
"Oh kau mau berjaga di sini?"
"Ya sudah sana pergi."
Di sana Clarita hanya bisa bersyukur saat penglihatannya benar-benar menemukan pria yang dia tunggu tunggu. Siapa yang tak senang jika kekasihnya datang untuk menyelamatkannya?
Clarita bersyukur saat pada akhirnya vampire yang menjaganya itu pergi meninggalkan Ryan yang kini tengah memegang kunci untuk membebaskannya.
Dan sekarang, pria itu melangkahkan kakinya ke arah Clarita dengan kunci yang dia pegang di tangannya.
Sampai beberapa lama, pria itu sampai di depannya.
Oh apa ada yang lebih membahagiakan dari ini? Ryan bahkan membukanya tak sabar sampai pintu itu berhasil terbuka. Dan saat itu juga, Clarita berhambur ke pelukan Ryan saat mereka sudah berada di sana.
Tidak, setelah pertemuan mereka kemarin, mereka belum sempat menyalurkan kerinduan itu. Ryan bahkan harus berpura pura tak mengenal Clarita di depan pemimpinnya karena merasa takut. Bukan dia takut pemimpinnya akan membunuhnya, tapi dia lebih takut jika pemimpinnya itu akan melakukan sesuatu pada gadisnya.
Oh akhirnya mereka bisa melakukan ini.
"Aku merindukanmu." Lihat, setelah berpelukan, entah kenapa Clarita malah menangis di tengah pelukan mereka setelah itu. Gadis itu benar-benar merindukan Ryan.
"Aku lebih merindukanmu." Siapapun harus mengingat ini. Meskipun kini hubungan mereka sudah berbeda, meskipun Ryan bukan lagi manusia seperti waktu itu, cintanya tak akan pernah hilang untuk gadis ini.
Ya sekalipun Clarita mungkin adalah makanannya, Ryan benar-benar tak bisa melihat gadis itu terluka. Apa lagi saat melihat Clarita hampir dibunuh oleh pemimpinnya kemarin.
"Ryan, keluarkan aku dari sini."
"Ya aku pasti akan mengeluarkanmu. Aku janji."
"Aku takut.."
"Ya aku tahu, kau harus bersabar. Aku pasti akan menyelamatkanmu dari sini. Jangan khawatir."
"Aku akan mengatur rencana. Aku janji kau pasti akan keluar dari sini." Ya Ryan bertekad dalam hatinya meskipun dia tak tahu akan seperti apa nantinya.
"Bisakah kau mengeluarkan ku sekarang?" Oh Clarita memintanya membebaskan gadis itu hari ini? Dia pikir, itu akan sulit.
"Clarita.." Ryan memanggil namanya membuat Clarita menatap pria itu.
"Aku akan menyelamatkan mu. Tapi tidak hari ini."
Harapannya pun sedikit memudar. Sungguh dia benar-benar muak di sini. Clarita tak bisa bertahan lebih lama, dia merindukan ibunya di rumah.
Lagi pula, kenapa pemimpin vampire itu tak membiarkannya pergi saja? Bukankah kehilangan satu perempuan tak akan membuatnya merugi? Clarita yakin dari sekian banyak perempuan, Clarita bukan orang yang pria itu tunggu.
Clarita hanya gadis yang terjebak di sini seperti yang lainnya. Lagi pula, vampire itu pasti membencinya setelah apa yang dia lakukan kan? Tak seperti gadis lain yang menurut, seharusnya dia melepaskan Clarita karena sikapnya yang bahkan tak menghormati pria itu.
"Clarita, aku janji secepatnya kau akan keluar dari sini." Kekasihnya kembali menyakinkan Clarita agar tak berhenti berharap. Clarita mungkin bisa saja kehilangan harapan, maka dari itu Ryan menyemangatinya agar tak menyerah.
"Aku harus pergi. Mereka mungkin curiga." Oh ya Ryan cukup lama berada di sini. Vampire itu mungkin bertanya apa yang dia lakukan di dalam sel bersama perempuan pengacau itu.
"Baiklah, hati-ha-
Oh sebentar, tiba-tiba saja ucapan Clarita terpotong saat mereka mendengar suara beberapa orang yang melangkahkan kakinya menuju tempat mereka berada. Oh sial, siapa itu?
"Ada yang datang."
Bukan cuma Clarita, Ryan ikut panik dan refleks keluar melihat siapa yang datang. Ryan agak takut karena di sana dia mendengar teriakan beberapa gadis setelah pintu itu terbuka.
Oh siapa itu? Kini Ryan keluar dan memutuskan untuk mengunci sel Clarita sampai pandangannya terbelalak karena melihat pria berjubah hitam dengan beberapa vampire berjalan ke arahnya.