A Vampire's Love

A Vampire's Love
Capter 20: Sakura




"Kau sudah melakukannya?" Audrey bertanya tiba-tiba setelah beberapa menit yang lalu dia melihat Nathaniel yang baru saja keluar dari kamarnya dengan kemeja berantakan yang dia kenakan.


Dia tahu kakaknya habis melakukan apa.


"Dia di kamar, tak sadarkan diri." Huh? Selanjutnya Audrey membelakangkan mata. Tak sadarkan diri? Hey apa yang kakaknya lakukan sampai perempuan itu pingsan?


Oke dia tahu kakaknya tak suka manusia, tapi apa dia juga harus menyiksanya?


"Apa yang kau lakukan?" Dan jawaban kakaknya pun membuatnya menggeleng karena dia tampak tak peduli.


"Gadis itu saja yang lemah."


Gadis itu yang lemah atau Nathaniel yang terlalu kasar?


"Tunggu saja dia sampai bangun, setelah itu periksa apa dia hamil atau ti-


"Kau bisa membunuhnya tahu!" Ujar Audrey. Bukan apa-apa, dia hanya kasihan pada perempuan itu. Ya meskipun pada akhirnya dia akan mati, tapi setidaknya Nathaniel bisa memperlakukannya sedikit lebih baik.


"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan." Kini gadis itu kembali menggeleng sebelum Nathaniel kembali mengeluarkan suaranya.


"Periksa apa dia hamil atau tidak."


Oh Tuhan, bagaimana bisa kakaknya semudah itu? Gadis tadi pasti ketakutan dan Nathaniel bahkan tak peduli karena dia malah memilih pergi dan meninggalkan Audrey di sana.


Dia menyuruhnya untuk memeriksa perempuan tadi kan? Mudah-mudahan tak terjadi apa-apa.


Gadis itu pun melangkahkan kakinya menuju kamar untuk selanjutnya membuka pintu di sana.


Perlahan dia masuk, sampai Audrey mendapati pemandangan yang begitu mengenaskan di sana.


Oh sial, kalian tahu? Kamar itu benar-benar berantakan dengan gadis tadi yang tergeletak begitu saja tanpa sehelai pakaian di ranjang.


Dan dia masih tak sadarkan diri.


Kalian tahu apa yang lebih mengerikan? Ya, semua ini, Nathaniel yang melakukannya.



Semuanya begitu mengerikan saat dia dibawa oleh dua orang pria dengan satu wanita di depannya.


Entah dia mau dibawa kemana, yang jelas dia masih takut.


Setelah kejadian dimana dia tak sadarkan diri, dia bangun dengan keadaan gadis di depannya ini tengah bersamanya. Dan sekarang, dia benar-benar tak mengerti kemana mereka membawanya pergi.


Semenjak itu pun dia tak melihat pria menyeramkan yang menidurinya waktu itu. Sebenarnya mau kemana mereka membawanya? Dan kenapa mereka seperti memaksanya?


Tapi sampai wanita di depannya itu mengatakan hal tadi, kini dia berada di sebuah ruangan dimana di sana terdapat tiga pria yang kini tengah memandangi nya.


Dia tak tahu mereka siapa, tapi dia pernah melihatnya.


Dan dia yakin jika satu pria di tengah itulah yang menidurinya kemarin.


Pria pucat dengan tatapan menyeramkan.


"Kau sudah memeriksanya?"


Dia bersuara dan bertanya pada gadis yang tadi berjalan di depannya. Dia tak mengerti, sampai gadis itu menggeleng.


"Kau harus mencobanya lagi."


Dia yakin dia melihat ada amarah sekaligus kekecewaan dari raut wajah pria itu meskipun tatapannya masih sama seperti biasa. Dan dia sedang mengira-ngira apa yang akan terjadi padanya setelah ini.


"Jovian." Lagi, dia bersuara. Dan untuk beberapa detik, semuanya hening sampai dia kembali mengucapkan dua kata yang membuat jantungnya terhentak begitu saja.


"Kill her."


Deg


Oh hey, apa dia bilang? Tidak, tidak. Apa salahnya? Dan kenapa dia harus dibunuh?


Jantungnya semakin berdebar saat pria yang dipanggil Jovian itu sudah mendekatinya.


Percuma, percuma dia memberontak karena kini dia tak bisa melakukan apapun sementara yang lainnya hanya menonton.


Sungguh dia benar-benar takut saat pria itu menatapnya dengan surai yang mulai memerah di sana.


Tak ada kata apapun sampai pria itu kini memegang kepalanya lalu menyingkirkan helaian rambut panjangnya ke samping.


Dan satu-satunya yang dia rasakan selanjutnya hanyalah sakit yang luar biasa saat lehernya seperti ditancapkan sesuatu. Tidak, bukan hanya itu, lehernya seperti dirobek.


"ARGHHHH!"


Dia mengerang keras dan masih berusaha memberontak meskipun semuanya seperti percuma. Rasa sakit itu masih ada dan itu semakin bertambah karena kini dia mulai melemas.


Masih terlihat semua orang di sana hanya menontonnya tanpa sepatah katapun meskipun pandangannya mulai menggelap dan terjatuh ke lantai. Mereka masih diam.


Dan faktanya mereka memang tak peduli. Mereka benar-benar tak peduli melihat wanita lemah itu. Meskipun dia bersimbah darah dengan luka yang menganga di sana.


Bukankah pria itu sudah bilang kalau dia hanya butuh bayinya saja? Tentu, kalau perempuan itu tak berguna, lalu untuk apa dibiarkan hidup?