
"Kemari, kau mau diobati kan?"
Dan benar, setelah itu dia memberanikan dirinya melangkah mendekat sampai dia berhadapan dengan vampire yang masih berada di depan pintu setelah membuka selnya.
"Sini, mau ku obat- ARGHHHH!"
Kalian tahu? Belum sempat dia mengucapkan kalimatnya, Clarita lebih dulu menusukkan benda yang tadi dia ambil ke leher vampire itu.
Katakan dia cari mati, tapi Clarita benar-benar tak punya pilihan.
Sampai kini dia menarik vampire yang masih kesakitan itu agar masuk ke dalam sel.
Dan kalian mungkin cukup pintar untuk menebak jika setelah itu Clarita langsung keluar dari sel lalu menguncinya rapat-rapat.
Ya vampire bodoh itu meninggalkan kuncinya di sana.
"Sialan!" Umpat si vampire yang kini bangkit setelah Clarita berhasil mengunci selnya.
BRAK BRAK BRAK!
"BUKA GADIS SIALAN!"
Tentu saja Clarita tak membiarkan itu terjadi. Dia lebih memilih untuk mundur saat si vampire berteriak padanya. Sampai tak lama dia memutuskan untuk pergi dari sana dan melarikan diri.
"Shit!" Clarita benar-benar gemetar bahkan saat dia berniat pergi dari sana. Tapi belum beberapa langkah dia pergi dari sana, Clarita harus berhenti saat pendengarannya menangkap suara gadis-gadis lain di sana yang berteriak padanya.
"Hey! Selamatkan kami juga!" Oh ya Clarita lupa tentang mereka.
Tentu saja, dia akan menyelamatkan mereka tapi tidak sekarang. Mungkin dia akan kembali setelah semuanya mungkin.
"Aku akan kembali, aku pasti kembali." Selanjutnya Clarita kembali berlari sambil berhati-hati jika saja di sana masih terdapat banyak vampire.
Untuk beberapa langkah, mungkin dia merasa semuanya aman. Tapi sampai dia berbelok ke satu lorong, Clarita begitu terkejut saat dia mendapati beberapa vampire yang berjaga di sana.
Sialnya, vampire itu menyadari jika ada seorang gadis yang kabur. Ingat, lukanya masih menganga.
"Kenapa ada manusia disini?"
"Sial! Dia kabur! Kejar dia!"
"Shit." Clarita mengumpat dan kembali mundur untuk mencari jalan.
Oh Tuhan, apa dia bisa melewati mereka? Mereka benar-benar cepat. Bagaimana ini?
Dia sesekali melirik kebelakang sambil terus berlari melewati beberapa lorong. Tapi sampai dia terkejut karena Clarita merasa ada seseorang yang menariknya.
Oh tidak, siapa dia?
Tolong, dia hanya ingin pergi dari sini.
Clarita merasa jika seseorang yang baru saja menariknya itu kini menyudutkannya di satu lorong. Clarita yang tadinya tak berani melihat kini mendongak sampai mereka benar-benar berhadapan.
Deg
Itu...
"Apa?"
"Maaf tuan, kami lengah menjaga-
Ucapannya berhenti saat pemimpinnya itu mencengkram kerahnya kasar membuat mereka saling berhadapan.
"Kau kalah melawan satu manusia?"
"Ini memang salahku, aku leng- AH!"
Lagi-lagi ucapannya terhenti karena pemimpinnya itu kini mencengkram lehernya kuat.
"Kau tak bisa menjaga satu manusia saja?"
"Apa kau tahu kau baru saja menjatuhkan harga diri kita?" Pria itu benar-benar tak bisa bernafas karena lehernya masih dicengkeram kuat. Sampai setelah itu, dia merasakan punggungnya membentur lantai karena pemimpinnya itu baru saja melemparnya.
"Kau benar-benar tak berguna."
"Jovian, urus dia."
Sampai setelah itu dia pergi untuk mencari wanita yang dikabarkan melarikan diri itu.
Tidak, dia tak boleh kehilangan satu wanita pun sebelum semua ini berakhir.
Dan bukankah ini memalukan jika memang wanita itu berhasil kabur? Dia manusia dan mereka semua vampire yang notabenenya lebih kuat.
Ini tak bisa dibiarkan,Nathaniel harus mencari wanita itu.
Dia keluar dengan beberapa vampire yang mengikutinya di belakang.
"Tutup semua pintu. Jangan sampai dia kabur." Ujarnya memerintah.
Dia hanya ingin tahu siapa gadis yang bisa kabur begitu saja sementara di sana banyak yang menjaga? Nathaniel semakin geram karena mereka semua tak becus mengurusi satu gadis saja.
Dan dia masih berjalan penuh emosi sampai beberapa lama kemudian, dia menghentikan langkahnya karena seseorang memanggilnya.
"Tuan!" Dia menoleh dan mendapati satu vampire menghampirinya.
"Kita sudah mendapatkan wanita itu."
Oh jadi wanita itu sudah tertangkap?
"Dimana dia?"
"Dia sudah diamankan."
Lihatlah, tatapannya semakin menajam. Lihat saja apa yang akan dia lakukan setelah ini.
Nathaniel pun kini mengikuti vampire tadi untuk memastikan siapa gadis yang kabur itu.
Tentu saja dia akan marah besar setelah ini. Berani-beraninya manusia itu kabur?
Beberapa langkah dia berjalan, kini kakinya berhenti saat pandangannya sudah mendapati satu gadis yang terduduk di sebuah kursi sambil menunduk.
Di sana juga sudah ada Jovian bersama satu pria yang tak dia kenal.
Nathaniel masih mengira-ngira siapa gadis itu sampai dia benar-benar tak bisa menahan amarahnya saat dia mendongak dan menatap ke arahnya.
Oh shit. Gadis ini lagi.
Gadis yang seenaknya memotong pembicaraannya dan menantangnya waktu itu.
Kalian tak lupa kalau Nathaniel masih emosi kan? Terbukti karena dia kini mencengkram kasar kerah gadis itu sampai berdiri begitu dekat dengannya.
Hal itu otomatis membuat adiknya terkejut.
Tapi bukan cuma Jovian, satu pria yang masih berada di sana pun ikut terkejut. Hey siapa yang terima melihat kekasihnya diperlakukan seperti itu? Tapi sungguh, dia terpaksa. Bukan dia tak mau mengeluarkan gadis itu dari sini, tapi ini belum saatnya.