
Entah apa yang kini dia rasakan. Perasaan yang ada di kepalanya terlalu rumit. Nathaniel tak bisa menjelaskan apa yang dia inginkan sekarang setelah kejadian dimana dia hampir memperkosa Clarita.
Bahkan Nathaniel tak tahu berapa wanita yang dia 'habiskan' hari ini karena memikirkan hal itu. Nathaniel tak mengerti Kenapa dia bisa begitu memikirkan semuanya hanya karena satu orang gadis.
Dia marah, tapi dia juga tak tahu apa yang sebenarnya harus dia lakukan. Dia marah pada dirinya sendiri karena perasaan itu yang tiba-tiba muncul saat sedikit lagi dia mendapatkan semuanya.
Kalian tahu apa? Perasaan itu, saat Clarita menangis memohon di depan matanya sendiri dimana dia hampir saja melakukan semuanya. Dimana dia hampir saja meniduri Clarita saat itu.
Dan kalian tahu kan apa akhirnya? Ya Nathaniel keluar dari kamar itu. Dia memilih untuk menghentikan semuanya saat melihat wajah memohon nya itu.
Kapan dia tega pada manusia? Kapan dia tega pada gadis yang memohon padanya?
Nathaniel bahkan tak mengerti pada dirinya sendiri kenapa dia bisa berhenti dan lebih memilih pergi dari kamar Clarita dari pada melanjutkan tugasnya.
Kemana dia yang tak peduli? Kemana dia yang kejam saat seorang manusia memohon padanya? Dia merasa lemah, dia merasa harga dirinya hancur karena sudah melakukan itu.
Mengalah hanya karena tak tega melihat seorang gadis manusia yang memohon padanya? Yang benar saja, itu bukan dirinya.
Dia benar-benar tak mengerti.
Nathaniel bahkan tak memikirkan seberapa berantakan kamarnya karena hal yang baru saja dia lakukan. Dia tak peduli dengan perempuan-perempuan yang tergeletak begitu saja di sana setelah dia melepaskannya.
Ya itu kebiasaannya. Dia bisa minum begitu banyak hanya karena satu hal yang dia pikirkan. Tapi Nathaniel yang baru saja mengelap bekas darah di sekitar bibirnya itu sepertinya tak menyadari jika ada satu perempuan yang dari tadi berdiri sambil menontonnya dalam diam di sana. Dia tak sadar jika ternyata ada orang lain selain dirinya di sana.
Itu adik perempuannya.
Oh Nathaniel baru sadar jika Audrey ternyata dari tadi berdiri di sana. Gadis itu menatapnya diam seperti biasa, dia menatap kakaknya yang tengah menikmati wanita-wanita itu.
Dan dia hanya bisa menggeleng saat melihat beberapa mayat yang tergeletak di sana. Mungkin empat, atau lima. Ah terserah karena kali ini bukan itu yang Audrey permasalahkan.
Dia lebih ingin membahas sesuatu yang sebelumnya terjadi antara Nathaniel dan Clarita. Tidak, dia tak marah pada Nathaniel, dia justru memuji kakaknya karena akhirnya Nathaniel bisa menahan emosinya saat dia hampir saja memperkosa Clarita.
Ya meskipun awalnya Audrey terkejut saat mengetahui itu. Saat mengetahui bagaimana bisa Nathaniel menahan emosinya. Bukankah pria itu tak pernah tega pada siapapun? Tapi sekarang akhirnya dia bisa berpikir yang mana yang lebih penting dari pada menuruti emosinya.
"Aku tak tahu harus marah padamu karena mayat-mayat itu atau berterimakasih padamu karena kau akhirnya bisa mengalahkan emosimu." Nathaniel tentu belum menjawab. Dia lebih memilih mendengarkan adiknya.
"Tapi sepertinya mayat-mayat itu tidak penting. Aku lebih memilih berterimakasih."
Ya tentu, selama dia mengenal Nathaniel, mana pernah dia tega pada seseorang? Kapan dia pernah mengalah karena seseorang? Apa lagi manusia, dan itu seorang gadis.
