A Vampire's Love

A Vampire's Love
Capter 50: Perkelahian




"Seharusnya kau tidak membunuh pria itu"


"Sama saja kau membuat Clarita semakin membecimu dan tugasmu akan selesai semakin lama"


Nathaniel hanya bisa mendengar adiknya berbicara dan menasehatinya seperti semuanya kesalahan Nathaniel. Dia terus berbicara setelah kejadian kemarin, saat Nathaniel membunuh pria yang membantu Clarita melarikan diri.


Oh jangan salahkan Nathaniel jika dia membunuh pria itu. Salahkan pria itu yang mau berurusan dengannya. Bukankah dia sudah bilang jangan pernah ada yang mengganggu Clarita? Kenapa pria itu masih keras kepala?


Dan Jovian tentu sudah tahu bagaimana dirinya. Nathaniel tak pernah suka jika ada yang membangkang dirinya. Apa lagi di sini dia pemimpinnya, bukankah semuanya harus menuruti semua perintahnya?


Jovian juga seharusnya tahu jika dia tak suka jika keputusan yang dia buat malah tak didukung oleh adiknya. Nathaniel hanya melakukan apa yang harus dia lakukan. Bukankah dengan melakukan ini, Nathaniel mencegah agar Clarita tak bisa kabur lagi dari sini?


"Kenapa kau menanyakan itu? Ini keputusanku, dan lagi, Clarita pasti akan semakin membencimu." Nada bicara Jovian tak sedikitpun meninggi atau bahkan mengeras. Tapi hal itu entah kenapa membuat Nathaniel benar-benar tak suka.


Jovian adiknya, dan dia tak tahu apapun. Dia tak seharusnya menasehatinya seperti dia yang paling benar. Nathaniel tahu apa yang harus dia lakukan.


"Clarita hanya seorang gadis. Dia manusia, dan dia masih punya hati, Dia punya perasaan."


Huh?


Oh tunggu, kenapa Jovian malah seperti membela Clarita dan malah menyudutkannya? Dan apa tadi? Kenapa dia membawa bawa soal Clarita seorang manusia? Soal dia yang punya hati dan perasaan? Apa Jovian berpikir jika Nathaniel peduli tentang hal itu?


Itu sama sekali bukan urusannya. Clarita sedih atau sakit hati sekalipun, itu sama sekali bukan urusannya. Bukan juga urusan Jovian. Nathaniel menganggap jika pria yang menyelamatkan Clarita sudah menantangnya, dan itu berarti jika dia memang harus mati. Apa lagi berurusan dengan Clarita. Gadis yang seharusnya dia jaga.


Kenapa Jovian harus membahas jika Clarita punya perasaan? Punya hati? Memang apa pedulinya tentang itu?


"Kenapa kau membahas itu?"


Nathaniel masih mencoba menahan emosinya agar dia tak mengeluarkan semua amarahnya di sini. Jovian mungkin memang kadang tak satu pikiran dengannya, tapi kali ini adiknya benar-benar membuatnya kesal.


Kenapa dia tak mendukung Nathaniel dan diam saja?


Sementara di sana, Jevon dan Audrey hanya terdiam. Jevon sesekali melihat Audrey yang melihat kedua kakaknya. Terutama Nathaniel yang paling terlihat emosi di sini.


"Kau memandang manusia terlalu rendah. Mereka mungkin memang lemah, tapi kita juga masih membutuhkan mereka."


"Buktinya kau membutuhkan Clarita untuk melahirkan anakmu nanti kan? Kita membutuhkan manusia agar kita tetap hidup. Tapi kau sama sekali tak menghargai mereka."


"Mereka tak selamanya menjadi sesuatu yang bisa kita tindas Nathaniel, kita tak bisa mengukiri jika kita masih membutuhkan mereka."


Sungguh, Nathaniel yang tadinya berharap jika emosinya bisa dia tahan, kini malah semakin tak bisa terbendung.


Jovian berani berbicara padanya seperti itu? Apa dia baru mengenal Nathaniel kemarin malam? Punya hak apa Jovian berbicara padanya seperti itu?


"Kau mungkin membenci Clarita, tapi kau tak akan tahu apa yang terjadi di kemudian hari. Bahkan sedetik kemudian. Bisa saja kau menelan ucapanmu sendiri saat ternyata kau jatuh cinta pada gadis itu."


Deg


Huh? Apa? Kenapa Jovian berbicara semakin tak masuk akal? Apa maksudnya? Dan kenapa dia malah membahas itu?


Jatuh cinta? Pada manusia?


Oh apa Jovian sedang menyamakan nasib dirinya dulu dengan Nathaniel? Saat dirinya jatuh cinta pada gadis manusia dan akhirnya mereka berpisah karena ditentang ayahnya? Begitu?


Dia mencoba berandai andai jika Nathaniel akan punya nasib yang sama seperti Jovian saat dirinya jatuh cinta pada manusia dan pada akhirnya dia harus menangisi kematian gadis itu seumur hidupnya? Iya?


Maaf saja, pikirannya tentang manusia tetap sama. Detik ini, dan selamanya. Mereka adalah sesuatu yang hanya bisa dimanfaatkan dan ditindas. Bukan untuk dicintai seperti Jovian yang bodoh karena mencintai Elizabeth sampai detik ini.


Dia mencoba menyamakan nasibnya dengan Nathaniel begitu? Oh maaf saja, itu tak akan pernah terjadi.


