
Kenapa?
"Ini ambil." Ujar Audrey karena Jevon tak kunjung mengambilnya.
"Kau tak mau memakaikan untukku juga?" Ujarnya membuat Audrey sedikit heran.
Jevon mau dipakaikan juga?
Oh tentu saja Jevon mau. Bukankah tadi dia menawarkan Jovian untuk dipakaikan cincin? Kenapa Jevon tidak?
"Oh kau mau aku pakaikan-
"Tidak usah."
Huh?
"Aku bisa sendiri."
Belum sempat Audrey menyelesaikan ucapannya, Jevon sudah lebih dulu mengambil cincinnya dengan kasar dari Audrey lalu pergi.
Audrey pun melongo.
Jevon kenapa? Lezabel seharusnya sudah tak kaget. Jevon memang selalu seperti itu selama mereka hidup bersama. Entahlah, pria itu seperti tak menyukainya. Dia juga sulit ditebak. Jangankan bersikap baik, senyum padanya pun tak pernah.
Tapi tak apa, meskipun Jevon memang berbeda dengan Nathaniel dan Jovian, setidaknya masih ada yang selalu membuatnya tersenyum. Bukan hanya Nathaniel, tapi Jovian juga.
Ya pria itu yang sering membuatnya tersenyum seperti orang gila. Bisa dibilang Jevon yang paling 'manusia' diantara ketiga kakaknya. Jevon masih bisa tersenyum dibandingkan kedua kakaknya.
Dan hal itulah yang tentu saja membuatnya senang.
Clarita sebenarnya tak takut untuk pergi ke luar lagi setelah hari itu. Dia sama sekali tak merasa takut saat dia harus berurusan kembali dengan Vampire. Tapi hal yang membuatnya tak bisa pergi adalah karena ibunya.
Ya, dia ketahuan pergi diam-diam dari rumah dan itu membuat ibunya benar-benar marah.
Bukan marah karena Clarita keluar, tapi karena dia khawatir jika anaknya ternyata tak kembali lagi.
Clarita memang berani, dan dia sama sekali tak ragu untuk melawan makhluk-makhluk sialan itu meskipun dengan peralatan seadanya dan risiko yang sangat besar.
Tapi dari sana lah ibunya tak memperbolehkan Clarita pergi keluar apapun alasannya. Ibunya bahkan memberi Clarita peralatan religius semacam kalung salib besar dan air suci agar vampire itu tak bisa macam-macam pada Clarita.
Asal ibunya tahu saja, Makhluk itu sama sekali tak takut dengan benda-benda suci yang ibunya berikan. Jangan salah, bahkan mereka juga memakainya. Bukankah itu sama sekali tak berpengaruh?
Dan Clarita terpaksa harus menuruti ibunya untuk diam di rumahnya sampai waktu yang lama. Meskipun dia ingin sekali keluar, tapi hal itu tak bisa dia lakukan karena ibunya selalu mengawasinya. Alhasil Clarita hanya bisa menatap keadaan di luar rumahnya dari jendela.
Keadaan masih sama, masih sepi seperti biasa semenjak makhluk-makhluk itu datang.
Oh ya ngomong-ngomong, Clarita sedikit demi sedikit sudah bisa menerima kenyataan jika Ryan sudah meninggalkannya. Meskipun dia kadang menangis, tapi dia juga pasti berhenti saat merasa lelah karena terus meratapi nasib.
Clarita pikir, menangis itu tak ada gunanya dan meskipun dia menangis sampai air matanya kering pun, itu tak akan membuat Ryan kembali. Meskipun dia sudah tak bisa bertemu pria itu lagi, Clarita baik-baik saja. Yang penting sekarang adalah keluarganya yang harus dia lindungi agar vampire-vampire itu tak menyakiti mereka.
Masih dengan posisi Clarita yang sama, Clarita berdiri memperhatikan keadaan di luar rumahnya yang terlihat sepi. Clarita sama sekali tak berniat pergi dari sana.
Tapi, beberapa lama dia menatap pemandangan di luar, gadis itu sedikit mengerutkan keningnya saat melihat ada hal janggal yang tak biasanya dia lihat.