A Vampire's Love

A Vampire's Love
Capter 47: Pengorbanan Ryan




"YOU SAW MY GIRL AND YOU JUST LET HER GO???!!"


Nathaniel benar-benar berteriak di depan wajah kedua pria yang tengah menunduk takut itu. Entah sudah berapa kali pemimpinnya berteriak dan memaki mereka karena kebodohan yang mereka perbuat.


Kerah baju mereka bahkan dicengkram kuat membuat mereka tak bisa melakukan apapun selain diam. Lihatlah, pemimpinnya itu seperti akan membunuh mereka saat ini juga.


Suasana masih begitu menyeramkan. Semua orang yang ada di sana pun hanya bisa diam melihat Nathaniel yang benar-benar murka. Begitu pun ketiga adiknya yang hanya diam menonton kakaknya di sana.


"Kami berusaha menghentikan mereka."


"LALU KENAPA GADISKU BISA PERGI HUH?!!!"


Kalian mungkin sudah bisa menebak jika kedua pria yang tengah diteriaki itu adalah dua orang yang menjadi 'saksi' saat kejadian dimana Clarita kabur bersama satu orang pria yang diduga menolong Clarita untuk melarikan diri dari sini.


Mereka yang mencegat Clarita dan Ryan sebelum akhirnya keluar.


"Gadismu.. gadismu pergi bersama seorang pria." Nathaniel kini lebih memilih untuk mendengarkan keduanya.


"Dia bilang tuan memerintahkannya untuk membawa gadis itu."


Deg


Huh? Apa? Apa katanya? Kapan dia memerintahkan seseorang untuk membawa Clarita?


"Kami juga berniat membawa gadismu kembali ke kamar. Tapi pria itu bilang jika tuan yang memberi perintah."


Nathaniel masih terdiam. Cengkeraman itu mulai lepas.


Tidak, dia tak memberi perintah apapun. Siapa yang mengarang cerita itu? Kapan dia memerintahkan seseorang untuk membawa Clarita? Jelas itu bukan perintahnya sama sekali.


"Maaf tuan, kami sudah berusa-


"Shit!"


Nathaniel masih berusaha menahan emosinya agar tak membunuh kedua pria di depannya ini.


Beberapa kali dia mengumpat dan kini, satu-satunya yang dia pikirkan adalah siapa pria yang beraninya membawa Clarita pergi dari sini? Siapa yang berani menantangnya dengan membebaskan gadis itu?


Berani sekali dia mengambil Clarita darinya. Siapa? Siapa si brengsek yang berani padanya?


Selanjutnya, Nathaniel kembali menatap kedua pria yang masih menunduk takut itu. Pandangannya kembali menajam menatap keduanya.


Tidak, ini tak bisa dibiarkan, mereka harus bertanggung jawab atas kebodohan mereka sendiri.


Sampai selanjutnya, Nathaniel kembali mengejutkan mereka saat lagi lagi pria itu menarik kasar kerah baju keduanya sampai pandangan mereka kembali bertemu.


"Aku tak mau tahu, cari si brengsek yang membawa gadisku."


"Cari dia sampai dapat atau kalian yang kubunuh."



"Ryan menyelamatkan mu? Ryan masih hidup?" Clarita mengangguk mengiyakan pertanyaan itu.


"Tapi kenapa dia tak ikut bersamamu?" Tapi selanjutnya Clarita terdiam. Oh ya, ibunya belum tahu jika Ryan sudah berbeda. Mungkin dia masih bisa menyelamatkannya, tapi pria itu kini berbeda dengan mereka. Ryan sudah menjadi bagian dari vampire vampire itu.


Sekeras apapun Clarita memaksa Ryan untuk pergi bersamanya, pria itu tetap menolak. Ryan bahkan mengusirnya untuk cepat pergi dari tempat itu.


Dia lebih memilih menyelamatkan Clarita dari pada memikirkan dirinya sendiri. Dan mungkin saat itu memang terakhir kali mereka bertemu. Mereka tak akan pernah bertemu lagi.


"Dia sudah berubah." Mendengar itu, ibunya sedikit terkejut. Dia tahu apa yang Clarita maksud dengan 'berubah'.


Maksudnya adalah Ryan sudah menjadi bagian dari mereka, dan pergi dari tempat itu adalah hal yang mustahil. Lagi pula, kalau pun Ryan ikut melarikan diri, dia tak akan bisa tinggal bersama Clarita. Mereka berbeda dan gadis itu dalam bahaya jika mereka terus bersama.


Dan itu memang salah satu alasan Ryan. Itu alasan dia tak pergi bersama Clarita. Tempatnya bukan bersama Clarita, Ryan tak bisa memaksakan jika mereka harus terus bersama. Biarkan Clarita pergi dari sana. Setidaknya jika Clarita bebas, gadis itu tak akan merasakan kekejaman pemimpinnya. Lagi pula Ryan tak mau jika sesuatu terjadi pada kekasihnya.


Cukup dirinya yang menderita, jangan siapapun lagi.


"Lalu bagaimana bisa kau pergi dari sana?" Tanya ibunya lagi.


"Ryan masuk ke kamarku dan mengajakku pergi saat pemimpin para Vampire itu pergi."


"Dia membawaku menuju gerbang belakang dan menyuruhku pergi lewat pintu itu."


"Kami bahkan hampir ketahuan."


Ibunya benar-benar tak bisa membayangkan apa yang putrinya rasakan. Dia harus merasakan ketakutan saat melarikan diri.


Ibunya juga merasa berterima kasih pada Ryan yang sudah menyelamatkan putrinya dan mempertaruhkan nyawanya hanya demi kekasihnya. Ryan mengambil risiko terlalu besar untuk menyelamatkan Clarita.


"Ryan melakukan itu semua?"


Clarita mengangguk sambil mengingat kejadian itu. Ryan sangat berusaha untuknya agar bisa membebaskan Clarita dari sana. Tapi Clarita bahkan tak tahu bagaimana nasib Ryan saat ini.


Apa kekasihnya baik-baik saja? Nathaniel tak melakukan apapun pada Ryan kan?


"Tapi bagaimana jika vampire vampire itu masih mengejarmu Clarita?"


Di tengah pikiran Clarita yang masih dipenuhi Ryan, pertanyaan dari ibunya itu justru membuat Clarita semakin berpikir