A Vampire's Love

A Vampire's Love
Capter 49: Dead




BUG


BUG


BUG


"Ah!!"


"KAU YANG MEMBUAT TUAN NATHANIEL MARAH PADA KAMI!"


BUG


"BERENGSEK!"


Mereka begitu puas menendangi perut Ryan setelah beberapa waktu lalu mereka berhasil menemukan pria ini. Ya mereka mencari pria yang membawa kabur gadis pemimpinnya itu.


Dan akhirnya mereka berhasil menangkap Ryan. Dan tentu saja setelah ini mereka akan menyerahkan pria ini pada Nathaniel.


"Kau membohongi kami brengsek!!"


"Dasar bodoh!" Mereka bahkan memukulnya. Lihatlah, wajahnya sudah berlumuran darah. Darah benar-benar memenuhi wajahnya setelah mereka memukulnya berkali kali.


"Jangan main main dengannya kalau kau tak mau mati. Lihat kan? Kau benar-benar menyedihkan."


"Salah siapa membangkang huh?"


Tapi sampai beberapa menit, mereka berhenti karena melihat pria itu yang mulai lemas. Mereka tentu tak akan menolong pria ini. Lagi pula mereka juga tak mau berurusan dengan Nathaniel jika macam-macam. Lebih baik mereka menuruti apa yang pemimpinnya katakan.


"Bawa dia pada tuan Nathaniel."


Tentu saja, meskipun pria itu masih terluka dan lemah, mereka menyeretnya paksa dan membawanya ke hadapan pemimpin mereka. Sungguh mereka tak peduli apa yang akan pemimpinnya lakukan pada pria itu.


Itu sudah risiko. Jika dia membangkang, siap siap saja hidupnya berakhir di tangan pemimpinnya.



Sejauh apapun Clarita berlari, kemana pun Clarita bersembunyi, nyatanya pria itu akan tetap kembali menemukan Clarita.


Sekeras apapun Clarita menolak, sesering apapun Clarita memberontak, Clarita tetap akan kembali ke sini, ke tempat di mana semua kehidupan normalnya direnggut.


Ya, meskipun Clarita kabur, pria itu tetap akan menemukannya.


Kenapa? Kenapa harus Clarita? Bukankah masih banyak gadis lain yang lebih cantik? Yang lebih baik dan penurut dibandingkannya? Kenapa Nathaniel mau repot repot menangkap gadis pemberontak seperti Clarita? Dan kenapa dia mau bersusah payah mencari Clarita sementara di luar sana masih banyak gadis gadis yang lebih darinya?


Kenapa? Kenapa harus Clarita?


Kini bahkan dia kembali ke sini. Ke tempat memuakkan ini saat para vampire itu menggiring paksa untuk memasuki ruangan besar yang sudah dipenuhi beberapa orang.


Tubuhnya terdorong sampai dia bisa melihat beberapa orang itu menatap ke arahnya. Tak terkecuali.. pria bermata tajam di ujung sana.


Yang duduk di sana bersama ketiga adiknya.


Sampai kini pria itu berdiri saat Clarita juga digiring ke arahnya.


Oh akhirnya mereka menemukan gadis itu.


Dan hal selanjutnya yang terjadi adalah, tubuh Clarita lagi lagi terdorong setelah tiba di sana lalu berhadapan dengan Nathaniel.


Tatapannya masih tak lepas dari gadis itu, begitu pun Clarita yang juga ikut menatap Nathaniel dengan wajah yang masih membengkak setelah menangis.


Dan detik berikutnya, Clarita merasa sedikit terkejut saat tiba-tiba rahangnya dicengkeram kuat oleh pria itu.


"Siapa yang menyuruh mu kabur huh?" Clarita tak menjawab saat Nathaniel terlihat begitu marah, dia lebih memilih menatap pria itu dan meringis menahan sakit.


"Kau sangat yakin jika aku tak akan menemukanmu lagi?"


Sampai setelah itu Nathaniel melepaskan cengkramannya sedikit kasar membuat Clarita sedikit terdorong.


Kali ini, entah kenapa Clarita tak melawan seperti biasa. Bahkan dia hanya diam.


Bukan, bukan Clarita takut pada Nathaniel, dia hanya tak punya alasan untuk itu.


Dia memikirkan ibunya jika mungkin Nathaniel akan melakukan sesuatu pada ibunya jika dia kembali melawan. Dia takut Nathaniel akan menyakiti wanita itu jika Clarita memberontak lagi.


