tak boleh melukai dirinya sendiri.
Dan sampai setelah itu Clarita kembali memberontak, dia mencoba melepaskan tangannya sambil menangis begitu kencang di depan Nathaniel.
Gadis itu bahkan memukul dada Nathaniel berkali kali untuk melampiaskan semua kehancuran yang dia rasakan. Clarita bahkan memukul dadanya begitu keras meskipun Nathaniel hanya bisa pasrah.
"Kau jahat.." Pukulan itu dia rasakan bertubi tubi. Tapi Nathaniel membiarkan itu sampai kemudian pukulannya mulai melemah, dan Nathaniel selanjutnya mulai melepaskan cengkeraman tangan Clarita.
"Kenapa kau melakukan semua ini padaku..."
Nathaniel masih diam, sampai pukulan itu benar-benar berhenti meskipun tangisannya masih terdengar.
Hanya suara yang memilukan itu yang dia dengar. Dan setelah itu, entah bagaimana, setelah pukulannya berhenti, gadis itu malah menundukkan kepalanya sampai membentur dada Nathaniel yang ada di depannya.
Clarita seperti lupa siapa yang bahkan menyakitinya. Gadis itu bahkan malah menangis di sana. Dia menyodorkan kepalanya di dada pria yang sudah menyakitinya berulang kali itu.
Nathaniel pun hanya bisa diam. Dia hanya mendengarkan suara tangisan Clarita yang begitu memilukan. Clarita benar-benar terpuruk karena dirinya yang memang mengambil semua kehidupan gadis itu.
Ya dia mengakui itu, tapi Nathaniel juga tak punya pilihan lain. Dia harus melakukan semua ini. Ayahnya yang menyuruhnya.
Tapi.. saat kalian berpikir jika mungkin Nathaniel akan menjauhkan tubuhnya dari Clarita, kalian salah besar!!, Nathaniel malah tak melakukan itu sama sekali karena hal selanjutnya yang Nathaniel lakukan justru di luar dugaan.
Tangan kirinya yang semula bebas begitu saja, kini dengan ragu dia posisikan di pinggang gadis itu. Mereka begitu dekat dengan Nathaniel yang memeluknya meskipun pelukan itu terlihat canggung.
Tapi setelah beberapa lama, ia kemudian mengarahkan tangan kirinya ke pundak Clarita dan semakin mengeratkan pelukannya di sana.
Oh tak ada yang menyangkakan? Meskipun mereka saling membenci, mereka sudah berpelukan dua kali. Ya kalian ingat waktu itu? Dan entah bagaimana, Nathaniel sama sekali tak menolak, dia malah seperti menenangkan gadis itu meskipun alasan Clarita menangis adalah karena dirinya sendiri.