
Clarita tak tahu kemana dia akan dibawa. Setelah kejadian beberapa menit lalu, dia ditarik begitu saja oleh pria yang mengaku sebagai pemimpin para vampire itu berjalan mengikutinya.
Entah kemana dia dibawa, yang jelas sekarang dia benar-benar kebingungan saat ketiga saudara pria itu juga berjalan di dekatnya. Ya dia laki-laki dan satu perempuan.
Dan semua orang membungkuk hormat ke arah mereka. Clarita berpikir jika kini dia di bawa keluar gedung karena mereka terus berjalan ke arah sana.
Oh sial, dia mau dibawa kemana? Mau apa lagi mereka?
Tak ada opsi lain selain mengikuti mereka. Clarita tak bisa melarikan diri karena di sini terlalu banyak vampire yang berjaga. Dia tak mau sampai kejadian lagi saat dia harus dikejar banyak vampire. Ya Clarita memang tak takut tapi kalau sebanyak itu? Bukankah dia sudah pasti mati?
Sungguh dia benar-benar tak tahu, terserahlah, dia tak peduli.
Beberapa lama dia berjalan, sampai kini, Clarita benar-benar sampai di luar gedung. Ya benar dia memang di bawa ke sini. Dan selanjutnya, Clarita harus kembali dikejutkan dengan pemandangan yang ada di sana. Bagaimana tidak, di sana, dia berhadapan dengan ratusan vampire di depannya. Dia berdiri di depan mereka bersama ke-empat vampire itu yang mengapitnya.
Kalian tahu? Clarita bahkan gemetar melihat banyak vampire disana. Bukan cuma itu yang membuatnya gemetar, Clarita juga melihat kekasihnya di sana. Ya, itu.. Ryan, dia juga ada di sana menatapnya.
Mereka berkumpul meskipun Clarita masih tak tahu apa tujuannya. Tapi sampai tak lama setelah itu, suasana pun tiba-tiba hening saat Nathaniel kini maju ke depan dan bersiap untuk berbicara. Mereka memasang telinganya baik-baik untuk mendengarkan pemimpinnya.
"Selamat sore." Pria itu menyapa semuanya.
"Sebelumnya terimakasih sudah datang, aku hanya ingin menyampaikan sesuatu."
Mereka masih menunggu pemimpinnya melanjutkan.
"Di sini aku hanya ingin memperingatkan kalian."
Memperingatkan? Memperingatkan apa?
"Mulai sekarang kalian harus terbiasa dengan kehadiran manusia yang akan tinggal di sini."
Manusia? Apa Nathaniel tengah membicarakannya?
"Karena.. mulai sekarang.. gadis ini-
Shit! Apa apaan?!
"Gadis ini milikku."
Deg
Huh? Hey! Sejak kapan?! Oh tidak, jangan sembarangan berbicara!
"Tak ada yang boleh mengganggunya."
Di sana, Clarita hanya bisa melongo setelah mendengar itu. Sejak kapan? Sejak kapan Clarita menyetujui hal itu? Kenapa dia begitu seenaknya meng-klaim Clarita sebagai miliknya? Kapan dia mengiyakan?!
"Siapapun yang berani mengganggunya, akan berurusan langsung denganku."
Oh Tuhan, apa lagi ini? Kenapa hidupnya semakin sial?
Semenjak kejadian beberapa menit lalu, Clarita sudah tak melihat vampire vampire itu menatapnya lapar. Jika sebelumnya mereka berlomba mengejar Clarita dan berniat menyantap gadis itu, kini lihatlah mereka.
Saat Clarita bahkan berjalan bersama Nathaniel, Jovian, Jevon, dan Audrey, beberapa vampire yang melewatinya menunduk padanya. Ya mungkin vampire itu menunduk pada Nathaniel, tapi setelah itu Clarita benar-benar merasa jika mereka tak akan menyakitinya.
Oh tentu, siapa yang mau berurusan dengan Nathaniel jika mengganggu Clarita? Pria itu sudah memperingatkan jika siapapun yang mengganggu Clarita, akan berurusan langsung dengan Nathaniel.
Bukankah itu sama saja mereka menyerahkan nyawanya begitu saja pada Nathaniel? Kalian tentu tahu bagaimana pria itu.
Tapi bukannya merasa 'terlindungi', Clarita justru tak terima saat pria itu mengklaim dirinya sebagai 'miliknya'.
Kapan? Kapan Clarita mengiyakan itu? Lagi pula kenapa juga pria itu harus mengklaim dirinya? Bukankah Nathaniel membencinya?
Dan kini, Clarita masih tak tahu apa yang akan mereka lakukan. Mereka berjalan dan Clarita hanya bisa mengikuti mereka.
Sesekali dia melirik gadis tinggi di sebelahnya yang beberapa kali tersenyum padanya. Clarita tentu curiga, kenapa dia tersenyum begitu? Oh apa dia berusaha mendekati Clarita? Jangan harap, mereka tak akan pernah berteman.