
Perasaannya tak berubah. Ya Audrey pada Jovian. Kalian tahu kan apa yang terjadi diantara mereka? Katakan dia egois karena menyukai kakaknya sendiri. Tapi harus bagaimana? Harus bagaimana dia menghilangkan perasaan itu?
Jantungnya bahkan berdebar dengan hanya menatap kakaknya. Berbeda dengan Nathaniel atau Jevon yang tak pernah membuatnya seperti itu. Bahkan Jovian diam pun dia suka.
Oh kalian mungkin tak tahu seberapa lama Audrey mencoba menatap kakaknya diam diam di sana. Tentu saja agar tak ketahuan, dia bersembunyi sambil sesekali mengintip mencari tahu apa yang pria itu lakukan.
Audrey melihat Jovian tengah duduk di bangkunya sambil menatap satu foto yang entah siapa. Audrey melihat Jovian yang juga sesekali menunduk memejamkan matanya kemudian kembali menatap foto yang dia pegang di sana.
Siapa yang Jovian lihat? Apa itu kekasihnya?
Asal kalian tahu saja, sepanjang hidupnya bersama Jovian, Audrey tak pernah melihat pria itu mendekati wanita. Atau bersama satu wanita yang mungkin dia kencani. Audrey hanya melihat Jovian yang sesekali membawa wanita saat dia memang ingin. Dan hal itu tak berlangsung lama, kemudian wanitanya kembali berganti.
Jangan tanya bagaimana perasaannya melihat itu. Kalian tahu kan bagaimana melihat seseorang yang kalian sukai bersama wanita lain?
Marah pun dia tak bisa karena Audrey tak punya hak untuk itu. Dia hanya memendam semuanya.
Oh ya tak ada yang tahu perasaannya selama ini. Termasuk Nathaniel. Tak mungkin kan Audrey mengatakan itu pada kakaknya? Mungkin bisa saja Nathaniel membunuhnya karena dia yang tak tahu diri.
Kalian tentu tahu siapa Audrey. Dia hanya gadis biasa yang tiba-tiba diangkat menjadi keluarga karena belas kasih Nathaniel. Ya, itu kenyataan. Dia bukan bagian dari keluarga ini. Nathaniel yang menolongnya sampai detik ini.
Apa jadinya jika tiba-tiba dia mengatakan bahwa dia menyukai Jovian? Tak mungkin kan? Jovian kakaknya.
Audrey hanya bisa meratapi nasibnya. Seharusnya dia bersyukur masih ada yang mau merawatnya.
Gadis itu masih di sana. Dia masih memandangi Jovian yang kini terlihat bangkit dari sana sebelum akhirnya dia menyadari sesuatu.
Awalnya Audrey mengira jika Jovian hanya sendirian di dalam kamarnya. Tapi sampai dia melihat ke sana, Audrey baru sadar jika ternyata Jovian tengah bersama perempuan.
Harusnya dia tak usah mengintip jika pada akhirnya hatinya sakit. Harusnya dia diam saja di kamarnya tanpa harus tahu apa yang sedang Jovian lakukan. Dia sedikit menyesal.
Tapi di tengah dirinya yang masih menatap Jovian yang kini mulai membuka pakaiannya, Audrey yang masih berdiri di sana tiba-tiba saja terkejut saat pandangannya menggelap. Oh bukan, bukan lampu yang tiba-tiba padam, tapi seseorang menghalangi pandangannya.
Siapa? Jangan bilang itu Nathaniel.
Sampai dia mendongak untuk mencari tahu siapa yang menghalangi pandangannya itu.
Oh Jevon. Apa dia melihat Audrey yang dari tadi diam di sana?
"So you like watching porn?"
Maksud Jevon sebenarnya bercanda, tapi dia mengatakan hal itu dengan tatapan datarnya membuat Audrey gelagapan. Oh sejak kapan Jevon ada di sana?
"Eum.. aku-
Brak
Jevon menutup pintunya sampai kemudian menatap Audrey dan kembali berbicara.
"Jangan melihatnya jika tak mau sakit hati."
Huh? Apa? Dari mana dia tahu Audrey melihat Jovian dari tadi? Dan lagi, memangnya Jevon tahu dia merasa sakit atau tidak?
Jangan salah, Jevon bahkan melihat gerak gerik Audrey dari awal. Saat dia bahkan terus memperhatikan Jovian dari pintu.