
Vampire yang berada di belakang Clarita pun ikut bertindak dan memaksanya untuk berlutut.
"Lepas!"
Tapi pada akhirnya vampire itu kembali melepaskan Clarita setelah pemimpinnya menyuruhnya untuk membiarkan gadis itu.
"Kau! Ya kau yang di depan! Kau pikir kau siapa huh?!" Teriak Clarita yang kembali menatap si pemimpin yang masih menatapnya.
Lihatlah bahkan dia berani menunjuk pemimpin dari para vampire itu.
"Aku tak peduli kau siapa! Dan aku juga tak mau tahu kau siapa!"
"Kau pikir kau hebat? Dan kau pikir kami semua mau ditiduri vampire menjijikan sepertimu?!"
Oh kali ini Clarita sudah keterlaluan. Semuanya benar-benar membelakangkan matanya setelah mendengar ucapan Clarita yang benar-benar berani.
Apa dia tak takut jika vampire itu akan membunuhnya detik ini juga?
"Hentikan semua omong kosong ini dan pulang lah ke tempat asalmu! Kota ini milik kami! Dan kau sama sekali tak berhak membawa apapun dari kota ini!"
Tapi nyatanya tidak. Dia memang menatap gadis itu tajam tapi bukannya marah, dia malah merasa ditantang oleh gadis itu. Baru kali ini dalam seumur hidupnya, dia melihat manusia seberani itu.
Apa dia tak tahu sedang berurusan dengan siapa?
"Pergilah sejauh mungkin dan jangan mengganggu kami!"
Masih, pria itu masih tak bereaksi. Dia hanya ingin melihat sejauh mana gadis itu berbicara.
Mungkin pria itu bisa membunuhnya detik itu juga, tapi sepertinya tidak. Dia suka jika ada seseorang menentangnya. Bukankah itu menyenangkan?
Selanjutnya, pandangan pria itu menatap Clarita semakin intens dari sebelumnya. Tentu saja, gadis itu harus dia bawa. Kita buktikan apa dia masih berani setelah berurusan dengannya?
Kini pandangan pria itu sudah tak menatap Clarita lagi dan sekarang dia malah menyeringai.
"Aku pikir aku sudah dapat satu."
"Aku ingin dia. Bawa dia padaku."
Jevon mungkin harus mengalah tentang perasannya selama ini. Bukankah memaksakan perasaan itu tak boleh? Ya tak ada yang bisa memaksakan perasaan seseorang.
Begitu juga dengan dirinya. Mungkin kalian tak tahu seberapa sukanya dia pada gadis yang tengah ia pandangi itu. Kalian mungkin tak tahu betapa kesalnya dia saat gadis itu bahkan tak pernah menyadari perasaannya.
Bukan, bukan gadis itu yang tak menyadari. Hanya saja, dia yang terlalu malu untuk menunjukkannya.
Dia kesal, tapi dia juga tak bisa berbuat apapun saat Audrey lebih memilih Jovian daripada dirinya.
Ya kalian tak salah dengar, dia baru saja menyebut Audrey.
Audrey? Bukankah itu adiknya sendiri?
Ayolah, dia tak peduli kalaupun Audrey merupakan adiknya sendiri. Athan tak bisa menyingkirkan perasaan itu meskipun dia tahu kalau Audrey tak seharusnya dia sukai.
Dia adiknya, meskipun mereka tak sedarah.
Dan sialnya, Jevon sudah memendam perasaan itu bahkan dari gadis itu bertemu dengannya. Bahkan saat Audrey masih belum sama seperti kaumnya.
Ya, Audrey dulunya seorang manusia. Sebelum akhirnya Nathaniel mengubahnya dan menjadikan gadis itu bagian dari keluarga mereka.
Tak adil? Tentu, tapi kabar baiknya adalah, Jevon masih bisa melihat senyum itu meskipun bukan untuknya. Meskipun dia tahu kalau senyum itu ditunjukkan pada kakaknya.
Dan meskipun Jevon tahu jika senyum itu tak akan mungkin terbalas sampai kapanpun.
Ini sedikit rumit. Tidak, mungkin memang rumit.
Hubungan mereka bukan sekedar kakak beradik pada umumnya. Mereka lebih sulit.
Kalian tahu? Perasaan Jevon pada Audrey sudah pasti tak akan terbalas. Tapi perasaan Audrey pada Jovian pun sama. Tentu saja, dia tahu kakaknya tak akan pernah bisa jatuh cinta lagi pada gadis lain. Apa lagi Audrey yang dia anggap adiknya sendiri.