Audrey hanya tak menyangka saja, Nathaniel bisa melakukan itu.
"Tenang, dia baik-baik saja." Dan mendengar perkataan itu dari adiknya, entah kenapa, ada sedikit perasaan lega di sana. Entahlah, tapi dia tahu jika Clarita baik-baik saja.
"Yah meskipun dia pasti semakin membencimu." Kalau itu sudah pasti. Clarita pasti semakin tak bisa didekati. Dan Nathaniel tahu itu.
Untuk beberapa detik, suasana di sana hening. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing sebelum Audrey pada akhirnya kembali mengeluarkan suaranya.
"Apa kau menyadari sesuatu?" Lagi, Nathaniel menatap adiknya.
"Apa kau sadar jika kita sudah tak punya cara lain untuk mendekati Clarita?" Dan kemudian Nathaniel berpikir setelah mendengar itu.
Apa maksudnya? Tak ada cara lain? Benarkah? Lalu bagaimana?
"Kau sudah memaksanya. Tapi ternyata itu tak berhasil."
"Ya kau juga pernah berusaha untuk mendekatinya dengan memberikan semua kebebasan untuk Clarita."
"Tapi apa kau sadar jika semua cara itu sama sekali tak merubah apapun?"
Tentu saja, kalau semua cara itu berhasil, mungkin Clarita sudah mengandung anaknya sampai saat ini. Gadis itu terlalu keras kepala, dia terlalu sulit.
"Aku tak bisa menyalahkanmu ataupun Clarita. Karena kalian memang saling tak menyukai. Kau sadar tidak? Aku pikir sifat kalian sama."
Huh? Apa maksudnya? Sama? Sama apanya?
"Kau selalu harus mendapatkan semua keinginanmu, sementara Clarita juga selalu ingin mempertahankan apa yang dia inginkan."
"Intinya, kalian sama-sama keras kepala."
Ya, mungkin benar juga. Kalau dipikir lagi, Audrey benar tentang mereka. Nathaniel selalu ingin sesuatu yang dia mau, dan Clarita juga sama. Dia akan mempertahankan apa yang dia inginkan. Ya intinya mereka sama. Tak ada yang mau mengalah.
"Kalau begini terus, kapan semua ini akan selesai?" Nathaniel masih bungkam dan lebih memilih memikirkan ucapan adiknya. Dia berpikir jika Audrey mungkin benar, tak ada yang mau mengalah diantara mereka.
"Dan kau tak mungkin memaksa Clarita untuk mengalah kan?"
Pandangan Nathaniel kini kembali menatap adiknya. Apa? Audrey menyuruhnya mengalah? Dia menyuruhnya mengalah dan melepaskan Clarita begitu? Lalu bagaimana dengan tugasnya?
"Tidak, maksudku bukan mengalah dan melepaskan Clarita dari sini."
Oh hampir saja Nathaniel memprotes adiknya. Lalu apa? Apa yang harus dia lakukan?
"Kau tak bisa memaksa Clarita untuk mengalah. Artinya kau lah yang harus mengalah untuk gadis itu."
Detik itu juga Nathaniel kembali berpikir, dia? Harus mengalah pada Clarita? Tapi dalam hal apa? Apa yang harus dia lakukan?
Nathaniel rasa dia sudah cukup bersabar, Clarita saja yang tak mau mengalah. Dia sudah cukup berusaha sampai detik ini. Kenapa harus Nathaniel lagi yang mengalah? Lagi pula, dengan cara apa dia bisa membuat Clarita luluh?
"Mengalah? Apa yang harus aku lakukan?" Adiknya menarik nafasnya sebelum menjawab. Sebenarnya dia ragu akan hal ini, tapi mungkin tak ada pilihan lain.
"Kau ingat saranku waktu itu?" Nathaniel masih menunggu jawaban Audrey selanjutnya.
"Jika cara kasar bahkan tak membuatnya menurutimu, jalan satu-satunya adalah mendekatinya secara halus."
"Kau harus mengambil hatinya, sampai dia benar-benar ingin memberikan semuanya padamu."
"Buat dia mencintaimu dan dia akan menyerahkan semuanya padamu dengan senang hati."
