
"Tanpa kau paksa, aku pikir mereka dengan senang hati mau melayanimu." Ucap Jovian di ujung sana yang masih duduk sambil menikmati cairan di gelasnya.
Mereka tengah berkumpul mengobrol santai di sana. Audrey, Jevon dan Jovian.
"Dia juga punya kriteria." Ujar Audrey.
"Aku pikir kau melakukan ini hanya terpaksa, tapi ternyata kau mau juga." Jovian menyindir meskipun Nathaniel hanya bisa tersenyum kecil mendengar ucapannya. Ya meskipun dia tak mau, tapi tetap saja dia harus melakukan ini dan memilih siapa saja yang akan dia pilih.
"Tak sulit, kau hanya perlu menatap matanya dan mengatakan apa yang kau mau. Bukankah itu mudah?" Kini Jevon yang berbicara.
Asal kalian tahu saja, hal itu memang benar bisa terjadi. Mereka Vampire, dan kalian tak akan menyangka apa saja kemampuan yang mereka miliki. Ya salah satunya yang Jevon ucapkan barusan.
"Bukankah menyenangkan menjadi diriku?" Ujar Nathaniel menyeringai. Kalau mereka pikir, ya dia ada benarnya juga.
Dulu, ayahnya tak pernah mengizinkan mereka berhubungan dengan manusia sama sekali, apapun alasannya selain untuk makan. Bahkan pria itu mendoktrin putra-putranya jika semua manusia hanyalah makanan yang bisa mengenyangkan, dan mungkin itu juga yang membuat Nathaniel selalu menganggap manusia seperti itu meskipun sebenarnya tak semua vampire setuju akan hal itu. Termasuk Jevon, adiknya.
Dia tak menganggap manusia hanyalah sebuah makanan atau budak.
Manusia juga memiliki sesuatu yang lebih dari itu.
"Tak akan menyenangkan kalau ternyata kau tiba-tiba menyukai wanita yang akan melahirkan bayimu." Ujarnya tiba-tiba membuat semua saudaranya menatap Jevon.
"Bukankah setelah bayinya lahir, kau harus langsung membunuh wanitanya?"
Kini mereka saling menatap. Ya tentu saja, memangnya kenapa? Dia tinggal membunuhnya saja kan?
"Aku? Suka pada manusia?" Ujar Nathaniel seperti meremehkan saat kembali menanggapi Jevon.
"Siapa tahu, mungkin saja."
Kemudian, pria itu terkekeh.
"Dan soal membunuhnya, aku hanya tinggal membunuhnya. Bukankah sangat mudah membunuh makhluk lemah itu?"
Kedua adiknya menaikkan satu alisnya. Nathaniel mungkin bisa mengatakan itu sekarang, tapi ya kita lihat saja nanti jika memang hal itu tak akan terjadi. Dan dia juga benar, jika harus membunuh manusia, mereka hanya tinggal membunuhnya saja. Bukankah memang mudah?
Tapi Nathaniel sepertinya memang tak pernah merasakan bagaimana rasanya menyukai seseorang yang berbeda dari mereka, dia mengatakan hal itu karena dia tak tahu bagaimana menyakitkannya saat semuanya harus ditentang karena perbedaan. Nathaniel tak tahu betapa menyakitkannya menyaksikan gadis yang dia cintai harus mati begitu saja.
Tapi kenapa Jovian jadi memikirkan itu? Oh ayolah, lupakan saja. Bukankah Nathaniel berbeda dengannya? Nathaniel tentu tak akan peduli jika dia kehilangan perempuan yang berhubungan dengannya sekalipun. Dia mungkin dengan senang hati akan membunuh perempuan itu setelah bayinya lahir. Entahlah.
Kini keadaan berubah menjadi sunyi setelah obrolan mereka yang mungkin tak terlalu penting itu. Tapi sampai Audrey mengeluarkan suaranya di tengah keheningan.
"Nathaniel, mereka sudah datang."
Ucapannya itu membuat semua kakaknya menatap Audrey.
"Siapa yang datang?"
Ketiga pria itu masih menunggu Audrey yang kini menatap mereka, sampai kini gadis itu malah tersenyum ke arah Nathaniel.
"Wanita-wanita mu."
:
:
:
:
:Budayakan like dan favoritkan kl kalian suka ๐๐