A Vampire's Love

A Vampire's Love
Capter 37: Teringat Kembali (Jovian)



"Easy brother."


Nathaniel masih menatap Clarita. Oh tentu dia keberatan, pria itu ingin memberikan Clarita makanan, tapi kenapa dia malah tak tahu terimakasih? Padahal dia lapar kan? Seharusnya dia tahu diri.


Nathaniel menurut, dia tak melanjutkan langkahnya meskipun tatapannya masih tajam ke arah Clarita. Gadis itu juga tak takut sama sekali.


"Nona, kami hanya ingin kau makan, kau lapar kan?" Clarita menatap pria bermata biru di sebelahnya. Kalian tahu? Pria itu mengatakan hal tadi dengan nada yang entah kenapa benar-benar menenangkan. Apa lagi, dia mengatakan itu sambil tersenyum padanya.


Senyum? Ya vampire itu tersenyum, berbeda dengan vampire menyebalkan yang masih menatapnya tajam itu.


"Tenang saja, itu hanya daging. Coba saja."


Iya, entah kenapa perkataan pria itu sedikit lebih meyakinkan. Benarkah? Bukan daging manusia kan?


"Kalau kau tak mau tak usah dimakan, biar saja kau mati kelaparan." Dan kalian tahu itu suara siapa. Ya Nathaniel sepertinya masih benar-benar dendam pada gadis itu.


Jovian selanjutnya menatap kakaknya sebelum kembali menatap Clarita.


"Tidak nona, makanlah. Aku akan menjamin itu hanya daging biasa."


Nathaniel muak dengan ini. Dia bahkan mendelik saat Clarita mulai menatap makanannya. Dia memang lapar kan? Kenapa menuduh mereka memberikan sesuatu pada makanannya?


"Enak kan?" Tanya Jovian lagi setelah Clarita mulai mencicipinya.


Ck lihat, dia menikmatinya kan? Kenapa sok jual mahal tak mau makan?


Nathaniel pun berdecih dan memutuskan untuk duduk kembali ke kursinya sambil menatap gadis di depannya yang kini sudah menikmati makanannya. Lihat kan? Makanan itu enak.


"Makan yang banyak, makan buahnya juga." Kini Audrey yang berbicara dan menyodorkan piring berisi buah untuk Clarita.


Gadis bermata merah itu tersenyum. Dia ingin Clarita bisa nyaman tanpa kecurigaan lagi pada mereka. Yah setidaknya dia tak selalu berpikiran buruk tentang vampire, apa lagi mereka.


"Kita belum berkenalan, namaku Audrey, dan mereka kakak-kakak ku. Itu Jovian." Clarita mengikuti tangan gadis itu yang menunjuk pria bermata biru yang meyakinkannya tadi.


"Itu Jevon." Sekarang, pria dingin yang dari tadi hanya diam tak mengeluarkan suaranya.


"Dan itu Nathaniel." Oh vampire sialan yang melecehkannya beberapa waktu lalu. Dan tatapannya masih tajam. Jika tadi Clarita menatap yang lainnya biasa saja, kini dia menatap pria di depannya itu sedikit tajam. Ya dia yang paling mengesalkan diantara yang lainnya.


"Bagaimana dengan kau? Siapa namamu?"


Oh ya selama dia di sini, mereka tak tahu namanya. Mereka tak saling kenal bahkan saat pria bernama Nathaniel itu dengan brengseknya melecehkan Clarita. Dia bahkan tak tahu nama gadis itu.


"C-Clarita.Clarita Aracelly." Dan pada akhirnya mereka tahu siapa gadis itu. Ya setelah beberapa hari di sini mereka baru tahu namanya. Namanya cantik, terdengar berani seperti sifatnya.


"Baiklah, makan yang banyak. Kami harap kau bisa nyaman tinggal disini."


Suasana pun sedikit tenang setelah itu. Mereka masih menatap gadis manusia yang juga masih melahap makanannya di sana. Khususnya Nathaniel dan Jovian yang masih memperhatikannya.


Nathaniel dengan tatapannya yang seperti biasa, dan Jovian yang sedikit tersenyum.


Oh ya dia baru tersenyum lagi setelah melihat gadis itu. Tidak, bukan karena dia menyukainya, tapi karena dia kembali teringat seseorang.


Melihat gadis manusia itu membuat Jovian kembali teringat pada seorang gadis. Gadis yang tak pernah dia lupakan seumur hidupnya bahkan sampai detik ini.


Mungkin karena latar belakang mereka yang sama, Jovian tak bisa memungkiri jika gadis itu mengingatkannya pada gadis masa lalunya. Gadis cantik, putri kerajaan saat itu.Elizabeth.


Dia.. dia juga manusia, sama seperti Clarita. Dan mungkin umur mereka sama saat Jovian bertemu Elizabeth untuk pertama kali. Dia cantik, dengan senyumnya yang manis.


Dan hal itu juga yang membuat Jovian merasa bersalah pada dirinya sendiri. Ya gadis itu berbeda dengannya. Dia manusia, sementara dirinya monster.


Dan untuk pertama kali juga.. Dia jatuh cinta pada seseorang. Seorang gadis manusia.


"Kau suka?"


"Kenapa kau memberikanku bunga?"


"Dia cantik, sepertimu."


Jovian tentu tak pernah melupakan gadis itu. Kenangan itu terlalu berharga untuk dia hapus begitu saja. Tapi mungkin kalian tahu bagaimana akhir dari cerita cinta mereka.


Ya semuanya berakhir dengan Jovian yang hidup di dalam bayang bayang gadis itu sampai detik ini.


Bukankah manusia memang akan selalu dirugikan saat berhubungan dengan monster seperti mereka?


Dan mungkin hal itu juga yang akan dialami Clarita selanjutnya. Oh bukan dia mendoakan sesuatu terjadi pada Clarita, tapi berhubungan dengan makhluk seperti mereka akan selalu berakhir dengan tragis. Nyawa menjadi taruhannya.


Dan itu memang nyata. Bukankah itu terjadi pada Elizabeth? Gadis itu berhubungan dengannya, dan pada akhirnya mati karena hubungan 'cinta terlarang' mereka.


Tapi setidaknya Nathaniel harus bersyukur karena dia tidak mencintai Clarita. Jadi jika dia kehilangan Clarita sekalipun,Nathaniel tidak menderita sepertinya.


Ya Nathaniel tak bisa melupakan fakta jika dia harus membunuh Clarita setelah tugasnya selesai. Berdoa saja Nathaniel tak sampai menyukai gadis itu. Ah tapi sepertinya tak mungkin. Nathaniel tak mungkin menyukai Clarita. Bukankah dia terlalu membenci gadis itu?