A Vampire's Love

A Vampire's Love
Capter 9: Perkelahian



Tapi mendengar perkataan itu dari kakaknya, Audrey mengangkat satu alisnya.


"Kau yakin itu mudah?"


"Tentu saja, satu perempuan sudah cukup."


Audrey berdecih.


"Kau salah, tak semudah itu."


Benarkah? Bukankah dia hanya perlu meniduri satu orang gadis?


"Tak semua perempuan berhasil. Dan hanya ada satu perempuan yang berhasil melahirkan bayimu."


Setelah itu, Nathaniel terdiam. Tapi dia benar kan? Bukankah dia hanya perlu meniduri satu perempuan? Lalu apa? Memang seperti itu kan?


"Aku bisa meniduri siapapun yang aku mau."


"Bukan seperti itu peraturannya."


"Lalu?"


"Aku sudah bilang tak akan semudah yang kau bayangkan. Maka dari itu, kau harus mencarinya dari sekarang."


Pada akhirnya dia memang harus berurusan dengan manusia. Nathaniel pun hanya bisa menghela nafasnya. Kenapa sih ayahnya harus membebani dirinya dengan hal itu? Dia masih bisa melakukannya sendiri. Lagi pula bukannya dia masih muda? Dan lagi pula dia akan hidup selamanya kan? Jadi untuk apa dia melakukan itu?


"Terserah."


Oh ya, satu hal tentang Nathaniel. Apa kalian belum tahu jika Audrey memang punya kemampuan istimewa? Dia salah satu yang punya kemampuan membaca masa depan. Bahkan saat dia masih menjadi manusia. Kemampuan itu sudah dia miliki dari kecil.


Kadang hal itu datang begitu saja dan spontan.


Sampai setelah itu Nathaniel memutuskan untuk keluar dari ruangan menyisakan Audrey yang masih di sana. Dia tak terlalu mau memikirkan itu.


Seperti yang dia dapat tadi malam. Tentang perempuan yang mungkin akan mewarnai hidup Nathaniel menjadi pemimpin.


Dia tak tahu perempuan itu siapa, yang jelas dia akan datang sebentar lagi.


Bukankah Audrey sudah bilang perjalanan Nathaniel tak akan mudah? Masih ada yang lainnya, mereka hanya perlu menunggu. Dan mungkin masalah-masalah lain akan datang mewarnai hidup mereka. Kita lihat saja nanti.


Beberapa menit setelah kepergian Nathaniel dari sana, Audrey memutuskan untuk menunggu kedua kakaknya yang lain. Jovian dan Jevan yang mungkin akan datang sebentar lagi.


Dia merapikan rambutnya sambil menunggu kedua kakaknya datang.


Sampai beberapa lama dia menatap pantulan dirinya di cermin, tak lama, pintu pun terbuka menampilkan dua kakaknya yang lain yang baru saja masuk. Jovian dan Jevon.


Pandangannya pun langsung mengarah pada mereka. Terutama pada kakak keduanya Jovian. Melihat kakaknya, Audrey pun mendadak gugup.


"Mana cincinku?"


"Eum.." Audrey terlihat salah tingkah meskipun cincin yang Jovian cari berada di hadapannya.


"Eumm ini."


"Baiklah terima-


"Mau aku pakaikan?" Belum sempat Jovian menyelesaikan ucapannya, Audrey menawarkan Jovian untuk dipakaikan cincin.


Tentu saja Jovian mengangguk.


Oh tapi mereka melupakan satu orang lagi yang dari tadi hanya bisa menatap kakak dan adiknya itu tajam.


Apa mereka tak tahu jika Jevon juga berdiri di sana?


"Terimakasih." Sampai selanjutnya, Jovian sedikit mengacak rambutnya sebelum keluar dari ruangan tadi menyusul Jevon.


Dan kalian pasti bisa menebak jika Audrey benar-benar tersenyum ceria setelah itu. Atau mungkin dia gembira.


Tapi dia lupa jika di sana masih ada satu orang lagi yang menatapnya dengan tatapan tajam. Dia tentu tak lupa bagaimana ekspresi Audrey setelah berbicara pada Jovian.


Sampai Audrey pun sadar jika di sana masih ada Jevon.


"Oh Jevon?"


"Ini cincinmu." Ujarnya memberikan benda itu pada Jevon. Tapi saat Audrey mengira jika Jevon akan mengambil benda itu, dia malah diam dan masih saja menatapnya.


:


:


:


:


:


:


:


:Budayakan Like dan Favoritkan kalo kalian suka 😊😊😊