
Brak
Gadis itu langsung menoleh begitu mendengar pintu kamarnya yang baru saja ditutup saat seseorang masuk ke kamarnya.
Di sana, dia melihat Jevon yang tiba-tiba masuk kemudian menutup pintunya. Oh ya, Audrey sedang melamun, jadi dia lupa menutup pintu kamarnya.
"Kau baik-baik saja?" Tanyanya tiba-tiba pada Audrey yang langsung menatap Jevon. Dia baik-baik saja? Ya dia baik, hanya saja, entah kenapa dia masih melamun setelah dia keluar dari ruangan itu karena Jevon yang menyuruhnya.
Entahlah, dia sendiri tak tahu apa yang dia pikirkan.
"Eum.. Ya, aku baik."
"Tapi sepertinya kau terlihat sedang berpikir."
Ya memang, tapi entah apa yang ada di pikirannya.
"T-tidak, aku hanya-
"Kau memikirkan kejadian tadi?" Audrey otomatis menghentikan ucapannya karena Jevon yang memotong pembicaraan Audrey. Memikirkan kejadian tadi? Oh ya mungkin. Tapi dia juga tak tahu kenapa dia harus memikirkan itu.
"A-apa? Aku bahkan tak tahu apap-
"Berhenti berbohong." Ya Audrey memang tak pandai berbohong. Matanya menjawab semuanya. Dan dia tak bisa membohongi Jevon.
Kini pria itu melangkahkan kakinya mendekat ke arah Audrey lalu duduk di sebelah gadis itu. Audrey duduk di pinggir ranjangnya sambil melamun beberapa menit sebelum Jevon datang.
"Kau mendengarnya kan?" Lagi, Audrey menatap kakaknya itu.
"Mendengar apa?"
"Elizabeth."
Oh ya tentu saja, bahkan nama itu yang membuatnya melamun selama berada di kamar. Dia terus berpikir tentang itu dan mulai berspekulasi bahwa nama itu adalah nama gadis yang selalu Jovian simpan di dalam hatinya.
Dia juga berpikir mungkin gadis itu yang selalu Jovian lihat didalam foto saat Audrey mengintip kakaknya. Ya Audrey tak tahu siapa gadis itu. Dia sama sekali tak mengetahui siapa Elizabeth yang Nathaniel sebut.
Tapi mungkin itu bukan urusannya. Dan kenapa juga dia harus tahu siapa gadis yang bernama Elizabeth itu? Hal itu sama sekali bukan urusannya. Audrey tak punya hak untuk mengetahui tentang itu.
"Ya, aku mendengarnya, tapi aku tak punya hak untuk ta-
"Dia gadis yang Jovian cintai sampai detik ini."
Deg
Jujur, dadanya seperti tertusuk sesuatu. Tidak, dia tak berhak untuk merasa seperti itu. Bahkan Jovian adalah kakaknya. Audrey sama sekali tak berhak untuk merasa sedih karena hal itu.
Jujur, dadanya seperti tertusuk sesuatu. Tidak, dia tak berhak untuk merasa seperti itu. Bahkan Draven adalah kakaknya. Lezabel sama sekali tak berhak untuk merasa sedih karena hal itu.
Tentu Jovian mencintai gadis lain. Bukankah Jovian hanya menganggapnya sebagai adik? Adik kecil yang selalu dia bilang?
"Tapi dia sudah tak ada. Hanya saja Jovian masih memikirkannya." Audrey masih tak bersuara. Dia masih mendengar Jevon berbicara.
Jadi selama ini Jovian memikirkan gadis bernama Elizabeth itu?
Jovian ternyata memiliki gadis yang dia sayangi selama ini?
Oh ya, tapi memangnya kenapa? Jovian punya hak untuk itu. Dia tak salah mencintai seorang gadis.
"Tapi dia manusia. Seperti yang kau dengar."
Huh? Dia manusia? Sama sepertinya dulu? Audrey lagi lagi terdiam.
"Ayah membunuhnya karena dia tahu Jovian masih berhubungan dengannya."
Ya dulu Audrey juga manusia, tapi bedanya dia lebih beruntung karena Nathaniel menolongnya saat dia merubahnya menjadi seperti mereka. Audrey tak harus berakhir seperti Elizabeth saat harus berhubungan dengan mereka.