"Siapa yang membantumu?" Tanya Nathaniel lagi pada Clarita yang masih menunduk.


Tidak, dia tak akan mengatakan jika Ryan yang membantunya, Nathaniel mungkin akan melakukan sesuatu pada kekasihnya. Bisa bisa Ryan terluka di tangan pria itu.


Meskipun memang benar jika Ryan yang membantunya, tapi Clarita tak bisa mengatakan itu. Ryan sudah terlalu banyak berkorban untuknya. Dia tak akan mencelakai pria itu dengan bicara jujur.


"Aku.. aku pergi sendiri."


Oh tentu saja Nathaniel seketika emosi saat dia tahu jika Clarita sedang berbohong.


Sendiri? Benarkah? Gadis itu berani membohonginya?


Lalu bagaimana dengan anak buahnya yang mengatakan jika Clarita dibantu seorang pria untuk melarikan diri dari sini?


"Jawab aku dengan jujur."


"Aku sudah mengatakan yang sebenarnya, tak ada yang membantuku."


Oh jadi dia mau seperti ini? Dia tak mau mengaku dan lebih memilih untuk berbohong lagi? Apa Clarita sedang berusaha melindungi pria itu dengan berbohong?


"JAWAB AKU DENGAN JUJUR!"


Nathaniel tentu tahu kebenarannya dan dia terlihat semakin marah saat Clarita bahkan tak menjawab dan lebih memilih mengelak.


Jadi Clarita masih mau mengelak dan tak mau mengaku? Oh baiklah, bagaimana dengan mendatangkan langsung seseorang yang terbukti membantu Clarita pergi dari sini? Apa dia masih bisa menyangkal?


"Jadi kau mau seperti ini?" Clarita tak menjawab pertanyaan Nathaniel di sana.


"Kau benar pergi sendiri?" Clarita masih tak menjawab.


"Lalu bagaimana dengan pria di ujung sana?"


Deg


Huh? Apa maksud Nathaniel? Clarita menatap pria itu yang menunjuk ke arah kanannya. Dan setelah itu, Clarita mengikuti arah tangan Nathaniel yang menunjuk ke satu sudut.


Sudut dimana.. seseorang sudah berdiri di sana.


Dan... apa kalian tahu?


Clarita.. Clarita melihat pria itu di sana.


Deg


Untuk kesekian kalinya, matanya mengabur.


Itu.. itu Ryan.. bersama dua pria yang mengapitnya, dengan luka yang memenuhi seluruh wajahnya. Ya, seluruh wajahnya babak belur.


apa Nathaniel melakukan ini semua?


"Ryan!!!"


Clarita bahkan hampir saja berlari ke arah kekasihnya itu sebelum dua vampire di belakangnya menahan tubuhnya.


Dan Clarita kembali menangis.


"Jadi kau pergi sendirian?" Clarita tak kuasa menahan tangisnya. Dia takut, dia tak tega melihat kekasihnya di sana.


"Kumohon.. Jangan menyakitinya.."


Ya untuk pertama kalinya Clarita memohon pada Nathaniel. Sementara pria itu bahkan tak peduli sedikitpun.


"Siapa pria itu?" Nathaniel bertanya pada Clarita. Oh ini mungkin bukan pertanyaan yang sulit dijawab, tapi Clarita tak bisa menjawab itu dengan jujur.


Kalau Nathaniel tahu, apa yang akan terjadi pada Ryan selanjutnya? Apa yang harus dia jawab? Apa yang harus dia katakan pada Nathaniel?


"Jawab pertanyaanku!"


Semuanya menunggu sementara Clarita tengah berpikir jawaban apa yang akan keluar dari mulutnya.


"SIAPA DIA!!"


Oh Tuhan, Clarita benar-benar tak bisa menahan tangisnya.


"Dia..


"Dia-


Tapi belum sempat dia menjawab pertanyaan Nathaniel, mereka semua yang ada di ruangan ini tiba-tiba mendengar satu suara yang menjawab pertanyaan pria itu.


Dengan kalimat yang singkat, dan jelas.


"Dia kekasih ku."


Deg


kenapa dia harus menjawabnya?


Hal itu otomatis membuat Nathaniel menatap Ryan saat itu juga dengan tatapan yang begitu menakutkan.


"Dia milik ku, bukan milik mu."


Deg


Untuk kesekian kalinya Clarita benar-benar tak habis pikir. Apa yang Ryan lakukan? Apa yang ada di pikirannya sampai menjawab itu? Apa dia tak berpikir jika Nathaniel bisa membunuhnya?