"Kau mencoba menyamakan nasibmu denganku saat kau bahkan masih menangisi kematian Elizabeth sampai detik ini?"


Dan sekarang, suasana semakin memanas. Jovian awalnya masih tenang, tapi mendengar satu nama itu disebut, raut wajahnya seketika berubah.


Dia bahkan menatap tajam Nathaniel yang baru saja menyebutkan nama itu.


Sementara di sana, Jevon mulai khawatir. Nathaniel dan Jovian sama-sama keras. Ini pasti menjadi masalah besar jika dia diam saja. Pasti keduanya akan bertengkar setelah ini.


"Kenapa kau menyebut namanya?"


"Kenapa? Kau berusaha berandai andai jika mungkin aku akan mencintai Clarita seperti kau yang begitu bodoh mencintai Elizabeth?"


Oh tidak, ini tak bisa dibiarkan. Jevon melihat Jovian yang kini berdiri begitu emosi menatap Nathaniel. Dan dia tahu apa yang mungkin selanjutnya terjadi.


Tidak, Audrey pasti sedih mendengar itu. Dia tak tahu apapun tentang Elizabeth dan pasti kini hatinya hancur karena mendengar semuanya.


"KENAPA KAU MENYEBUT NAMANYA??!!"


Oh tidak, Jevon harus segera membawa Audrey pergi dari sini. Dia tak boleh melihat pertengkaran ini.


Sampai selanjutnya, Jevon memegang tangan gadis itu membuat Audrey menatapnya. Mereka saling menatap sampai beberapa detik kemudian, Jevon memberi kode pada Audrey untuk menunggu di luar.


Gadis itu tak tahu apapun, ini tak seharusnya dia dengar. Mungkin dia akan bersedih setelah ini.


Dan selanjutnya, Audrey menuruti apa yang Jevon katakan. Dia pergi dari ruangan meninggalkan Jevon dan kedua kakaknya yang masih memanas.


"KAU BERANI MEMBENTAKKU?!" Tentu Jovian yang membentak Nathaniel membuat kakaknya tak terima dan ikut berdiri setelah itu.


Jevon tentu tak bisa tinggal diam melihat itu, dia beranjak untuk memisahkan keduanya.


"Jovian, Nathaniel sudahlah."


"Kau membentakku hanya karena manusia itu? Huh?"


"Nathaniel, sudah."


"Ya karena kau terlalu egois menganggap mereka begitu rendah! Kau bahkan tak mau mengakui jika kau masih membutuhkan manusia!"


"Lalu apa masalahmu huh? Jangan samakan nasibmu dengan nasibku. Karena aku tak akan pernah jatuh cinta seperti kau jatuh cinta pada Elizabeth!"


Jevon yang menganggap semuanya mungkin akan selesai, harus kembali terkejut saat kini Jovian mencengkeram kerah baju Nathaniel dan menatapnya begitu tajam.


Sial, apa yang dia lakukan?


"Benarkah? Benarkah kau tak akan menelan ucapanmu sendiri?"


"Jovian, lepaskan Nathaniel!"


"Kau bisa menjamin itu huh?"


"Jovian! Hentikan!" Tapi pria itu sama sekali tak mendengar adiknya sedikit pun.


"Aku selalu memegang ucapanku sendiri." Dan hal selanjutnya adalah, kini Jovian tersenyum sinis di hadapan Nathaniel. Oh benarkah? Baiklah, Jovian akan memegang ucapan kakaknya.


"Baiklah, kita lihat saja, jika sampai kau menelan ucapanmu sendiri, aku akan menjadi orang pertama yang tertawa puas saat kau pada akhirnya jatuh pada gadis itu."


Deg


"Aku akan menjadi orang pertama yang tertawa puas saat kau akhirnya jatuh pada gadis itu."


Jatuh cinta.. pada gadis itu..


Sampai selanjutnya, cengkeraman itu terlepas. Jovian bahkan membanting pintunya setelah keluar dari ruangan itu. Menyisakan Jevon dan Nathaniel yang terdiam di sana. Ya, Nathaniel setelah itu pun tak mengeluarkan suaranya sedikitpun.


Dia terdiam karena perkataan terakhir Jovian yang bahkan masih terpikir di otaknya. Ucapan itu bahkan masih terngiang di kepalanya sampai detik ini. Ya ucapan itu lebih terdengar seperti satu hal yang benar-benar bertentangan dengan apa yang Nathaniel yakini selama ini.


Entah kenapa, dia malah sedikit meragukan semua yang selalu dia yakini dan malah berpikir jika perkataan Jovian mungkin saja bisa terjadi.


Tapi kenapa? Kenapa dia malah memikirkan itu? Bukankah Nathaniel tak akan pernah seperti itu? Manusia bukan sesuatu yang setara dengannya, mereka hanya makhluk lemah yang hanya bisa dimanfaatkan. Jadi kenapa dia harus berpikir jika Clarita mungkin akan membuatnya bernasib sama seperti Jovian?


Tidak, tidak mungkin. Itu benar-benar konyol. Nathaniel tak akan pernah merubah pikirannya.



Halo gyus update nya lamanya??


maafnya author nya lagi sibuk jadi update nya lama??wkwkwk


Sebenarnya author mau crazy up,tapi author gak punya waktu banyak buat crazy up novel ini!!πŸ˜­πŸ˜…


menurut kalian Nathaniel bakal jatuh cinta gk sama Clarita??


Menurut kalian nanti ending nya bahagia apa sed??


Kalu author mah maunya sed ending!!πŸ˜‚