
"Hhhh...hhh..hhh."
Gadis itu terengah setelah berlari cukup lama dengan perasaan panik dan kalut jika mungkin seseorang akan melihatnya.
Sesekali bahkan dia bersembunyi saat dia melihat beberapa vampire yang berjaga di sana. kakinya bahkan bergetar saat dia berlari sampai ke sini. Ke rumahnya yang lumayan jauh dari tempat dia melarikan diri.
Nafasnya tak bisa dikontrol karena benar-benar takut jika ada seseorang yang melihatnya. Dan kini, dia bisa bersyukur saat kakinya sudah tiba di tempat yang dia tuju.
BRAK BRAK BRAK
"Hhh... ibu! Ibu buka pintunya!" Dia mengetuk pintunya tak sabaran dan memanggil ibunya beberapa kali. Pintu itu terkunci dan sudah pasti dia tak bisa masuk kecuali ibunya yang membukakan.
"Ibu!"
BRAK BRAK BRAK
Gadis itu masih berteriak sambil sesekali memastikan jika di sekitarnya tak ada orang yang melihat.
Tapi beberapa kali dia berteriak, beberapa kali dia melihat ke sekeliling untuk memastikan tak ada yang melihat, pintu itu akhirnya terbuka menampilkan sosok wanita paruh baya yang terlihat bingung serta terkejut saat melihat putrinya ada di depan mata.
Tentu saja, kenapa putrinya bisa disini? Bukankah dia diculik vampire vampire itu? Dan bagaimana bisa dia berdiri di sini dengan keadaan yang begitu berantakan?
"Clarita??!!" Ya itu Clarita. Tapi gadis itu tak menjawab dan lebih memilih masuk ke dalam rumahnya lalu mengunci pintunya rapat-rapat.
Gadis itu terlalu panik sampai sampai dia begitu terburu.
Jangan lupakan nafasnya yang terengah serta keringatnya yang membasahi seluruh tubuh.
"Hhh...hhhh..hhh.."
"Clarita, apa yang terjadi?"
"Ibu, jangan bilang siapapun jika aku di sini."
"Clarita tenang, kenapa kau bisa ada di-
"Ceritanya panjang, hhh..hhh.. Aku benar-benar takut." Ya gadis itu bahkan masih panik meskipun dia sudah berada di rumahnya. Ibunya pun sama, dia terlihat khawatir sekaligus bersyukur karena melihat putrinya kembali.
Tempat itu benar-benar berbahaya, dan kesempatan untuk selamat mungkin sangat kecil. Tapi, kenapa Clarita ada di sini? Dan sepertinya putrinya itu masih sama seperti terakhir kali mereka bertemu.
"Clarita, sebenarnya ada apa?"
"Aku melarikan diri dari sana bu, mereka mengurung ku beberapa hari sampai aku bisa menemukan kesempatan untuk lari."
"Bagaimana bisa? Di sana sangat berbahaya."
Ya benar, ibunya benar jika di sana memang berbahaya, tapi mendengar itu, Clarita tiba-tiba saja kembali teringat pada seseorang yang rela berkorban untuk dirinya. Seseorang yang membantunya pergi dari sini. Ya Ryan, kekasihnya.
"Ryan menolongku."
Mendengar itu, ibunya sedikit terkejut.
"Ryan?"
Clarita pun mengangguk sebagai jawaban. Tapi setelah itu, dia benar-benar tak bisa menahan tangisnya karena mengingat kekasihnya.
Ibunya pun tak lagi bertanya dan lebih memilih untuk memeluk anaknya yang menangis.
"Tenangkan dirimu, semuanya baik-baik saja."
Sungguh, Clarita gadis berani. Tapi tetap saja, seberani apapun dia, Clarita juga masih memiliki rasa takut jika mungkin dia bisa saja ketahuan saat berlari ke sini.
Dia mengikuti ucapan Ryan agar pergi dari sana dan pergi sejauh-jauhnya dari tempat itu. Dan satu-satunya tempat yang dia pikirkan adalah rumahnya. Tempat dimana dia merasa aman saat melihat ibunya.
Lalu harus kemana lagi? Harus kemana lagi dia melarikan diri selain rumahnya? Clarita tak tahu jika mungkin para vampire itu akan mencarinya sampai ke sini. Tapi dia berusaha agar bisa sembunyi dan tak pernah kembali ke sana.
Dia ingin hidup seperti sebelumnya, dia tak mau kembali kesana.
"Bu, jangan bilang siapapun kalau aku ada di sini."
"Ya sayang, kau aman, ibu akan melindungimu." Mereka masih saling berpelukan. Ibunya masih berusaha menenangkan putrinya.
Tentu saja, sebagai seorang ibu dia tak akan pernah membuat anaknya terluka. Clarita aman di sini. Vampire vampire itu tak akan menangkap Clarita lagi. Ya pasti, semoga saja.