Sampai detik berikutnya, Clarita terlihat begitu panik saat kini Nathaniel berjalan mendekati Ryan. Oh tidak, apa yang akan dia lakukan?


Tidak, Nathaniel tak melakukan apapun kecuali menatap Ryan yang kini dipaksa berlutut oleh dua pria yang memeganginya di sana. Sampai Ryan kini benar-benar berlutut di hadapan Nathaniel.


"Apa kau bilang?"


Keadaan masih sangat hening dengan semua orang yang menunggu apa yang akan Nathaniel lakukan.


"Dia milik mu?" Ryan tak menjawab itu.


Tapi sampai kejadian selanjutnya terjadi. Saat suasana yang begitu hening seketika berubah mengejutkan karena mereka yang membelalakkan mata saat Nathaniel baru saja menendang dada Ryan begitu keras membuat pria itu berteriak.


"Ah!!"


Dan hal selanjutnya yang semakin membuat semuanya terkejut terutama Clarita adalah, saat Nathaniel menginjak tengkuk Ryan membuat pria itu kembali meringis.


Luka di wajahnya bahkan belum mengering, tapi sekarang pelipisnya harus kembali terluka saat bersentuhan dengan lantai.


Sementara di sana, Clarita masih berteriak dan berusaha melepaskan cengkraman kedua vampire yang memeganginya meskipun semua usahanya sia-sia .


"Katakan sekali lagi."


Ryan masih meringis saat Nathaniel bertanya padanya.


"Dia milik mu?"


Bagaimana bisa dia menjawab jika Ryan sangat kesakitan di sana? Ryan bahkan tak bisa bergerak sama sekali. Dia tak punya tenaga tersisa hanya untuk menjawab.


"Katakan padaku sekali lagi!"


Tidak, Ryan masih tak bisa menjawab. Dan kini, Nathaniel semakin menekan tengkuk Ryan.


"Kau masih tak mau bicara?"


Oh Tuhan, tolong hentikan semua ini.


"Baiklah, kau yang menginginkan ini."


Kalian tahu? Kalian tahu hal selanjutnya yang Nathaniel lakukan?


BUG


Nathaniel menendang wajah Ryan.


Dan kalian sudah pasti mengetahui bagaimana ekspresi Clarita sekarang. Matanya terbelalak dan bahkan dia tak bisa mengatakan apapun saat Nathaniel melakukan itu pada kekasihnya,Ryan.


Ryan.. Dia bahkan tak melawan saat Nathaniel kini semakin menggila. Tubuhnya semakin terluka dan lemas.


Clarita terus memohon di sana, dia berteriak, menangis, bahkan memberontak.


tolong.. siapapun tolong kekasihnya.


Clarita bahkan tak sanggup melihat pemandangan itu dan lebih memilih menutup matanya sambil menangis di sana. Apa yang harus dia lakukan? Apa yang harus dia perbuat untuk menghentikan ini semua?


Kenapa semua ini terjadi padanya? Kenapa mereka harus mengalami semua ini?


Tapi, saat Clarita yang masih menutup matanya di sana, selanjutnya terpaksa harus mendongak saat setelah itu dia mendengar Nathaniel yang kemudian berbicara setelah menendang Ryan bertubi tubi.


Clarita terdiam begitu Nathaniel mengeluarkan suaranya.


"Where is your ring?"


Deg


Clarita mungkin tak tahu apa yang ada di kepala Nathaniel kali ini. Tapi dia mungkin tahu, dia tahu jika pertanyaan itu yang mungkin akan membuat Clarita dan Ryan benar-benar tak akan bertemu lagi.


Ya Clarita tahu, dia tahu tentang ini.


"Give me your ring."


Apa yang Nathaniel rencanakan?


Tidak, Clarita tahu apa yang Nathaniel rencanakan. Dia pasti akan melakukan sesuatu pada kekasihnya. Tidak, Nathaniel tak boleh mengambilnya. Clarita tak boleh membiarkan Nathaniel mengambil cincin itu dari jari telunjuk Ryan.


Dia harus menghentikan semua ini.


"GIVE ME YOUR RI-


"STOP! PLEASE STOP!"


Lagi lagi Clarita berteriak memohon. Tolong hentikan semuanya, jangan lakukan semua ini. Nathaniel boleh melakukan apapun padanya, tapi jangan pada Ryan, dia boleh menghukumnya, tapi jangan kekasihnya. Ryan tak tahu apapun.


"Tolong hentikan semuanya, kumohon."


