A Vampire's Love

A Vampire's Love
Capter 55: Flash back




"Kumohon lepaskan!"


Perlakuan kasar itu masih terjadi meskipun berkal-kali Clarita berusaha memberontak.Tidak, Nathaniel tak melakukan apapun, Nathaniel hanya berusaha melucuti pakaian Clarita saat gadis itu hanya memakai gaun tidur tipisnya.


Berkal-kali Clarita mencoba menghentikan Nathaniel dan memberontak, tapi pria itu tetap saja tak menggubris. Nathaniel sudah dibutakan oleh emosi yang menggebu di sana sampai sampai dia lupa jika apa yang dia lakukan benar-benar salah.


Dia bahkan tak menghiraukan Clarita yang semakin menangis. Yang ada di pikirannya adalah bagaimana caranya dia menghamili gadis itu sekarang juga.


Oh tentu, waktunya sudah terlalu banyak terbuang hanya oleh satu gadis yang sangat menyusahkan. Dia sudah terlalu membuang waktunya hanya agar Clarita mau tidur dengannya. Tapi apa hasilnya? Nathaniel bahkan tak mendapatkan apapun.


Seharusnya Clarita bersyukur karena dia tak memaksanya dari awal. Harusnya Clarita bersyukur karena Nathaniel masih memberi kesempatan padanya. Tapi faktanya, Clarita malah menyia-nyiakan 'kebaikannya'.


Bolehkah Nathaniel mengambil sesuatu yang memang seharusnya dia dapat?


yang terpenting adalah Clarita hamil keturunannya.


"Lepas kumohon!"


Tapi Nathaniel malah semakin menggila. Berapa kali pun Clarita memberontak, pria itu bahkan sama sekali tak mendengar.


Tak ada, tak ada yang bisa menolongnya. Nathaniel benar-benar berusaha melakukan apa yang dia inginkan.


"Lepas.. please.."


Clarita bahkan masih berusaha mencegah Nathaniel membuka pakaiannya.


Kenapa? Kenapa semua ini terjadi padanya? Tak pernah ada yang melakukan ini padanya. Bahkan Ryan sekalipun.Tapi sekarang apa? Yang melakukan semua ini malah pria jahat yang sangat Clarita benci seumur hidupnya. Pria yang menghancurkan hidupnya berkeping-keping sampai detik ini.


"Hiks.."


Tapi berkali kali Clarita memberontak, semuanya benar-benar percuma saat dia melihat dengan jelas jika Nathaniel mulai membuka ikat pinggangnya setelah atasannya yang sudah hilang entah kemana.


Clarita sangat jelas melihat jika Nathaniel benar-benar mau mencoba memperkosanya.


apa memang semua ini harus terjadi? Apa memang semuanya takdir Clarita untuk mengalami semua ini? Tapi kenapa? Kenapa semuanya harus dia alami? Kenapa harus Clarita?


Gadis itu tak tahu apa lagi yang harus dilakukan untuk menghentikan semuanya. Dia tak bisa melawan, Nathaniel terlalu kuat untuknya.


"Please.."


Apa memang mungkin semua ini takdirnya untuk mengalami semua ini? Pasti Tuhan sudah menggariskan takdirnya seperti ini?


Jika memang semuanya harus terjadi, Clarita tak bisa melawan lagi. Dia benar-benar tak sanggup. Sekuat apapun dia melawan, Nathaniel malah semakin memaksa. Sekeras apapun dia mencoba menghentikannya, Nathaniel malah semakin tak terkendali.


Apa harus dia pasrah menyerahkan semuanya? Apa dia harus menerima semua perlakuan Nathaniel begitu saja?


Clarita benar-benar tak bisa menahannya lagi. Semuanya terlalu melelahkan.


Tuhan, jika semua ini memang takdirnya, Clarita tak akan melawan lagi. Terserah, bahkan jika Nathaniel mungkin menyakitinya sekalipun.


Sampai akhirnya tangan itu tak lagi memberontak, kaki itu tak lagi bergerak menghentikan Nathaniel. Tubuhnya benar-benar dia pasrahkan pada laki-laki jahat yang sudah merenggut semua hidupnya. Biarkan, biarkan Nathaniel puas membuatnya seperti. Dia senang kan?


Clarita memejamkan matanya erat sambil masih berusaha menahan tangisnya.


Gadis itu masih berusaha menahan meskipun pada kenyataannya dia tak bisa. Dia mencoba tak menangis meskipun nyatanya dia bahkan menangis semakin kencang.


Sungguh, dia tak mau melakukan ini.


"Jangan.. hiks."


Setelah ini, dia yakin. Dia pasti akan merasakan sakit yang luar biasa di sana. Dia yakin Nathaniel akan melakukan itu sebentar lagi.


Setelah ini semua pertahanannya pasti hancur dalam sekejap setelah Nathaniel melakukan semuanya. Dan Clarita yakin jika hidupnya mungkin semakin hancur setelah itu.


Ya, mungkin. Mungkin pada awalnya dia berpikir seperti itu.


Tapi saat Clarita yang sudah bisa menebak apa yang akan terjadi padanya setelah itu, dia yang tahu akan merasakan sesuatu meskipun matanya terpejam erat, kini malah tiba-tiba merasakan hal yang tak dia duga.


Clarita mungkin seharusnya merasakan jika Nathaniel akan menghancurkan hidupnya beberapa detik lagi.


Tapi saat dia seharusnya merasakan itu, Clarita malah merasakan hal lain yang justru membuatnya kebingungan.


Seharusnya dia merasakan sakit yang luar biasa, tapi nyatanya, Clarita malah tak merasakan apapun.


Ya, satu-satunya yang dia rasakan saat ini adalah saat setelah itu, tak ada pergerakan apapun di sana. Saat semuanya tiba-tiba berhenti begitu saja.


Kalian tahu?


Nathaniel.. Dia berhenti.


Ya kalian tak salah, semuanya benar-benar hening.


Bahkan setelah itu tubuhnya tak merasakan apapun saat Clarita yakin jika Nathaniel sudah bangkit dari sana.


Dan kalian tahu apa selanjutnya? Clarita malah merasakan tubuhnya yang tertutup selimut dengan suara bantingan pintu setelah itu.


Dan semuanya benar-benar hening.


Untuk beberapa detik, Clarita merasa jika dirinya baru saja terbebas dari sesuatu yang mengekangnya. Dia seperti bebas dalam kekhawatiran yang dia rasakan selama Nathaniel mencoba melecehkannya.


Tapi setelah itu, dia kembali menangis dalam keheningan.


Dia mungkin terbebas dari Nathaniel. Tapi dia benar-benar tak bisa membayangkan saat kejadian beberapa menit yang lalu itu benar-benar terjadi. Dia benar-benar takut saat Nathaniel tiba-tiba menyerangnya seperti tadi.


Dia mungkin bersyukur, tapi rasa takut itu masih membekas. Tubuhnya bergetar tak bisa membayangkan jika mungkin Nathaniel tak berhenti saat itu. Apa yang akan terjadi? Bagaimana hidupnya setelah itu?


Clarita mengeratkan selimutnya dengan tangisan yang masih tersisa di sana. Entahlah, entahlah dia harus bersyukur atau tidak. Yang jelas dia bersyukur karena Nathaniel cukup punya hati untuk pergi dari sini dan mengurungkan niatnya memperkosa Clarita.