
"Nathaniel tak akan diam saja saat kau berusaha menghancurkannya."
"Ya aku tahu, tapi aku tak akan menyerah."
Lagi lagi kakaknya masih saja tak mau menyerah. Kedua adiknya benar-benar tak tahu harus bagaimana lagi menghentikan Damien. Oh ya mungkin mereka juga tak suka pada Nathaniel, tapi sudahlah, biarkan dia memimpin. Lagi pula semua usaha Damien sia-sia. Ayahnya tak akan berubah memihak kepada dirinya dan memecat Nathaniel menjadi pemimpin. Kecuali jika memang Nathaniel tak melakukan tugasnya dengan baik.
Bukankah pria itu sudah melakukan semuanya? Mencari gadis untuk melahirkan keturunannya bahkan sudah dia persiapkan. Lalu apa lagi? Kenapa Damien begitu berambisi?
"Kau akan bilang apa lagi pada ayah?"
Damien mungkin saja mengarang cerita kembali dan memberi tahu pada ayahnya tentang Nathaniel jika dia tak melakukan tugasnya, tapi kali ini dia tak akan melakukan itu.
Ayahnya pasti tak akan mau mendengar setelah kejadian kemarin Nathaniel 'menang' melawannya saat dia bisa membuktikan jika semua tugasnya sudah dia kerjakan.
Dan Damien memang tak merencanakan hal itu. Dia hanya sedang berpikir tentang hal lain yang lebih menyenangkan dari itu.
Kalau dipikir pikir, dia belum pernah mengunjungi tempat Nathaniel di kota itu kan? Oh dia bisa sambil mencari gadis mana yang Nathaniel simpan untuk melahirkan bayinya nanti.
Bukankah dia bisa datang dan melihat gadis itu? Setelah itu, dia bisa membawa gadisnya dan melenyapkannya agar Nathaniel tak bisa mengerjakan tugasnya yang paling penting itu. Bukan kah itu ide bagus?
Benar kan? Tak perlu dia meminta pada ayahnya untuk memecat Nathaniel. Damien mungkin akan membuat ayahnya berubah pikiran dan memecat Nathaniel dengan sendirinya.
Ya, dari pada dia buang buang waktu meyakinkan ayahnya? Lebih baik dia bekerja sendiri. Lagi pula Damien hanya perlu menemukan gadis itu lalu membunuhnya kan? Itu sangat mudah, dan setelah itu mungkin Nathaniel akan kalah darinya yang memenangkan perang dingin ini.
Lihat saja, cepat atau lambat, Damien akan menghancurkan semuanya.
"Tak perlu repot repot meyakinkan ayah lagi. Ayah akan memecat Nathaniel dengan sendirinya suatu saat nanti."
"Dia masih tak mau makan?"
"Tidak tuan, nona Clarita bahkan tak mau bicara. Dia mengurung dirinya sendiri di kamarnya dan tak mau keluar sama sekali."
Nathaniel menatap geram setelah dia mendengar itu semua. Dia bahkan menarik nafasnya untuk meredakan emosinya. Baru saja Nathaniel sedikit berharap jika Clarita mungkin akan mulai menerima dirinya sendiri untuk tinggal di sini. Baru saja Nathaniel tenang jika mungkin Clarita mulai nyaman tinggal di sini karena dia yang memberikan semua kenyamanan untuk Clarita.
Dan ini sudah dua minggu. Dua minggu! Clarita masih mau seperti ini? Apa semua yang dia lakukan itu tak ada artinya? Semuanya sia-sia? Jadi untuk apa Nathaniel baik pada gadis itu selama ini jika pada akhirnya Clarita bahkan tak membalas kebaikannya?
Sebenarnya apa mau Clarita? Gadis itu benar-benar membuang waktunya. Semua yang dia lakukan tak membuahkan hasil apapun.
"Nathaniel, jangan emosi." Ujar Audrey di sampingnya.
"Apa yang dia mau sebenarnya? Aku sudah berusaha membuatnya nyaman tinggal di sini. Tapi apa yang dia berikan padaku? Dia malah semakin keras kepala."
Nathaniel tak salah, karena gadis itu memang semakin sulit didekati. Dan masalahnya ini sudah dua minggu. Memangnya Clarita mau seperti ini terus? Memangnya Clarita akan terus seperti ini dan mengurung dirinya sendiri di dalam kamar?
