
Mungkin Nathaniel memang tak bersemangat untuk menginjakkan kakinya di sini. Mungkin dia benar-benar malas saat ayahnya memanggilnya kesini untuk membahas sesuatu.
Tapi meskipun dia terpaksa, Nathaniel tetap datang bersama ketiga adiknya. Tentu saja untuk menemui ayahnya. Kalau saja bukan karena perintah ayahnya, dia tak akan datang. Lagi pula, ada apa? Memangnya ada sesuatu yang sangat penting sampai mereka harus datang?
Bukan Nathaniel malas bertemu ayahnya, tapi dia lebih malas bertemu kakaknya yang kebetulan baru saja datang itu.
Lihatlah, dia berjalan penuh keangkuhan saat dia baru saja tiba di ruangan.
Di susul dengan kedua adiknya, Cirino dan Samael.
Oh bahkan Jovian dan Jevon pun menatap mereka tajam seperti Nathaniel saat mereka sudah duduk di depannya.
Sementara Audrey hanya memperhatikan keenam kakaknya yang benar-benar saling menatap. Dia sudah biasa dengan ini, mereka memang tak pernah akur.
"Baiklah, semuanya sudah datang." Itu suara ayahnya. Tak ada senyuman seperti biasa saat anak anaknya berkumpul, hanya nada serius yang terdengar di sana.
Dan Nathaniel tentu bisa melihat itu. Mungkin itu juga alasan kenapa mereka dikumpulkan disini.
"Aku hanya ingin memastikan jika semuanya berjalan dengan apa yang kita rencanakan sebelumnya." Setelah itu, Nathaniel otomatis menatap ayahnya.
"Aku sudah memberikan tugas masing-masing pada kalian, terutama pada Nathaniel."
Mendengar namanya di sebut, entah kanapa, Nathaniel merasa jika ayahnya sedang mempermasalahkan sesuatu tentang dirinya. Tapi dia tak tahu apa itu. Nathaniel merasa semuanya baik-baik saja, dan dia juga sudah menjalankan tugasnya pelan pelan menjadi pemimpin. Tapi ada apa ya?
Sementara itu, di tengah Nathaniel yang kebingungan dan bertanya apa yang terjadi, di sana ada satu orang yang tersenyum begitu puas melihat pemandangan di depannya. Oh tentu kalian tahu siapa itu.
"Apa kau tahu kenapa aku mengumpulkan kalian di sini?" Nathaniel tak menjawab, dia menunggu.
"Sebenarnya aku hanya ingin berbicara padamu, tapi aku memutuskan untuk memanggil semuanya agar mereka juga tahu."
"Bisakah ayah katakan apa masalahnya?" Nathaniel tak berniat bertingkah kurang ajar, hanya saja dia ingin tahu apa yang salah dengan dirinya. Dia ingin tahu apa yang ayahnya permasalahkan dari dirinya.
Pria itu menatap Nathaniel sebentar sebelum beberapa detik kemudian dia kembali berbicara.
"Apa kau sudah melakukan semua tugas yang aku perintahkan?"
Huh?
Hey tunggu. Kenapa ayahnya tiba-tiba bertanya hal itu? Maksudnya, kenapa? Lagi pula memang apa yang membuat ayahnya begitu mempermasalahkan tugas yang dia berikan? Semua butuh proses dan Nathaniel tak mungkin melalaikan tugasnya begitu saja.
"Ada kabar bahwa kau membebaskan semua perempuan yang pernah kau kumpulkan."
Deg
Ya lagi pula untuk apa dia masih mengurung mereka? Bukankah dia sudah menemukan perempuan yang akan melahirkan keturunannya? Meskipun Nathaniel belum melakukan apapun pada gadis yang dia yakini sebagai gadis yang akan melahirkan bayinya itu.
"Apa itu benar?"
Ya itu benar, dan Nathaniel merasa jika hal itu bukan sesuatu yang harus dipermasalahkan.
"Ya benar."
"Kau benar-benar melakukan itu? Kau mau melalaikan tugas yang aku berikan?"
Oh tentu saja tidak, ayahnya tak mengerti. Dia belum tahu jika Nathaniel sudah menemukan gadisnya. Hanya saja dia belum melakukan apapun.
"Ayah tak usah tahu-
"Tak usah tahu? Aku yang menunjuk mu!" Oh suara ayahnya sedikit naik dan itu membuat semua anaknya sedikit khawatir. Bukan apa-apa, Nathaniel bukan tipe orang yang pasrah saat dihakimi. Sekalipun itu ayahnya, jika dia benar, dia pasti membela dirinya sendiri jika dia tak salah.
Mereka tak mau saja jika ruangan ini hancur gara-gara Nathaniel dan ayahnya.
Tapi sementara semuanya terlihat tegang, di sana, ada satu orang yang masih tersenyum senang melihat itu. Kalian tak tahu betapa mengesalkannya senyum Damien saat ini. Oh tentu saja dia senang, dia yang melaporkan semua ini pada ayahnya.
"Kau bilang aku tak usah tahu? Kau lupa jika aku yang menunjuk mu? Aku bisa saja mencabut kekuasaanmu dan memberikannya pada Damien!"
Deg