Tapi, apa berhubungan dengan manusia se-salah itu? Apa berhubungan dengan manusia se-berdosa itu? Kenapa sekarang hal itu tak berlaku? Kenapa ayahnya malah justru menyuruh Nathaniel untuk memanfaatkan manusia? Memanfaatkan mereka untuk membuat keturunan?
"Dia dibunuh?"
"Ya, itu juga yang membuat Jovian tak bisa melupakan Elizabeth."
"Dia mungkin sering tidur bersama beberapa wanita. Tapi dia tak akan pernah bisa melupakan gadis itu."
Lagi lagi, Audrey menunduk. Dadanya kembali sesak mendengar itu. Tapi apa hak nya? Dia tak punya itu.
Sementara Jevon di sana hanya bisa menatap Audrey yang menunduk. Mungkin dia tak harus menceritakan semuanya pada gadis itu. Tapi Audrey harus tahu. Dia tak bisa terus berharap pada Jovian saat pria itu bahkan hanya menganggapnya sebagai adik.
"Sekarang kau tahu kan? Berhenti berharap padanya."
Deg
Audrey yang tadinya menunduk kini otomatis menatap Jevon saat ucapan pria itu terdengar. Huh? Kenapa dia mengatakan itu? Dan Kenapa Jevon menyuruhnya seperti itu? Memangnya kenapa? Apa yang dia tahu?
"Kenapa kau menyuruhku melakukan itu?"
"Kau masih bertanya?"
"Apa? Apa yang kau tahu? Dan kenapa juga kau harus menceritakan semua itu padaku?"
Ck, Audrey masih bertanya kenapa? Dia mau berpura pura bodoh jika Jevon tak mengetahui apapun soal perasaannya pada Jovian? Gadis itu tak bisa berbohong padanya. Dia tak bisa menyembunyikan perasaan itu dari Jevon.
Cukup, cukup berpura pura bodoh di depannya.
"Yang aku tahu?"
"Yang aku tahu adalah kau menyukai Jovian."
Deg
"Apa kau pikir semuanya kurang jelas? Aku sudah bilang, kau tak bisa menyembunyikan rahasia apapun dariku."
Di sana, Audrey sedikit panik. Dia sedikit kelabakan dengan tebakan Jevon yang seratus persen benar. Kenapa dia tahu? Bagaimana bisa dia tahu tentang perasaannya pada kakaknya?
Kalau Nathaniel tahu.. semuanya bisa gawat.
Jevon tak boleh membocorkan rahasia ini pada Nathaniel. Bisa bisa kakaknya marah padanya.
"A-aku..
"Tak usah gugup. Aku sudah tahu dari lama."
Ya tentu saja, memangnya kurang jelas apa lagi? Dia tak buta untuk membaca semuanya. Audrey terlalu mudah untuk dibaca.
Tapi saat Jevon berpikir jika Audrey mungkin akan mengusirnya dari sini, Jevon malah mendapatkan hal yang membuatnya sedikit terkejut. Tidak, Audrey tidak mengusirnya. Dia malah memegang tangan Jevon tiba-tiba dan memohon padanya.
"Jangan beritahu Nathaniel."
Oh Audrey memegang tangannya dan Dia melihat itu. Saat tangannya digenggam. Meskipun gadis itu hanya ingin memohon padanya.
Ya ternyata ketakutan mereka sama. Satu hal yang mereka takutkan, saat Nathaniel mengetahui perasaan mereka. Bukan, bukan mereka tak berani mengungkapkannya, hanya saja mereka takut Nathaniel akan marah dan malah memisahkan mereka.
Kalian tahu kan bagaimana sifat kakaknya itu?
"Jevon.. kumohon." Selanjutnya pria itu menatap Audrey sebentar sebelum mengeluarkan suaranya. Tentu saja, dia pria yang andal untuk menjaga rahasia. Dia bisa diandalkan.
"Kau bisa mengandalkanku."
Seketika, Audrey sedikit tenang karena ucapan Jevon itu. Tapi hal selanjutnya, Audrey malah mengerutkan kening saat Jevon kembali berbicara.
"Asal kau juga mau menjaga rahasia ku."
Huh? Apa? Rahasia?
"Rahasia?"
"Jangan beritahu Nathaniel kalau aku menyukaimu."
:
:
:
:
:
:
Visual Elizabeth/Kang Seulgi