Oh jangan bercanda, Nathaniel juga punya tugas yang harus dikerjakan. Dia tak bisa menunggu Clarita terlalu lama sampai gadis itu benar-benar mau dia tiduri dan menghasilkan anaknya.
"Dia mungkin masih sedih. Clarita mungkin masih tak bisa melupakan-
"Nathaniel! Mau kemana?" Di sana, Audrey tiba-tiba merasa jika sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi.
Oh ya tentu saja, Nathaniel tak bisa menunggu lebih lama lagi. Clarita tak bisa main main dengannya lagi. Gadis itu hanya terus membuang waktunya yang berharga.
Nathaniel Kini sudah berdiri dari duduknya lalu berjalan keluar dari ruangan.
Kebetulan, Jevon dan Jovian tak ada di sana. Dan hanya ada Audrey yang menemani Nathaniel. Gadis itu tentu harus tahu apa yang Nathaniel lakukan. Bagaimana jika kakaknya itu melakukan hal yang tidak diinginkan pada Clarita?
Nathaniel tak boleh melakukan itu.
"Nat-
Dan Audrey terlambat karena Nathaniel sudah masuk ke kamar Clarita. Dan sialnya, Nathaniel mengunci kamar itu.
"Shit! Nathaniel! Buka pintunya!" Audrey benar-benar panik di luar.
Sementara di dalam sana, Nathaniel sudah berada di kamar Clarita. Dia menatap gadis itu yang tengah duduk di ranjangnya sambil memeluk lututnya.
Untuk beberapa detik, mereka saling pandang. Dan tatapan mereka sama-sama tajam seperti biasa.
"Nathaniel! Buka pintunya! Keluar!" Ya Audrey masih berteriak di sana.
"Apa yang kau lakukan di sini huh? Pergi!" Itu Clarita, yang kini mengeluarkan suaranya.
Oh dia tak salah dengar kan? Clarita mengusirnya? Ada hak apa dia melakukan itu? Ini tempatnya dan Clarita sama sekali tak berhak untuk mengusirnya. Dia pemimpinnya di sini.
"Kenapa kau diam? Aku bilang per-
"Aku hanya ingin mengambil sesuatu yang seharusnya aku dapat dari awal tanpa harus melakukan semua hal bodoh ini."
Huh?
Clarita mengerutkan keningnya. Apa maksud Nathaniel?
"Semua ini membuang waktuku hanya karna satu perempuan yang begitu menyusahkan."
Maksudnya Clarita? Kenapa dia berkata seperti itu?
"I'm so sick of this bullshit."
Maksudnya,Clarita melihat Nathaniel yang semakin menatapnya. Dan entah kenapa, Clarita malah takut dengan tatapan itu. Tatapannya tak seperti biasa. Ada hal yang Clarita rencanakan padanya setelah ini.
Dan mungkin benar, karena semua pertanyaan di kepalanya benar-benar terjawab saat Nathaniel berjalan menuju ke arahnya.
Apa yang akan dia lakukan?
Sampai Clarita benar-benar sadar saat Nathaniel tiba-tiba saja langsung menyerangnya.
Clarita begitu terkejut saat Nathaniel menghempaskan tubuhnya ke ranjang dan menindihnya begitu saja.
Oh Tuhan, apa yang dia lakukan?
"Apa yang kau lakukan!!!"
"Lepas!!!!"
"Nathaniel! Keluar dari sana!" Audrey masih ada di depan pintu. Dia masih meneriaki kakaknya.
Dan kini, Clarita semakin memberontak saat Nathaniel memegang kedua tangannya begitu kuat dengan satu tangannya sementara tangan yang lain mulai menyingkap gaun tidurnya begitu kasar sampai Clarita begitu terkejut.
Sebagian tubuhnya sudah terlihat dan sungguh, dia benar-benar ingin menangis. Dia tak bisa melawan. Dia tak berdaya sama sekali.
"Lepas! Kumohon lepas!" Dan Clarita mulai menangis meskipun Nathaniel sama sekali tak mendengar. Matanya menggelap karena emosi di sana. Dia begitu muak dengan semua yang dia lakukan untuk Clarita.
Gadis itu bahkan tak pernah berubah. Jadi untuk apa memperlakukannya secara halus? Bukankah lebih baik dia bersikap kasar saja? Mungkin ini lebih berguna.
Dan mungkin Nathaniel bisa menyelesaikan tugasnya lebih cepat tanpa harus menunggu Clarita mau untuk dia tiduri.
Persetan, dia sama sekali tak peduli.