
Oh Apa Yang Dia Lakukan?
Detik Itu Juga Matanya Terpejam Saat Bau Cairan Kental Itu Memenuhi Indera Penciumannya.
Apa Gadis Itu Benar-benar Ingin Mati Hari Ini?
"Kau Nenar-benar Ingin Mati?"
Di Sana Tak Ada Sama Sekali Ekspresi Takut Dari Clarita.Dia Memang Sengaja.
"Kemari Kau Vampire Sialan!"
Dia Sengaja Memancing Vampire Itu Agar Menghampirinya Yang Masih Berdiri Di Bawah Sinar Matahari.
Mungkin Dia Bisa Membunuh Satu Hari Ini.
Tapi Saat Seulgi Mengira Jika Vampire Itu Akan Takut, Kini Vampire Itu Malah Menghampirinya Sampai Mereka Saling Berhadapan.
Deg Deg
Dan Nyatanya Kulit Makhluk Itu Sama Sekali Tak Terbakar Meskipun Dia Berada Di Tengah Terik Matahari.
Oh Sial, Kenapa Tak Ada Yang Terjadi? Pikir Clarita.
"Sayang Sekali, Aku Tak Takut Sinar Matahari."
Oh Tidak, Kenapa Dia Tak Takut?
"Aku Memakai Cincin Sayang, Jadi Tidak Apa-apa." Ujarnya Menyeringai Sambil Memperlihatkan Cincin Besar Di Tangannya.
Sial, Benar. Oh Jadi Karena Cincin Itu?
"Jadi, Sekarang Saatnya Aku Makan?"
Oh Tuhan, Vampire Itu Mendekatinya. Apa Yang Harus Dia Lakukan?
Clarita Perlahan Mundur Untuk Menjauh. Dia Harus Melarikan Diri.
Luka Yang Dia Buat Pun Masih Menganga Membuat Darah Itu Tak Berhenti Menetes.
Sial, Dia Kira Vampire Itu Akan Mati Tapi Ternyata Tidak.
"Kemari Sayang, Kau Mau Mati Kan?"
Oh Tentu Saja Tidak, Dia Tak Akan Mati Begitu Saja. Apa Lagi Di Tangan Vampire Sialan Itu.
Vampire Itu Mungkin Tak Tahu Jika Clarita Nenjauh Sambil Diam-diam Membuka Botol Yang Dia Bawa.
Sampai... Kini Botol Itu Sudah Terbuka.
"Eat This You Son Of A B****!"
Selanjutnya, Vampire Itu nengerutkan keningnya tak nengerti.
BYURR
Gadis Itu menumpahkan semua air Di Botol Itu Ke Wajah Si Vampire.
Dan Pasti Kalian Bisa Menebak Hal Selanjutnya.
"AAAAAHHHHHHHHH!!!!"
Clarita Sudah Bilang Air Itu Bukan Air Biasa. Itu Air Suci Yang Dia Curi Dari Ibunya. Ya Dia Mencurinya Karena Ibunya Benar-benar Tak Tahu Jika Clarita Pergi Dari Rumah.
Mati Kau Vampire Sialan! Ujarnya Dalam Hati.
Mungkin Clarita Tadinya Akan Pergi Begitu Saja Setelah Melakukan Hal Tadi. Tapi Dia Merasa Itu Belum Selesai. Hal Tadi Masih Belum Cukup Karena Vampire Itu Belum Benar-benar Mati.
Dan Nungkin Sekarang Adalah Saat Yang Tepat Untuk Membunuh Makhluk Sialan Itu.
Seulgi melihat si vampire masih menutupi wajahnya yang terbakar. Dia pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan karena kini dia memberanikan dirinya mendekati vampire itu sampai beberapa langkah, dia berhasil mengambil tangannya dan dengan sekali gerakan, dia langsung melepaskan cincin yang vampire itu pakai.
SRAT
"AAAAAHHHHHHHHH!!!!!!!!!!"
Dan detik itu juga, Clarita bisa menyaksikan dengan jelas saat kulit makhluk itu benar-benar melepuh dan terbakar.
"AAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!"
"Mati kau Vampire sialan!"
Masih dengan kesadaran yang cukup, Clarita berlari sekencang mungkin yang dia bisa untuk pergi dari sana.
Vampire itu benar-benar tak berdaya setelah apa yang dia perbuat. Dan seulgi masih bisa melihat jika api mulai membakar tubuhnya.
Sebenarnya dia sama sekali tak berniat membunuh vampire itu. Clarita hanya ingin mencoba jika mungkin air suci itu bisa berhasil membunuh vampire. Tapi ternyata tidak, benda itu sama sekali tak mempan.
Mereka bisa terbunuh jika tak memakai cincin.
Jadi karena mereka memakai cincin mereka tahan pada matahari? Pantas mereka selalu berkeliaran di siang hari.
"Hhh..hhh..HH..."
Clarita masih berlari sekuat tenaga untuk mencapai rumah. Dia berpikir mungkin tak akan ada vampire lain selain vampire tadi. Tapi sepertinya dia salah karena kini di tengah dirinya yang berlari, tiba-tiba langkahnya terhenti saat dua vampire tiba-tiba muncul di hadapannya.