A Vampire's Love

A Vampire's Love
Capter 19: Sakura dan Kebencian



Ada apa ini? Apa yang terjadi?


Bahkan dia sama sekali tak mengerti apa yang dia alami saat ini.


"Sekarang buka pakaianmu."


Tidak ini tidak benar, dia tak mau melakukannya tapi anehnya dia malah melakukan itu.


Oh tidak, ada apa? Kenapa dia tak bisa menolak?


Bahkan dia masih tak sadar saat semua kain yang ada di tubuhnya benar-benar terlepas sampai pria itu menyuruhnya berbaring di ranjang.


Semuanya terjadi begitu saja. Dia menyaksikan semuanya saat pria itu juga mulai membuka satu persatu pakaiannya dan mendekat.


Tidak, apa yang akan terjadi?


Dia tak tahu, karena pria itu menutup matanya dengan kain hitam setelah sebelumnya dia mengikat kedua tangannya.


Dia tak bisa melawan, karena tubuhnya tak mengizinkan itu.


Bahkan saat pria itu mulai membuka kakinya.


Membuat semuanya begitu menyakitkan sehingga membuatnya berteriak sekencang mungkin saat tubuhnya serasa ditusuk.


Sungguh, ini benar-benar menyakitkan.


Dia tahu, dia tahu apa yang baru saja vampire itu lakukan padanya.



"Ayah lihat kan? Apa yang Nathaniel lakukan? Bahkan dia tak melakukan apapun saat menjadi pemimpin."


Ayahnya ingin sekali mencekik anaknya jika saja dia bukan putranya. Damien masih saja tak terima saat adiknya menjadi pemimpin.


Jelas dia kesal, Nathaniel baru saja menjalankan semuanya. Tapi Damien sudah melayangkan protes jika Nathaniel belum melakukan apapun.


Apa itu masuk akal?


"Aku tak akan mengubah keputusanku."


"Ayah masih tak mau mengakui jika aku lebih hebat darinya?" Ujar Damien menggebu-gebu sementara kedua adiknya hanya bisa bungkam.


"Dia tak bisa memimpin! Kau harus mempertimbangkan itu!"


"Ini bukan masalah siapa yang paling hebat. Kau hanya ingin kekuasaan, dan itu juga yang membuatku lebih memilih Nathaniel."


Oh jelas dia ingin kekuasaan. Bukankah hal itu bisa membuktikan jika dia lebih hebat dari Nathaniel? Lagi pula dia layak menjadi pemimpin. Dia juga kuat.


"Aku hanya ingin kekuasaan? Aku ingin menjadi anakmu yang bertanggung jawab ayah!"


Tentu saja itu bohong, dan alasan Damien benar-benar konyol. Bertanggung jawab apanya? Dia hanya ingin membuktikan jika dia lebih hebat dari Nathaniel.


"Aku tak akan mengubah apapun." Damien pun terdiam.


"Kau mau kekuasaan? Silahkan saja. Rebut itu dari Nathaniel kalau kau bisa."


Damien masih belum berbicara.


"Jangan remehkan adikmu. Aku tahu dia seperti apa."


Sampai kini, ekspresinya benar-benar marah setelah ayahnya pergi.


Kenapa masih saja Nathaniel? Kenapa harus selalu adiknya yang mendapatkan itu? Apa dia tak punya kesempatan sekali saja untuk menguasai semuanya?


Kenapa ayahnya tak pernah menganggap dirinya?


"Sudahlah, kau tahu ayah tak akan mengubah apa yang sudah dia tetapkan." Damien masih diam meskipun Samael berusaha menenangkannya.


"Ya, aku yakin Nathaniel tak akan bisa mengalahkanmu."


"Benar, lupakan-


"Tidak." Ucapannya itu membuat kedua adiknya diam.


Damien masih tak mau menyerah. Dan kini tatapannya mengarah pada kedua adiknya.


"Aku tak akan diam dan aku tak mau."


Lihat? Kalau sudah begini bagaimana? Memberitahu kakaknya itu memang tak akan berpengaruh apapun. Damien tak akan pernah menyerah jika sudah berurusan dengan Nathaniel.


"Aku akan merebut sesuatu yang seharusnya menjadi milikku." Ujarnya lagi sementara adiknya masih menunggu.


"Ayah tak mau memberikannya padaku?"


"Tak apa, lihat saja, aku akan mengambil semuanya."


:


:


:


:


:Budayakan like dan favorit kalo kalian suka


:


:Makasih ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š