
Sial! Tidak, dia tak boleh membawa Sakura.
"Sakura!"
"Clarita! Ah! Tolong!"
"Sakura" Gadis itu beranjak dan menahan tangan Sakura.
"Lepaskan temanku berengsek!" Tapi tetap saja vampire itu menarik Sakura.
"Clarita!"
Dan Clarita tetap tak menyerah membuat si vampire benar-benar terlihat geram.
Apa gadis itu mau dibawa juga?
Sekali lagi, si vampire mencoba menyingkirkan Clarita sampai pada akhirnya gadis itu benar-benar tak bisa menahan temannya.
"SAKURA!"
Semuanya terlambat. Clarita yang berusaha bangkit pun gagal saat mereka sudah kembali menguncinya meninggalkan Clarita bersama wanita lainnya yang masih terlihat ketakutan.
Berkali-kali dia memanggil Sakura tapi tetap vampire itu tak mengembalikannya.
Apa tadi itu hari terakhir dia bertemu Sakura? Apa sahabatnya itu akan mati setelah ini?
Kalian mungkin tak tahu seberapa takutnya gadis itu sekarang.
Dari awal dia masuk ke ruangan ini, gadis itu benar-benar tak berhenti menangis.
Setelah vampire itu membawanya, sebelum sampai di ruangan ini, dia diperlakukan seolah-olah dia akan pergi ke pesta dansa.
Ya, rambutnya ditata rapi, wajahnya dipoles make-up serta baju yang dia pakai benar-benar membuatnya tak nyaman.
Bagaimana tidak?
Gaun itu sedikit menampakkan dadanya.
Sebenarnya dia mau apa? Dan apa yang vampire itu rencanakan?
Dia berada di ruangan ini beberapa menit yang lalu. Ruangan dengan ranjang besar yang sudah dihias sedemikian rupa membuat jantungnya semakin berdebar kencang.
Apa sebentar lagi akan ada yang datang kesini? Apa mungkin sesuatu akan terjadi padanya sebentar lagi?
Dia hanya bisa berdoa jika hal-hal itu tak akan terjadi.
Tapi.. sepertinya Tuhan tak mengabulkan permintaannya itu.
Karena sesuatu memang akan benar-benar terjadi setelah ini.
Kalian tahu? Kini dia baru saja dikejutkan dengan pintu yang terbuka saat seseorang membukanya.
Suasana berubah menjadi mencekam seketika saat pria bermata tajam itu masuk dan menatapnya.
Pria yang dia temui beberapa waktu lalu di alun-alun kota. Pria yang mengaku sebagai pemimpin dari pada vampire itu.
Apa yang akan dia lakukan?
Untuk beberapa detik, mereka saling berpandangan sampai kini jantungnya kembali berdebar saat pria itu berjalan mendekat.
Oh Tuhan, tolong. Jangan biarkan pria itu melakukan sesuatu padanya.
"Berdiri." Ujarnya begitu dingin saat berada di depannya.
pria itu benar-benar tampan saat mereka berhadapan meskipun aura menakutkannya lebih mendominasi.
Dan rasa takut itu masih dia rasakan membuat dia kembali menangis.
"Kumohon, jangan menyakiti-
Tapi kemudian dia berhenti berbicara saat pria itu meletakkan jarinya di bibirnya sendiri. Dia menyuruhnya untuk diam.
Dan sialnya, dia menurut diam meskipun pria itu hanya melakukan hal tadi.
Kini pria itu menyentuh wajahnya dan mengusap air mata yang mengalir di pipinya sementara gadis itu menunduk.
"Aku tak menyuruhmu menangis." Ujarnya tajam. Bulu kuduknya bahkan berdiri saat dia melakukan itu.
"Kau di sini bukan untuk itu, kau di sini untuk melayaniku."
Deg
Oh apa yang akan dia lakukan?
Tidak, tidak bisa seperti ini.
"Kumohon jangan-
Dan untuk kedua kalinya dia menghentikan ucapannya saat pria itu tiba-tiba mengarahkan kepalanya agar mereka saling menatap.
"Aku tak suka saat seseorang menolakku."
"Tak ada yang bisa kau lakukan selain menuruti semua yang aku katakan." Mereka masih berpandangan dan pria itu kini benar-benar menatapnya tepat pada mata gadis itu.
Dia menatapnya begitu dalam sampai pria itu kembali berbicara.
"Berhenti menangis."
Oh kalian tahu apa yang selanjutnya terjadi? Dia yang tadinya menangis ketakutan, kini malah berhenti seketika setelah pria itu menyuruhnya berhenti.
Entahlah, semuanya aneh. Pria itu seperti sedang mengendalikannya.