Pandangan Nathaniel kini tertuju pada Clarita.


"Aku yang menyuruhnya membebaskanku!" Ya ini semua salahnya, dia yang meminta Ryan untuk membebaskannya. Selama ini Clarita selalu meminta tolong pada pria itu agar bisa keluar dari sini. Dan semuanya adalah salah Clarita, Ryan sama sekali tak bersalah.


Tentu saja Nathaniel kini terdiam menyaksikan gadis yang masih menangis memohon padanya itu. Tapi apa tadi katanya?


Clarita yang meminta pria ini untuk membebaskannya? Gadis itu yang menyuruh pria ini untuk membantunya keluar dari sini? Oh ya tentu saja, Clarita memang selalu ingin pergi dari sini.


Tapi bukankah seharusnya pria ini tak melakukan itu untuk Clarita? Bukankah seharusnya Ryan memihak padanya? Kenapa dia malah memihak Clarita?


Ryan adalah bagian dari mereka, dan Nathaniel adalah pemimpinnya. Bukankah sudah seharusnya pria ini menuruti apa yang dia perintahkan? Bukan malah membangkang dengan cara membebaskan gadisnya.


Dan bukankah Nathaniel sudah mengumumkan jika Clarita adalah miliknya? Kenapa dia masih keras kepala?


Oh mungkin mereka adalah sepasang kekasih yang saling menyayangi. Mereka mungkin ingin saling membantu satu sama lain untuk pergi dari sini. Tapi apa mereka berpikir Nathaniel akan diam? Siapapun yang sudah berurusan dengannya tak akan pernah bisa pergi. Termasuk Clarita dan Ryan.


Mereka saling mencintai? Terserah, tapi tak ada hal itu saat mereka berurusan dengannya.


Persetan dengan belas kasih, Nathaniel tak tahu apa itu belas kasih. Dan dia tak punya hal itu di dalam dirinya.


"Kumohon.."


Untuk kesekian kalinya Nathaniel mendengar permohonan itu. Oh tentu dia muak, dia benar-benar muak. Clarita tak tahu betapa murkanya dirinya.


Dia tak akan merasakan betapa marahnya Nathaniel karena hal ini. Silahkan saja dia memohon sampai mati sekali pun, karena Nathaniel tak akan pernah mengabulkan itu.


"Kumohon lepaskan-


"Silahkan memohon padaku." Ucapan Clarita berhenti saat Nathaniel mengatakan itu. Dan dia masih menangis di sana.


"But sorry, i have no mercy."


Deg


"Kau memintaku untuk membebaskannya? Maaf, tapi aku tak akan melakukan itu."


Detik itu juga, Clarita merasa jika harapannya hancur begitu saja, dia merasa jika pertemuan mereka hari ini benar-benar adalah yang terakhir.


Clarita bahkan benar-benar hancur saat ini juga. Dia bahkan menatap kosong ke arah Nathaniel yang kini sudah melepaskan cincin dari jari Ryan yang benar-benar tak berdaya. Sampai pria itu membuangnya begitu saja.


"Put him in the sun light."


Tidak, tidak ada yang Clarita lakukan setelah itu. Pandangannya benar-benar kosong saat melihat kekasihnya di seret paksa tanpa bisa melawan.


Clarita tak bisa mengucapkan satu kata pun saat kekasihnya digiring ke arah jendela besar si sudut sana.


Ryan terluka dan lemas saat tubuhnya diikat di sebuah kursi yang langsung menghadap ke arah jendela.


Sampai detik itu juga, mereka membuka kain yang menutup jendela besar itu.


Dan kalian tahu hal yang terjadi selanjutnya?


dia melihat Ryan yang berteriak saat kulitnya benar-benar terbakar dan mulai melepuh karena cahaya matahari yang menembus kaca.


Percuma, percuma dia berteriak. Sekeras apapun Clarita berteriak meminta mereka melepaskan Ryan, mereka bahkan masih diam, mereka hanya menonton kekasihnya mati pelan pelan di bawah sinar matahari.


Ya, kekasihnya yang masih berteriak kesakitan di sana.


Tak terkecuali pria yang mungkin sudah puas karena membunuh kekasihnya itu. Pria yang benar-benar Clarita benci sampai detik ini dan selamanya.


Apa dia puas sekarang? Apa dia puas membuat Clarita menderita? Jika memang dia membencinya, kenapa Nathaniel tak membunuhnya saja? Bukankah itu lebih baik daripada harus menyiksanya seperti ini?