
Bukannya merasa takut pada Nathaniel, gadis itu malah kembali menatap pemimpinnya seperti sebelumnya.
Apa Clarita benar-benar ingin mati sekarang?
"Seharusnya aku yang bertanya padamu."
Lihatlah, Nathaniel kembali menggelap.
"Memangnya kau siapa huh?"
Oh ya sudah bisa dipastikan Clarita mati hari ini.
"Bukankah kau yang merebut semuanya dari kami?"
"Kau yang siapa!" Gadis itu menjeda kalimatnya untuk beberapa saat.
"Ya aku memang tidak lebih kuat darimu. Tapi aku bersumpah, aku sama sekali tak takut padamu."
Oke, sudah tak ada lagi maaf untuk gadis ini. Dia sendiri yang meminta, jadi jangan salahkan Nathaniel jika setelah ini dia menghabisi nyawanya.
Sampai detik berikutnya, Clarita kembali merasakan sakit dan sulit bernafas saat lagi-lagi Nathaniel kembali mencekiknya.
"Ah!"
Tapi kali ini dia benar-benar menekannya sangat kuat sampai Clarita bahkan sedikitpun tak bisa bernafas.
Semuanya juga percuma meskipun dia meminta dan mencoba melepaskan. Dia terlalu kuat untuk manusia biasa sepertinya. Apa hidupnya akan berakhir sebentar lagi?
"Kau tahu? Aku benar-benar sudah muak."
"Aku sudah bilang jika berurusan denganku adalah hal yang salah."
"Kau yang memulai, dan aku akan dengan senang hati menerima tantanganmu."
Sungguh, Clarita sudah tak bisa menahan semuanya. Mungkin nyawanya hanya tersisa di lehernya saja.
Baiklah, mungkin ini terakhir dia berada di sini. Tak apa, dia masih bersyukur karena Tuhan masih baik padanya mempertemukan Clarita dengan Ryan meskipun hanya sekejap.
Tapi setidaknya, dia mungkin bisa mati dengan tenang jika kekasihnya memang masih hidup.
Baiklah, akhiri saja semuanya.
Tapi sebelum semuanya benar-benar hening, seulgi yang masih bergerak sampai sisa tenaga terakhirnya, dia malah mendengar suara pintu yang dibuka kasar disusul oleh teriakan seorang gadis dari pintu tadi.
"NATHANIEL AKU BILANG HENTIKAN!"
Tapi Clarita masih tak merasakan jika pria itu akan melepaskannya.
"NATHANIEL KAU AKAN MENYESAL SEUMUR HIDUPMU JIKA KAU MEMBUNUHNYA!"
Sampai kalimat itu diucapkan, seketika Clarita merasakan tubuhnya yang jatuh begitu saja ke lantai dan nafasnya yang kembali setelah pria itu melepaskan cengkramannya.
Seulgi tak tahu dia siapa tapi yang jelas, dia bersyukur.
Sementara Nathaniel yang masih dirundung emosi kini menatap gadis yang tiba-tiba datang bersama satu pria itu. Audrey dan Jevon.
"Jangan sampai aku menyesal karena tak membunuhnya."
Dia menunggu penjelasan adiknya yang berani menghentikannya.
"Tidak, dia yang akan menyelamatkanmu." Dan kini terlihat ekspresi tak mengerti di wajah Nathaniel.
"Dia, dia yang akan melahirkan bayimu."
"What did you see Audrey?"
Di sana, Nathaniel, Jevon dan Jovian tengah berkumpul dengan mereka yang terlihat sedang menginterogasi Audrey. Ya tentu, kalian tak lupa kan jika gadis itu yang menghentikan Nathaniel saat ingin membunuh gadis yang dia benci beberapa waktu lalu?
Dan Nathaniel merasa butuh penjelasan karena keanehan Audrey yang tiba-tiba. Apa yang membuatnya seperti itu?
"Jangan membuatku marah dan menyesal karena tak jadi membunuhnya."
"Tidak." Di sana sama sekali tak ada keraguan yang Audrey tunjukkan saat kakaknya bahkan terlihat menatapnya serius. Audrey jarang melihat Nathaniel menatapnya seperti itu. Dan mungkin dia tahu alasan kenapa kakaknya begitu tak terima. Nathaniel benci gadis itu tapi Audrey bahkan malah mengatakan hal yang membuatnya tak menyangka.
Jevon dan Jovian hanya bisa mendengarkan mereka berdua.
"Dia akan menyelamatkan mu." Nathaniel terlihat mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Gadis itu terdiam mengingat apa yang baru saja datang di mimpinya. Oh bukankah dia sudah bilang jika hal-hal seperti itu sering muncul tiba-tiba? Bahkan di saat tak terduga sekalipun. Dan itu benar-benar terjadi saat Nathaniel bahkan hampir membunuh gadis itu. Bagaimana jika gadis itu ternyata sudah dia bunuh? Apa yang akan terjadi?
"Aku melihat gadis itu." Ya dia masih mengingat bayangan yang dia dapat sementara mereka bertiga mendengarkan.