Deg
Sial, ya Nathaniel ingat itu. Tapi.. buat Clarita mencintainya? Apa itu tak terlalu sulit? Bagaimana bisa dia melalukan itu? Bagaimana bisa dia membuat seseorang mencintainya saat seseorang itu begitu membencinya?
Bukan cuma sulit untuk Clarita, tapi untuk dirinya juga. Bagaimana bisa dia berpura pura baik pada gadis itu saat dia bahkan membencinya?
Dia harus berpura pura menyukai Clarita begitu? Apa dia bisa? Bagaimana caranya?
"Tidak, aku tak bisa." Nathaniel menolak saran adiknya mentah-mentah. Tidak, dia tak bisa, itu bukan saran yang terbaik.
Ya,Audrey mengerti seberapa besar mereka saling membenci. Tapi apa lagi cara yang bisa menyelesaikan semua ini selain itu? Ya mungkin ini memang sulit, tapi Nathaniel hanya perlu menyingkirkan egonya untuk beberapa lama sampai Clarita mencintainya. Setidaknya sampai Clarita mau menyerahkan semuanya pada Nathaniel.
Jika tidak, kapan semua ini akan berakhir?
"Tak ada cara lain, ini satu-satunya."
"Lalu bagaimana jika tak berhasil? Bagaimana jika dia masih tetap seperti itu huh? Apa kau pikir aku bisa sabar menghadapi gadis sepertinya?"
"Berusahalah! Berusaha lah demi tugasmu."
"Lagi pula apa salahnya? Kau hanya perlu berpura pura baik padanya sampai dia luluh. Bertingkahlah seolah kau menyukainya dan setelah semuanya selesai, kau pada akhirnya bisa membunuhnya. Benar kan?"
Di sana, Nathaniel mulai memikirkan hal itu. Ya mungkin saran Audrey bisa dia terima, tapi bagaimana jika ternyata hal itu tak juga berhasil? Bagaimana jika Clarita malah semakin keras kepala? Bisa bisa dia semakin membuang waktu.
"Berpura-pura lah seolah kau menyukainya sampai gadis itu mau menyerahkan semuanya padamu."
"Kau tak perlu menjalankan peranmu terlalu dalam, kau hanya harus berubah menjadi pria yang dia butuhkan."
"Kau harus mengubah pandangannya tentangmu agar dia bisa luluh dan menyerahkan dirinya dengan senang hati."
"Dan aku pikir ini semua tak terlalu sulit. Kau membencinya kan? Harusnya kau bisa tega melakukan semua ini meskipun mungkin pada akhirnya kau akan menyakitinya." Gadis itu menjeda kalimatnya sebelum kembali berbicara.
"Aku tahu ini jahat, tapi ini satu-satunya cara. Berpura puralah. Bertingkahlah seolah olah kau menyukainya sampai tugasmu selesai."
"Setelah itu, kau bisa melepaskannya dan membuangnya seperti sebelum kau bertemu dengannya."
"Hanya sampai tugasmu selesai, dan semuanya berakhir."
Kalimat-kalimat itu benar-benar memenuhi kepalanya dan membuatnya semakin tak bisa berpikir. Di sisi lain, dia harus menjalankan tugasnya, tapi disisi lain juga, dia benci melakukan itu.
Dia benci berpura pura hanya untuk satu orang gadis yang sangat dia benci.
Tapi bagaimana dengan tugasnya? Jika dia mengabaikan saran dari Audrey, apalah dia punya cara lain untuk mendekati Clarita selain dengan itu?
Dia tak mungkin melalaikan tugasnya hanya karena egonya pada gadis itu kan? Dia tak bisa melawan ayahnya hanya karena dia membenci Clarita kan?
Oh sial, ini benar-benar membuatnya bingung. Dia benci melakukan ini. Dia benci mengakui jika saran Audrey memang mungkin adalah yang terbaik. Tapi kalau dia tak melakukan itu, harus bagaimana lagi? Dia tak tahu. Dia tak punya ide lain selain itu.
Sial, haruskah? Haruskah dia melakukan apa yang Audrey sarankan?